Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Janji Palsu Iblis



Malam begitu gelap, segelap hati para pengabdi iblis yang menutup hati, mata dan telinga mereka dengan bisikan setan.


Sekelompok orang datang bersamaan mengendap endap dikesunyian malam. Enam orang berjalan dengan hati-hati menyusuri jalan kecil, licin, berbatu. Sesekali pria yang berada diurutan paling akhir menoleh ke belakang memastikan tak ada yang mengikuti.


Sebuah obor menyala di tangan pria yang berada paling depan sebagai penunjuk jalan. Sementara pria yang ada ditengah berkomat kamit membaca mantra. Lelaki dengan untaian kalung dan gelang berwarna hitam itu sesekali mengarahkan tangannya pada sisi kanan dan kiri jalan.


Ia menghalau bangsa lelembut penunggu hutan angker. Yang lainnya terlihat ikut menggerakkan bibir guna membaca mantra pelindung. 


"Kita sudah sampai!" Ujar pria paling depan seraya meninggikan obor di tangan kanannya.


"Apa Airlangga ada disana?" Tanya lelaki dengan jambang lebat.


"Iya, mereka bilang kita harus menunggu Airlangga disini!" Jawab pria pemegang obor.


Keenam dukun hitam pengikut Airlangga itu kemudian menyebar mengelilingi candi tak terurus dan duduk bersila di tempat yang telah ditentukan.


"Apa kau sudah dapat kabar dari Abdul?" Tanya lelaki dengan untaian kalung hitam.


"Kabarnya dia telah dibunuh wanita itu!" Jawab lelaki lain yang bernama Karyo.


"Apa?! Bagaimana bisa? Abdul yang paling jauh dari lokasi ini, bagaimana wanita itu bisa menemukannya?!" Seru Mbah Dul lelaki yang paling tua diantara keenam dukun itu.


"Entahlah, mungkin dia memang sedang apes! Jadi wanita itu bisa menemukannya!" Jawab Karyo lagi seraya bersiap untuk memejamkan mata.


"Ciiih, apes?! Dia saja yang sombong, padahal aku sudah mengingatkan supaya tidak kembali ke daerahnya dulu!" Mbah Dul mencibir, ia melirik ke arah Minto yang sedari tadi terdiam.


"Coba kalau dia manut, nurut sama kita nggak bakal apes tu anak!" Sambungnya lagi masih menatap Minto yang diam.


"Kowe ngopo Min, malah nglamun?!" Mbah Dul menepuk bahu Minto. (kamu kenapa Min, kok melamun?)


"Eh, mboten Mbah!" Minto tersentak kaget ia spontan menjawab.


"Opone sing mboten?"  (Apanya yang tidak?)


Minto pun nyengir cengengesan, ia ragu menjawab pertanyaan Mbah Dul. 


"Saya … ehm, apa kita benar bisa mengalahkan wanita itu? Sari yang saya dengar wanita bernama Sari itu memiliki kekuatan luar biasa. Bahkan para lelembut dibuat bertekuk lutut sama dia!"


"Hush!" Mbah Dul menghardik keras, matanya melirik ke kanan dan ke kiri. "Ati -ati! Ojo ngomong sembarangan! Nek denmas Airlangga krungu mati Kowe!" 


(Hati-hati! Jangan bicara sembarangan! Kalau sampai denmas Airlangga mendengar bisa mati kamu!)


Minto langsung menutup mulutnya, ia menyadari jika Airlangga memiliki telinga dimana mana.


"Minto ada benarnya juga Mbah, wanita itu nyatanya sulit sekali dibunuh. Tanya saja Mbah Wito, dia yang selama ini mengetahui bagaimana sosok wanita itu!" Karyo yang tadi memejamkan mata ikut berkata.


"Lah gimana bisa dibunuh wong wanita itu sama seperti denmas Airlangga. Sakti, ora mempan dipatheni!" Mbah Dul menyahut.


Mbah Wito yang namanya disebut hanya manggut manggut mengamini perkataan Mbah Dul. 


"Wes ora usah dipikir! Sekarang kita ada disini untuk memenuhi undangan denmas Airlangga! Perang geden bakal kedhaden tidak lama lagi, kita harus bersiap menyambut kebangkitan denmas Airlangga!" Mbah Wito pun angkat bicara.


Keenam lelaki yang tergabung dalam kelompok pemuja iblis itu saling memandang. Kedatangan mereka ke gunung Arjuno adalah untuk memenuhi undangan Airlangga.


 Pintu gerbang kerajaan terselubung yang Airlangga dirikan ada di sekitar tumpukan batu berunden di depan mereka.


"Met, Slamet!" Mbah Wito memanggil asistennya, seorang pemuda dengan yergopoh gopoh dan badan sedikit menunduk mendekatinya.


"Nggih Mbah!"


"Siapkan semuanya, cepat! Denmas Airlangga bisa marah jika kita sampai terlambat!"


Slamet mengangguk, dengan segera ia meletakkan obor di empat penjuru. Mengambil sesaji disertai membakar dupa panjang yang ditancapkan ke tanah. Mbah Wito mengawasi Slamet memastikan pekerjaannya benar.


"Sampun Mbah!"


"Bagus, kalian berjaga jangan sampai ada yang tidur!"


Slamet undur diri, dia kembali bergabung dengan beberapa orang lain yang ikut bersama rombongan. Keenam dukun hitam itu kompak meletakkan tangan didepan dada. Mulut mereka mulai merapalkan mantra pembuka gerbang iblis.


Suhu dingin yang menggigit di lereng gunung Arjuno terasa semakin turun. Angin perlahan bertiup semakin kencang, membuat lidah api pada obor bergoyang tak tentu. Mantra diucapkan keenam dukun hitam itu semakin lama semakin terdengar cepat dan menggema.


Pusaran angin besar terbentuk seperti corong besar yang menembus langit. Mematikan empat obor di sekitar candi. Keenam dukun itu terus merapal mantra. Awan hitam menutupi langit yang semula cerah. Tak lama petir menyambar dengan keras, kilat sesekali terlihat dalam pusaran angin kelabu.


Tangan keenam dukun itu bergetar kuat seiring dengan semakin luasnya pusara angin yang terbentuk. Mata para dukun yang terpejam terbuka secara bersama sama. Cahaya semu kemerahan memenuhi kedua mata mereka. Perlahan dari kedua tangan mereka mengalirkan energi ke dalam pusaran angin.


Aliran energi itu mempercepat pusaran angin, melebarkannya dan kemudian hilang seketika. Cahaya yang keluar dari tangan dan kedua mata para dukun hitam itu pun meredup.


"Met, ngeri bener! Serem! Mereka ngapain sih?!" Tanya salah satu pemuda pada Slamet yang berpegangan tangan pada salah satu pohon.


"Buka gerbang!" Slamet masih enggan menjawab karena hempasan angin tadi menerbangkan debu tipis ke sekitar, dan membuat matanya kemasukan debu.


Slamet tidak menjawab, ia memberi isyarat agar rekannya itu diam dan memperhatikan.


Keenam dukun hitam terlihat mengatur energi masing-masing. Mereka masih dalam posisinya tak ada yang berdiri. Mereka menunggu.


Pusaran angin itu memang telah hilang menyisakan debu tipis beterbangan. Awan hitam yang memayungi daerah sekitar candi perlahan menghilang. 


Diatas candi sesosok bayangan tampak berdiri dengan angkuhnya. Rambut hitam yang tergerai sepinggang menari ditiup angin malam. Keenam dukun itu mengubah posisi mereka dari duduk menjadi bersujud.


"Selamat datang denmas!" sambut mereka bersamaan.


Cahaya rembulan secara dramatis jatuh menyinari wajah tampan Airlangga. Ia mendongak keatas dan menghirup udara malam. 


"Ini, segar sekali!"


Airlangga tersenyum lebar, merentangkan kedua tangannya kesamping. Taring kecil terlihat mengintip dari balik senyum.


"Denmas, kami datang untuk bergabung dengan pasukanmu!" Ujar mba Wito sebagai pemimpin dari ketujuh dukun yang kini hanya tersisa enam orang saja. 


Airlangga menatap para dukun itu satu persatu. Ia tersenyum sinis, "Rupanya salah satu dari kalian telah bertemu dengannya!"


"Iya denmas, Abdul tewas ditangan wanita itu!"


"Huh, dasar bodoh benar-benar bodoh! Sudah aku katakan untuk tetap ada ditanah Jawa. Kekuatanku hanya akan melindungi kalian jika tetap ada diwilayahku!"


Keenam dukun itu tak berani bicara, mereka hanya menunduk. Airlangga menoleh ke arah kelompok pembantu para dukun yang berdiri tak jauh dari sebuah pohon besar.


"Apa mereka persembahan kalian?" 


Para dukun itu saling berpandangan, lalu Karyo menjawab. "I-iya denmas!"


Airlangga tertawa terbahak bahak. Tangannya bergerak seolah membuka tabir tersembunyi. "Keluarlah kalian!"


Hawa tak biasa menekan udara sekitar. Keenam dukun itu ketakutan. Airlangga bisa berbuat apapun termasuk membunuh mereka dengan mudah. Lima sosok lain berjalan sedikit aneh dalam gelap. Para dukun itu penasaran, dengan sedikit mendongak sosok aneh itu pun mulai terlihat jelas.


Mata keenam dukun itu terbelalak. Begitu juga para pembantu rekan Slamet yang melihat dari kejauhan. Lima iblis dalam bentuk aslinya terlihat menyeringai. Bertanduk mirip kambing dengan ekor panjang, cakar tajam menghiasi kaki dan kedua tangannya.


"M-met opo kui Met!" Rekannya gemetaran apalagi kelima sosok mengerikan itu menatap ke arah mereka. (M-met apa itu Met!)


"Mla-mlayu gaaaess!! Aku jik pengen urip!" Teriak salah satu diantara mereka, ia berlari cepat disusul beberapa lainnya.


(Lari gaaaess!! Aku masih ingin hidup!)


Melihat mangsanya lari kelima iblis itu segera mengejar, mengembangkan sayap mereka dan memburu. Slamet semula ingin berlari mengikuti rekannya tapi kakinya seperti tak bisa digerakkan.


Ia melihat dengan jelas satu persatu rekannya dihabisi para iblis. Mereka menghisap darah dan mencabik tubuh asisten para dukun, memakannya dengan rakus seperti iblis yang kelaparan.


Slamet gemetar hebat, ia pasrah saat salah satu iblis menyeringai padanya. Ingin berjalan mundur tapi tak bisa, apalagi harus berlari.


"M-mbok ngapurane Yo mbok! Slamet ora iso Bali omah! Slamet …," gumaman ya berhenti saat iblis itu hanya berjarak lima jengkal darinya. 


(M-mbok maafkan aku ya mbok! Slamet nggak bisa pulang ke rumah! Slamet ...,)


Dengus nafas panas dan bau busuk menusuk hidung Slamet yang hendak muntah karena tak tahan dengan bau anyir darah bercampur busuk.


"Walah demit kok ambune ngene men to yo!" Ia kembali bergumam sembari menangis.


(walah, setan kok baunya begini amat ya!)


Iblis itu seolah mengerti, ia mendengus tepat di depan wajah Slamet. Ia menyeringai, "Aku suka bau tubuhmu!"


Slamet yang memejamkan mata karena takut pun menjawab, "Awakku mambu mit, demit! Ora enak dimaem, sepho, pait sisan!"


(badanku bau tan, setan! nggak enak dimakan, sepa, pait lagi!)


Iblis itu tertawa seolah tahu apa yang diucapkan Slamet, ia mencengkram bahu Slamet kuat. Lalu dalam sekejap dirinya berubah menjadi asap hitam yang masuk ke dalam tubuh Slamet melalui tujuh lubang di wajahnya. 


Slamet meronta, tapi sedetik kemudian ia terdiam. Perlahan kepalanya yang menunduk mendongak, menyeringai dengan senyum iblis dam mata yang sepenuhnya hitam.


Keenam dukun itu ngeri melihat keganasan para iblis. Mereka pun memohon pada Airlangga untuk diselamatkan. Empat iblis berjalan mendekati mereka. Mbah Wito dengan sigap memeluk kaki Airlangga.


"Denmas, tolong! Selamatkan saya!" Pintanya memelas.


"Iya denmas, selamatkan kami! Bukankah Anda berjanji akan melindungi kami?!" Yang lain ikut memohon dengan wajah ketakutan.


Airlangga melepas paksa tangan Mbah Wito dengan menendangnya. Ia berlalu meninggalkan mereka sembari berkata,


"Sejak kapan iblis menepati janjinya!"