The God of War

The God of War
Sayembara



Berita dan undangan akan sayembara dari kekaisaran Nobuhide sudah disebarkan ke seluruh penjuru negeri. Dan hanya tinggal menantikan saja waktu yang telah ditetapkan itu tiba.


Kini musim panen telah tiba, pagi ini halaman istana kekaisaran Nobuhide terlihat sudah begitu ramai. Para pangeran dan ksatria dari berbagai penjuru istana telah datang untuk memenuhi undangan dari sang kaisar Yoshinao Nobuhide untuk mendapatkan putri Matzu.


Bahkan para rakyat juga diperbolehkan datang untuk menyaksikan sayembara ini. Keluarga istana juga memberikan pelayanan untuk mereka semua tanpa membeda-bedakan kastanya. Seperti pelayanan makan gratis dan sepuasnya atau masih banyak lainnya lagi.


Dalam pelaksanaannya kali ini bukanlah sang kaisar Yoshinao Nobuhide ataupun putri Matzu yang akan menentukan sang pemenang, namun para ksatria dan para pangeran itu sendirilah yang akan menentukan apakah mereka layak untuk dipilih atau tidak.


Karena sayembara yang akan diselenggarakan atas saran dari panglima perang Zhou kali ini bukanlah hanya berdasarkan kekuatan saja, melainkan hati dan kejujuranlah yang paling utama.


Jika biasanya pemenang sayembara akan ditentukan oleh sang kaisar dengan memilih salah satu di antara daftar para peminang setelah melaksanakan berbagai syarat tertentu. Namun tidak untuk sayembara kali ini.


Di dalam sayembara ini para ksatria dan pangeran itu akan memperebutkan puteri Matsu dengan sebuah sayembara yang begitu unik. Yaitu mereka akan diuji dengan dengan sebuah hal sepele.


Kini para ksatria dan pangeran sudah menempati tempatnya masing-masing. Duduk dengan kursi yang terbuah dari emas campuran perunggu pada bagian-bagian tertentunya. Dan mereka duduk melingkar dengan sang kaisar yang duduk di tengah-tengah singga sananya.


Sedangkan Zhou masih lengkap dengan pakaian zirahnya duduk tak jauh dari sang kaisar, hanya saja kali ini Zhou mengenakan kain untuk menutupi wajah bagian bawahnya, agar jika dia bertemu dengan Zeus, maka Zeus tak akan mengenalinya.


Sebelum menjelaskan bagaimana pelaksanaan sayembara kali ini, para pelayan istana mulai menjamu para pangeran dan ksatria dengan hidangan mewah dan lezat. Serta tarian kuno yang ditarikan oleh para penari istana yang cantik jelita.


Sepasang netra Zhou menangkap satu titik dengan sangat tajam. Meskipun wajah bagian bawahnya tertutup oleh kain hitam, namun hanya dengan melalui sepasang mata itu, sangat terlihat jika dia sedang menahan dirinya untuk tetap tenang. Bahkan sepasang tangannya juga sudah mengepal kuat untuk menahan amarahnya.


Yeap, Zhou melihat sosok Zeus yang sedang duduk dengan gaya arogannya sambil menikmati makanan istana. Sesekali Zeus juga terlihat menggoda beberapa penari wanita itu.


Setelah beberapa saat, kini salah satu penyelenggara sayembara kini mulai menjelaskan bagaimana sayembara kali ini akan segera dimulai.


"Pangeran dan ksatria yang kami hormati. Kalian semua sudah terpilih karena sudah berada di istana Nobuhide hari ini. Namun, untuk mencari seorang ksatria yang layak untuk menikahi putri Matzu, maka kali ini kaisar memutuskan untuk memberikan tugas untuk para kesatria dan pangeran yang hadir disini. Aku akan memberikan kalian masing-masing sebuah biji tanaman. Tugas kalian adalah membuat biji tanaman itu tumbuh menjadi sebuah pohon. Yang pohonnya tumbuh paling baik, dialah pemenangnya. Dan dialah yang berhak untuk menikahi putri Matzu."


Jelas Ranmaru, sang penasehat istana Nobuhide yang saat ini mewakili sang kaisar untuk menyampaikan peraturan sayembara kali ini.


"Setelah kalian menanam dan merawat tananam ini selama 3 bulan, maka bawalah kembali tanaman ini ke istana Nobuhide. Disaat itulah Yang Mulia Kaisar Nobuhide akan menentukan sang pemenang." imbuh Ranmaru lagi. "Apa ada pertanyaan?"


Para pangeran dan ksatrian itu mulai ricuh, karena sayembara ini tidak dijalankan seperti kebanyakan sayembara pada umumnya. Dimana pertarungan otot dan kekuatan? Dimana pertarungan pedang? Mungkin seperti itulah yang ada di benak para pangeran dan ksatria itu.


"Lalu apakah tidak ada pengujian lainnya? Seperti duel dengan katana atau ujian lainnya?" tanya pangeran itu.


"Tidak ada, Pangeran Komei dari kekaisaran Motochika.. Seperti yang sudah aku jelaskan, sayembara kali ini hanyalah dengan menanam pohon saja." jawab Ranmaru dengan ramah dan mengusap jenggot putihnya yang panjang.


"Apa kalian sedang menghina kami? Kami adalah para pangeran dan ksatria yang kuat! Namun kalian malah melakukan sayembara menanam pohon? Ini sungguh tidak masuk akal!" kali ini Zeus mulai berbicara.


"Benar sekali apa yang dikatakan oleh pangeran Zeus! Jika hanya menanam pohon saja, pastinya orang bodoh, miskin dan bukan keluarga istana juga bisa melakukannya dengan baik! Sayembara macam apa apa ini?!" timpal pangeran lainnya lagi sependapat dengan Zeus.


"Ya! Aku setuju dengan mereka!! Ini sama saja telah menghina kami dan kalian juga tidak menghargai kami sebagai seorang pangeran!" tandas pangeran lainnya lagi.


Ranmaru dan kaisar Nobuhide yang mendengarnya hanya tersenyum tipis saja mendengar para pangeran dan ksatria yang kurang menyetujui sayembara kali ini.


Padahal para pangeran itu sudah datang dengan membawa senjata kebanggaannya masing-masing, dan mereka sudah bersiap untuk memamerkannya di hadapan semua orang. Namun rupanya malah zonk.


"Pangeran Zeus, Pangeran Mutzuhito, Pangeran Araki. Pelaksanaan sayembara ini sudah disepakati oleh seluruh anggota istana Nobuhide dan tidak bisa diganggu gugat. Dan lagi, kami begitu mempercayai dan memahami jika kalian para pangeran tentunya sangat kuat dan tak terkalahkan, maka dari itu kami ingin melakukan pengujian lainnya." jawab Ranmaru dengan bijak.


"Apakah masih ada pertanyaan lainnya lagi?" imbuh Ranmaru sambil menatap para pangeran dan ksatria secara bergantian. "Jika tidak ada, maka kami akan membagikan biji tanaman itu untuk kalian." ucap Ranmaru lagi.


Tak ada jawaban dari para pangeran itu lagi, hingga akhirnya Ranmaru meminta Zhou untuk segera memberikan biji tanaman itu untuk para pangeran.


Zhou ditemani oleh seorang pelayan istana yang membawakan sebuah wadah besar, di dalamnya sudah ada bingkisan-bingkisan kecil yang berisi dengan biji tanaman maple Jepang. Zhou melenggang membagikan biji maple Jepang itu untuk para pangeran itu satu persatu.


Hingga kini tibalah Zhou memberikan biji maple Jepang itu untuk Zeus. Pandangan mereka sempat bertemu selama beberapa saat. Zhou masih menatap dingin dengan aura mematikan, namun berbeda dengan Zeus.


Zeus menatap Zhou dengan tatapan penuh keheranan dan tak mengerti karena mendapatkan tatapan itu dari Zhou. Namun aura congkak dari seorang Zeus masih terlihat begitu kental dan selalu sama saja! Tak pernah berubah!


Ada apa? Mengapa panglima Zhou menatapku seperti ini? Tatapan penuh intimidasi ini ... sepasang mata kecoklatan ini ... mengapa rasanya sangat tidak asing? Dan mengapa dia memakai penutup wajah seperti ini?


Batin Zeus yang masih menatap Zhou dengan sepasang mata yang memicing.