Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Sesekali Gratis



Lelembut yang bersembunyi itu masih belum mau keluar dan memilih mengintip. Sari sedikit kesal karena ia sendiri tidak memiliki waktu banyak.


"Keluarlah,"


Rupanya lelembut itu masih bandel tidak mau menuruti perintah Sari. Dia masih betah bersembunyi dan memilih menghindar.


"Cck, aku sudah mengingatkan padamu!"


Sari berjalan perlahan mendekati lelembut yang kini tak berani menampakkan diri. Ia sedikit berjongkok untuk melihat sosok di balik tumpukan pakaian.


"Keluar! Hari ini aku sedang berbaik hati malas ngadepin setan macam kamu!" Sari berkata dan mengedikkan kepala memberi kode pada lelembut itu untuk keluar.


Perkataan Sari rupanya membuat sosok wanita pendek berwajah hancur itu menurut. Ia keluar perlahan menampakkan dirinya yang tak sempurna. Tubuhnya bahkan hanya setengah saja, sebagian wajahnya remuk dan matanya nyaris keluar. 


Sari memejamkan mata sejenak menahan rasa mual yang mengaduk perutnya. Sosok yang menyeramkan dan tak enak dipandang. 


"Baiklah, begini lebih baik! Siapa yang menyuruhmu disini?" tanya Sari lagi.


Sosok itu tidak menjawab, ia hanya menatap Sari dengan mata nyalang antara marah dan takut. Sari benci situasi seperti ini. 


"Cck, jangan mengulur waktu! Kamu bikin saya kehilangan selera makan!" gerutu Sari yang mulai tak sabar.


"Pulang deh, tunjukin siapa yang kirim kamu kesini! Kasian itu si masnya dagangan sampe nggak laku begini!"


Lelembut itu menggeleng pelan, 


"S-saya takut …," katanya setengah bergumam tak jelas.


Sari berdecak kesal, "kenapa emang kamu takut? Takut mati? Kan emang kamu dah mati, lupa?"


"Kontrak saya belum selesai, saya nggak bisa pulang!" jawabnya kembali bergumam tak jelas. Untung saja Sari memahami perkataan lelembut itu.


"Emang kamu dikontrak berapa episode, sampai nggak boleh pulang sebelum waktunya?" tanya Sari lagi dengan menahan geram.


Lelembut itu tidak mau menjawab, Mungkin itu informasi sensitif yang harus ia jaga. Semacam kode etik para lelembut dan tuannya.


"Aah sudahlah! Nggak perlu dijawab saya dah tahu, sekarang kamu ikut saya nurut! Atau kamu mau habis sekarang?!"


Sari mengancam lelembut itu dengan tegas, tapi sayangnya lelembut itu tak bergeming dari tempatnya. Ia hanya menoleh ke kiri, membuang jauh wajah rusaknya.


"Ooh disana rupanya!" gumam Sari lirih, memahami maksud sosok mengerikan itu.


"Baiklah, tunggu sebentar disini!" pinta Sari pada sosok berbadan setengah yang kembali menatapnya.


Lapak milik Arya diselimuti tabir gaib yang menutup mata biasa agar tidak terlihat. Kabut tipis keluar dari tanah yang mengelilingi lapak, Sari melihat buhul gaib yang ditanam oleh seseorang.


Bapak tua dengan luka di tangan, datang mengendap endap di tengah malam. Ditangannya ada bungkusan plastik hitam, setelah celingukan dan merasa aman, bapak tua itu menggali sedikit tanah tepat di depan lapak Arya. Mulutnya berkomat kamit merapalkan mantra lalu meludah di atas bungkusan putih dan menutupnya dengan tanah lagi.


Sari berjongkok mencari posisi buhul dari rembesan energi yang keluar dari dalam tanah. 


Tangannya bergerak tanpa menyentuh tanah seketika lapisan tanah yang berada dibawah Sari bergerak perlahan dan menyembul kain putih lusuh dengan aroma busuk menyengat.


"Udah ketemu beb?" Doni berjongkok di sampingnya.


Rupanya Doni juga melihat sosok lelembut buruk rupa yang mengintip dari balik tumpukan pakaian.


"Hmm, bau banget! Kamu bisa ambil nggak, beneran aku nggak kuat, mual!"


Sari menjauh, Indra penciumannya yang sensitif terganggu dengan aroma tidak sedap dari buhul gaib yang ditanam.


Doni yang penasaran membuka kain putih yang kotor dan lusuh itu. Bangkai anak ayam dan bunga yang membusuk, ada rajah yang disematkan dalam buhul itu. Sebuah perjanjian dengan lelembut penjaga.


"Bakar beb!" pinta Sari dengan kode pada Doni.


Untungnya suasana sepi dan lengang hingga apa yang dilakukan Sari dan Doni tidak begitu menarik perhatian. Sari sengaja memasang pelindung agar tidak ada yang mengganggu dirinya saat melakukan penarikan.


Arya tidak bisa mengatakan apapun, ia bagai kerbau yang dicocok hidungnya. Tidak bicara, menurut dan diam. 


"Saya nggak nyangka mas," ujarnya lirih saat Doni membakarnya.


"Lebih baik mas segera mencari kyai buat ruqyah ini tempat. Kami cuma bisa membantu sebisanya, takutnya besok di pasang lagi!" Doni menyarankan pada Arya untuk segera membersihkan lapaknya dari hal yang tidak semestinya.


"Nggih mas, matur nuwun sanget! Nggak ngira lho saya malah mas sama mbak cantik ini bantu saya!"


"Jangan girang dulu, pake ongkos ini!" Doni menyeringai.


"Eehlah, kirain gratis mas!" sahut Arya menggaruk kepalanya bingung.


Sari dan Doni terkekeh melihat ekspresi Arya. "Bercanda mas, kami ikhlas kok!"


Sari beralih pada sosok menakutkan yang masih terpaku di sebelah Arya.


"Kembali pada tuanmu, perjanjian itu sudah rusak! Jangan kembali lagi kesini, kalau sampai kita bertemu lagi aku nggak janji bakal diem aja!"


Lelembut itu mengangguk dan menghilang. Sari kemudian menetralkan pengaruh negatif di lapak Arya, membersihkan dari mantra gaib yang dikirim untuk merusak usaha. 


"Untuk sementara aman, mas Arya nanti siramin air doa ini ya ke sekeliling!" Sari menyodorkan sebotol air mineral yang telah berisi mantra penangkal darinya.


"Nggih mbak!"


"Kami pergi dulu mas, masih ada urusan! Selamat berjuang ya, semoga sekarang laris lagi dagangannya!" pamit Doni seraya menarik tangan istrinya meninggalkan tempat itu.


Sari mengangguk samar pada sosok lelaki muda dengan baju lurik yang muncul sesaat setelah ia berpamitan pada Arya. Lelaki misterius yang berbisik padanya, entah siapa dia dan apa hubungannya dengan Arya yang jelas Sari merasakan jika mereka akan bertemu lagi.


Coba kalo nggak dia bisikin, kan lumayan bisa kasih tarif buat belanja di mall!