Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Menjajal Kemampuan



Sari dan Mika berjalan menembus kabut tipis yang turun bahkan ketika senja belum memulai kuasanya. Pemandangan hutan Pinus di kanan dan kiri yang lembab, sunyi dan sepi terasa begitu mencekam.


"Aunty, ada pagar pelindung di depan kita!" Mika mendeteksi garis pembatas tak kasat yang entah dibuat oleh siapa.


"Apa kau melihat pergerakan dalam pagar itu Mika?"


Mata Mika berkilat merah, ia melihat ada beberapa yang bersembunyi dalam kabut. "Lumayan, kita masuk?"


Sari dan Mika berhenti tepat hanya beberapa jengkal dari pembatas gaib. Tangan Sari menyentuh dinding tak kasat, pendar hitam muncul begitu saja saat tangan Sari menekan. Tak ada reaksi yang menyakitkan seperti biasa.


Mika dan Sari saling memandang, "Nggak ada energi kejut or something?" Mika penasaran.


Sari menggeleng, "Cobalah!"


Mika melakukan hal yang sama persis dengan yang Sari lakukan, dan benar saja tidak terjadi apapun. "Ini sedikit aneh?"


"Nggak juga, barrier yang tercipta di pinggiran kota Yogyakarta juga seperti ini. Bedanya barrier itu menghalangi manusia seperti kita masuk,"


"Maksud aunty, barrier ini dibuat untuk menghalangi lelembut masuk?"


"Hhm, bisa jadi mereka tahu kita memiliki pasukan dari bangsa lelembut. Ini menandakan mereka lemah, atau berjumlah sedikit. Jadi mereka ingin kita menghadapi mereka tanpa bantuan lelembut lain."


"Seperti para penjaga, Bimasena dan Abiyaksa?" Mika memperjelas perkataan Sari.


"Betul! Kita bisa mencoba masuk," Sari melangkah ke dalam pagar dan tak terjadi apapun, begitu juga dengan Mika.


"Bimasena, bisakah kau mengikuti kami!" Perintah Sari kemudian.


Bimasena dan Abiyaksa muncul, mereka saling memandang dan bersama-sama melangkahkan kaki. Benturan energi terjadi dan melemparkan keduanya. Sari tidak terkejut.


Kedua penjaga Sari kembali mencoba masuk, kali ini mereka setengah berlari. Kembali lagi, mereka bagai menabrak dinding tebal. Tanah sedikit berguncang, seperti gempa kecil. Benturan keras itu membuat Bimasena terluka.


"Cukup, kalian berjaga diluar sana! Kami akan kembali dalam lima belas menit!" Sari menatap penjaganya sebelum ia berlalu meninggalkan mereka diluar pembatas gaib.


"Mika, lihat dengan jelas di sekeliling kita. Aku yakin mereka sudah mencium kedatangan kita."


Mika menarik kedua belatinya, sementara Sari memilih Sengkayana. Mereka berjalan perlahan dengan menyapu keadaan sekitar. Jalanan yang tertutup kabut sedikit menyulitkan langkah kedua wanita luar biasa itu.


Hening dan begitu sunyi sama seperti suasana di luar sana. Tak ada satu hewan yang berani keluar. Hawa mistis begitu kental terasa. Menekan dan menyesakkan dada seolah oksigen tak lagi tersisa.


Pergerakan mulai terlihat, kelebatan bayangan berpindah cepat dari satu pohon ke pohon yang lain. "Mereka datang!"


Bayangan hitam itu semakin mendekat hingga akhirnya, 


"Aaarrgh!" 


Sulur hitam panjang menarik tangan Mika tiba-tiba, dengan cepat Mika memotong sulur yang mengikat kuat dengan belati tajam miliknya.


Sisa sulur hitam yang menggantung di tangan Mika menggeliat seperti cacing kepanasan, Mika dengan cepat mengibaskannya ke tanah. 


"Dibelakang mu Mika!" 


Mata tak biasa Sari mendeteksi kehadiran makhluk kegelapan, Mika segera berbalik menyilangkan kedua belatinya dan melukai bayangan hitam yang kembali hilang dalam kabut.


"Aunty kabut ini menghalangi pandangan kita!"


"Kabut ini pelindung mereka Mika!" Sari berfikir sejenak, lalu ia berhenti dan meletakkan Sengkayana tegak lurus di depan dada. Selarik mantra sihir Sari ucapkan.


Kedua tangannya bergerak memutar membuat lingkaran, matanya bersinar kemerahan lalu dengan satu kibasan tangan.


WUUSHH!!


Kabut tebal menghilang, menampakkan empat orang dengan mata hitam sempurna dan gigi tajam menyeringai pada keduanya.


"Hanya empat? Dan menghabisi sebagian warga desa?!" Ucapan Mika terdengar sarkas ditelinga Sari.


"Hhm, mungkin mereka lapar atau mungkin terlalu bersemangat!" 


Sari melompat menerjang Slamet yang menyeringai padanya. Tangan kanannya berubah, membelah seperti sulur pohon berwarna kehitaman yang mengejar Sari.


Sari berkelit memutari tubuh Slamet, memukul punggungnya dengan gagang Sengkayana. Sedikit aliran panas ia berikan sebagai sapaan perkenalan. Slamet meraung punggungnya terluka akibat panas Sengkayana.


Ia marah dan berbalik menatap Sari dengan mata melotot dan seringai mengerikan. Lidah panjangnya terjulur menggeliat seperti ular.


"Iiiyuuuh, kau menjijikkan sekali!"


Slamet kembali menyerang Sari, tapi Sengkayana menyambut tubuhnya dengan sekali tebasan. Luka memanjang yang hampir membelah tubuhnya membuat Slamet terkapar. Ia menggelepar sejenak ditanah lalu terdiam. 


Asap tipis kehitaman keluar dari tubuhnya membentuk sosok iblis bertanduk, Sari tak memberikan kesempatan. Sengakayana meleburkan  asap itu menjadi debu. 


"Persis seperti iblis versi Nergal," gumam Sari.


Mika sibuk menghadapi sosok Minto yang menyerangnya dengan sulur hitam secara membabi buta. Beberapa kali belati tajamnya berhasil memotong sulur itu, tapi sulur itu kembali muncul dan tumbuh tanpa henti. Ia melirik Sari, belatinya yang pendek dirasa tidak menguntungkan seperti Sengkayana milik Sari yang cukup panjang.


Mika harus melompat lebih dekat dengan Minto untuk bisa melukainya. Sulur hitam menangkap tangan kanan Mika, ia tersenyum sinis. "Waktunya serius!"


Mika memutar lengannya, menarik sulur hitam yang mencengkram kuat lalu dengan sekuat tenaga menarik dan membanting Minto keras ke tanah. Menancapkan belati tepat di jantungnya.


Cairan kental hitam keluar dari mulutnya, mata Minto terbelalak. Ia meraung aneh, Minto meronta berusaha menarik tubuh Mika dengan sisa tenaganya. Secepat kilat belati ditangan kiri Mika menancap kembali di kening Minto.


Dukun termuda dari ketujuh dukun hitam itu tewas. Dari tubuhnya asap kehitaman kembali muncul, keluar dari ketujuh lubang di wajahnya. Mika segera mencabut belati dan memenggal asap berbentuk kepala sebelum berwujud penuh.


Suara raungan aneh kembali terdengar mendekat dari arah belakang Mika. Belum sempat Mika berbalik, potongan tubuh bagian atas menggelinding tepat di depannya dengan mata melotot dan lidah terjulur. Tak lama tubuh itu terbakar perlahan jadi debu.


Mika heran, ia menoleh ke belakang. Sari rupanya berhasil menebas tubuh Mbah Dul sebelum ia menyentuh Mika. Sengkayana yang memijar merah, dan mata Sari yang berubah warna menandakan Sengkayana dalam energi maksimal.


"Thanks Aunt!"


"Jangan senang dulu, lihat di depan kita!"


Sosok-sosok lain bermunculan dari balik pohon. Rupanya mereka bersembunyi dengan mengubah dirinya menjadi apa yang mereka inginkan. Jumlah mereka mungkin puluhan seiring dengan semakin bertambahnya sosok yang berdiri menghadang keduanya.


"Oh my! Mika, apa tadi sarapanmu cukup!"


"Apa hubungannya aunty?!" 


"Well, jika berlebihan kita akan kesulitan berkelit dengan perut gendut!"


"What!" Mika mengernyit dan menggelengkan kepala.


Pasukan iblis menjelma dalam tubuh manusia yang ia rasuki. Kali ini tubuh manusia yang dirasuki secara otomatis akan menjadi milik iblis. Energi kehidupan mereka akan terhisap habis oleh iblis sebagai makanan untuknya.


Tubuh manusia yang menjadi inang akan berubah sesuai keinginan sang iblis, layaknya bunglon dadakan. Mereka tak akan bisa diselamatkan lagi. Satu satunya cara hanya dengan membunuh tubuh manusianya dan menghancurkan energi iblis yang tersisa.


Sekelompok iblis dalam tubuh manusia terus bermunculan mengepung Sari dan Mika ditengahnya.


"Bersiaplah Mika, gunakan energi Asih Jati jika diperlukan!"


"Kau tak perlu mengingatkanku aunty."


Sari menatap satu persatu sosok mengerikan mirip siluman dihadapannya. Lidah yang terjulur sesekali menggeliat keluar. 


"Baiklah, kita lihat seberapa hebatnya kalian!"