
Mika memasang badan dengan dua belatinya ia membabat habis salah satu dari mereka. Membakarnya habis dengan menempelkan rune sihir di ujung belatinya pada kening Burong Tujoh.
"Not bad Mika!" Seru Sari sambil melayani serangan Burong yang lain.
Bimasena dan yang lain juga berhasil menghabisi dengan mudah tinggal satu Burong yang masih meronta dalam pagar gaib.
"Cuma segini kemampuan mereka aunty? Bikin kotor tanganku aja!"
Sari tergelak, "Wah, lihat siapa yang ketagihan. Tadi kayaknya takut sekarang malah nantangin?"
"Aunty meremehkan kemampuanku, sekelas iblis tingkat pangeran aja aku mampu mengalahkannya!" Mika sedikit pamer dengan kemampuannya.
"Ya, ya … aku yakin sekali dengan kemampuanmu Mika."
Hawa tak biasa menekan udara di tanah lapang itu. Sari bersiaga, si pemilik Burong Tujoh pasti tak rela anak buahnya mati terbunuh. Suara gumaman terdengar menggaung, mantra pemanggil roh.
"Hati-hati Mika, pemiliknya datang! Tidak sendiri tapi beberapa juga datang membantu!"
Suara dalam bahasa daerah itu terus terngiang dan bergumam. Lelembut berjenis wanita yang menjadi Burong kembali berdatangan. Termasuk si dukun hitam datang menantang.
"Dia pemiliknya?" Mika mengerutkan dahi tak menyangka jika sang dukun masih sangat muda, mungkin seusia Mika.
"Kenapa? Heran? Banyak anak muda sekarang yang alih profesi Mika. Mau coba?"
"Are you serious, aunt Sari?" Mika menatap kesal pada Sari.
Sari hendak menjawab tapi keburu salah satu dari Burong itu menyerangnya. Kali ini mereka tidak main-main. Kekuatan Burong yang datang bersama dukun hitam itu sedikit berbeda.
Sari berbicara dengan Mika lewat pikirannya. Tujuannya mengalahkan dukun hitam yang telah membuat Santi kehilangan nyawa. Sari geram saat melihat senyum mengejek dari dukun muda yang sialnya tampan itu.
Kalahkan mereka dengan cepat Mika dan sisakan dukun itu untukku!
Mika bergerak cepat, seperti saat menghabisi para maroz. Merobek, menusuk dan memenggal kepala para Burong lalu membakarnya habis. Ia tak lagi peduli dengan wajah mengerikan dan bau busuk dari lelembut wanita yang awalnya membuat Mika shock.
Dukun hitam itu memperhatikan Sari dari kejauhan. Ia geram karena Sari dan Mika berhasil menghabisi burong-burong kesayangannya.
"Sialan, b*ngsat! Beraninya mengusikku!"
Sari menatap si dukun setelah berhasil memenggal salah satu Burong dengan pedang miliknya.
"Mengusikmu? Siapa yang membuat perkara terlebih dahulu?"
"Apa urusanmu datang kemari?" Dukun itu memperhatikan Sari dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Cantik sekali! Apa kau ingin bekerjasama denganku? Atau menjadi istriku?"
Ccck, dasar dukun sok ganteng! Beraninya menggoda aunty Sari!
Mika mengumpat dalam hati sambil melayani serangan Burong yang tersisa. Sari berjalan semakin mendekati si dukun. Ia mengarahkan pedangnya tepat di jantungnya.
"Hutang nyawa dibalas nyawa! Kau membuat perkara dengan membunuh temanku! Mempekerjakan Burong untuk ritual ilmu hitam itu sangat menjijikkan!"
Mata Sari berkilat kemerahan, energinya perlahan meluap. "Waktunya membayar tunai perbuatanmu!"
Dukun hitam itu bersiap, energi hitam terkumpul di depan dadanya. Bersiap mengarahkannya pada Sari, dalam sekali hentakan bola sihir kehitaman itu melesat menghantam Sari. Sengkayana melindungi Sari dengan perisai kemerahan.
Sari mengejek dukun itu, "Hanya ini?" Sari menyerang balik dengan mengembalikan sihir hitam milik si dukun.
"Jangan harap aku mengampunimu!" Sari berteriak menghentakan kakinya ke tanah, melompat dengan cepat untuk menebas tubuh sang dukun. Tapi sesuatu menghalanginya.
"Jangan harap bisa menghalangi Dewi kematian para lelembut!"
Sengkayana memijar, mengalirkan energi panas pada kedua sosok yang mengeluarkan suara aneh. Dalam sekejap mereka lebur menjadi abu yang diterbangkan angin.
"Ada lagi stock lelembut lain?"
"Jangan senang dulu!" Dukun hitam yang cukup tampan itu merapalkan mantra khusus. Sari tak mengerti dengan mantra yang rapalkannya karena diucapkan dalam bahasa daerah.
Bimasena berbisik, "Dia memanggil sekutu yang lain! Awasi pijakanmu dengan baik!"
"Sakti juga dia!" Sari melirik ke arah Mika yang berdiri dengan kedua belati di tangannya. "Perhatikan tanah di sekitarmu Mika!"
Mika mengikuti petunjuk Sari, ia memperhatikan pergerakan di dalam tanah yang tertangkap mata tak biasanya.
Apa itu? Sesuatu berjalan disana!
Mika tidak menyadari pergerakan tanah di belakangnya. Tanah merekah, tulang belulang mulai bermunculan dari retakan tanah itu. Lama kelamaan membentuk kerangka tanpa daging.
Bukan hanya satu tapi puluhan. Bunyi tulang beradu membuat siapa pun yang mendengarnya bergidik ngeri.
"Mika! Dibelakangmu?!" Sari berteriak dan segera berlari melindungi Mika yang hampir saja tertebas parang panjang yang dibawa lelembut berbentuk tulang itu.
Sengkayana meleburkan tulang dengan mudah. Tapi itu hanya sementara, sosok lain kembali muncul dari dalam tanah.
Mika berhasil meleburkan satu kerangka yang belum berhasil membentuk tubuh dengan utuh.
"Aunty, apa kita sedang syuting film?" Mika bertanya setelah menancapkan salah satu belatinya pada tulang tengkorak yang menyeringai menyebalkan padanya.
"Seperti ada di film pirates kan? Kau senang Mika?" Sari menjawab, tangannya sibuk membalas serangan lelembut tulang dengan membakarnya sempurna.
"Bimasena, Kandra lindungi Mika!" Bimasena langsung mendekat dan membantu Mika.
Tanah lapang itu dalam sekejap bagai lautan tulang belulang, dengan Sari dan Mika berada di tengahnya. Layaknya adegan film pasukan tulang buatan dukun hitam itu terus bermunculan dari dalam tanah.
Musnah satu muncul baru. Pasukan lelembut yang dibangkitkan dari dalam tanah. Cahaya kemerahan terlihat muncul dari dalam lubang berongga di bagian mata tengkorak.
Dukun hitam itu tertawa, Sari menatapnya dari kejauhan. Ada energi tipis milik Airlangga yang sangat ia kenali ditubuhnya.
"Aneh, ada sisa energi Airlangga. Apa dukun itu juga ikut membantu Airlangga meloloskan diri?"
"Aunty, kita butuh rencana!"
Mika berteriak sambil terus membabat dan menghancurkan rangkaian tulang belulang yang terus menyerangnya.
"Aku tahu Mika, aku sedang memikirkannya!" Gumam Sari seraya memperhatikan sekeliling.
Sari menyeringai pada sang dukun, kekuatan pasukan tulang ada pada mantra yang terus dirapalkannya. "Kau membuka kelemahanmu sendiri,"
"Mahesa, Abiyaksa, bantu aku menghadapi tulang-tulang sialan ini!"
Mahesa dan Abiyaksa merangsek maju melindungi Sari. Menghabisi tulang-tulang nakal yang hendak menyentuh tubuh tuannya.
Sari berjalan mendekati si dukun yang memejamkan mata. Ia tidak menyadari jika sang Dewi kematian mendekat. Mantra kuno miliknya terus ia ucapkan lirih, membangkitkan kembali tulang-tulang yang berserakan.
Sari yang gemas, melemparkan bola energi pada dukun hitam itu. Sayangnya dukun hitam yang masih memejamkan mata itu dilindungi perisai tipis yang mementahkan serangan Sari.