
Sari terbangun dari tidurnya saat mencium aroma wangi kopi. Diliriknya jam dinding yang tepat menunjukkan pukul delapan pagi. Sari tidak menemukan Doni di sebelahnya. Dengan sedikit malas Sari turun dari ranjang dan berjalan perlahan keluar kamar.
"Eh, mbak Sari dah bangun! Sini mbak sarapan dulu! Mbak Pur udah siapin kesukaan mbak Sari, nasi goreng ceplok telor pake mentimun yang diiris kecil!" Sapa mbak Pur begitu melihat Sari berjalan ke ruang makan.
"Doni kemana mbak?" Sari bertanya setelah meneguk sekali kopinya.
"Mas Doni ada dibelakang, lagi kasih makan ikan koi kesayangannya! Katanya kangen pengen liat ikan-ikannya!" Mbak Pur menyodorkan sepiring nasi goreng hangat pada majikannya itu.
"Makasih mbak," Sari menyuapkan satu sendok penuh nasi goreng ke dalam mulutnya. Matanya melirik ke arah televisi, berita tentang kondisi Yogyakarta pasca penyerangan Nergal tengah ditayangkan.
"Serem juga Yo mbak, saya ngikutin terus berita di tivi. Bayanginnya udah kayak pilem-pilem boliwud, ngeri!" Mbak nyeletuk, tangannya menekan tombol pengeras suara melalui remote tv.
"Hollywood kali mbak, Bollywood mah India!"
"Sebelas dua belas mbak, sama-sama wud pokokmen!" Mbak pur berseloroh.
Sari memperhatikan tayangan berita itu sambil menghabiskan sarapannya. Reruntuhan bangunan di beberapa sudut kota mulai dibersihkan dan ditata kembali.
Liputan besar besaran juga dilakukan oleh beberapa stasiun televisi. Yah, Sari banyak melewatkan hal penting di dunia manusia. Ia sibuk melintasi dimensi untuk memburu Airlangga. Jadi berita tentang kekacauan itu tidak sempat terpantau olehnya.
Kesatrian Putra Ganendra milik Pandji pun tak luput dari incaran pewarta. Wajah Al dan pakde Noto beberapa kali muncul untuk sekedar memberikan informasi.
"Ada yang jadi artis dadakan keknya!" Doni menghampiri Sari dan ikut duduk di meja makan bersama Sari.
"Hhm, lumayan mewujudkan keinginan yang tertunda." Sari menimpali.
"Itu mase lumayan ngganteng yo mbak, kumise kuwi lho orak nguati tenan marai pengen heeeeh!" Mbak Pur kembali berceloteh membuat Sari terkekeh.
"Mbak Pur masih doyan aja liat laki ganteng, awas nanti ada yang cemburu lho!" Doni mengingatkan, tangannya meraih cangkir kopi milik Sari dan meminumnya.
"Mbak, buatin kopi deh! Kepala saya agak pening nih!"
"Nggih mas Doni, mau pake gula biasa apa gula jagung? Atau non gula?" Mbak Pur menawarkan pada Doni dengan bergaya seperti model iklan, Sari pun tergelak.
"Deeeh, lama kagak balik ke rumah tambah miring aja nih mbak Pur!" Gerutu Doni sambil menggaruk kepalanya.
"Gula jagung aja mbak, biar sehat dia!" Jawab Sari menahan tawa.
"Siap bos! Nah kan mbak Sari jadi ketawa mas Doni, nggak kayak semalem. Jeruk purut terus mukanya, asem!" Mbak Pur cengengesan dan segera pamit ke dapur.
Sari menggelengkan kepala dan meneruskan sarapannya.
"Kayaknya Jogja mulai berbenah." Doni meraih remote tv di atas meja, sedikit menambah volume.
"Hhm, aku khawatir sama si Pandji. Gimana kondisinya sekarang ya?!" Lanjutnya bertanya pada Sari.
"Pandji? Aku yakin dia akan baik-baik saja, hanya perlu sedikit beristirahat."
"Terus apa rencana kita?" Doni menatap istrinya intens.
Sari menghela nafas, "Menunggu, dia pasti akan keluar."
"Ya, cepat atau lambat dia pasti keluar. Terus gimana dengan Mika?"
Sari hanya menatap Doni dengan tersenyum, dan menyesap sisa kopi miliknya. Matanya tak lepas dari televisi layar datar yang terus menayangkan liputan khusus Yogyakarta.
Aku menunggu waktu yang tepat, untuk menjemput Mikaila.
******
Satu bulan pasca kembalinya Pandji dan Mika ke aktivitas normalnya, Sari menghubungi Al. Ia ingin memastikan kondisi Pandji dan Mika saat ini, sekaligus meminta izin darinya.
Setelah memastikan segalanya, Sari menutup panggilan. Doni tengah bersiap mengepak beberapa barang bawaan untuk dibawa ke Solo. Sebulan terakhir Doni dan Sari harus bolak balik Solo - Semarang untuk menyiapkan para kesatria muda.
"Sekarang kita ke Jogja?" Tanya Doni setelah menutup tas bawaan miliknya.
"Ya, besok ada perayaan kecil-kecilan. Kelulusan Pandji, mas Al mengundang kita untuk datang. Kebetulan orang tua Mika juga ada disana."
"Oh ya, kebetulan yang luar biasa."
"Alam sepertinya berpihak padaku." Seulas senyum terbit di bibir Sari.
Rasa optimis muncul di hatinya. Sari yakin kali ini semua rencana yang sudah disusunnya akan berjalan dengan baik.
"Semuanya sudah masuk?" Tanya Doni pada Sari yang masih mengecek barang bawaan di bagasi.
Sari menghitung beberapa kantong kertas besar berisi cemilan keripik buah kesukaan Pandji dan beberapa Snack lain. "Kayaknya udah semua nih!"
"Mbak Sari, nanti berapa lama perginya? Mbak Pur masih kangen he mbak!"
"Iya mbak Sari, saya juga. Sepi kalo mbak sama mas nggak ada dirumah!" Mbak Asri ikut bertanya.
"Hmm, saya nggak tahu mbak berapa lama. Semoga saja secepatnya bisa pulang kesini lagi."
"Hati-hati ya mbak! Kita nungguin mbak Sari sama mas Doni disini."
Mbak Pur meneteskan airmata, ia tahu rencana majikannya meski tak banyak. Ia tahu Sari harus berhadapan dengan para lelembut lagi, mbak Pur juga tahu, kali ini Sari akan menghadapi lawan yang tangguh.
Sari berpamitan dengan kedua asisten rumah tangganya juga dengan pegawai lainnya. Untuk sesaat Sari menatap sekeliling rumah warisan mom Adeline. Ia menghela nafas.
Semoga aku bisa kembali lagi kesini dalam kondisi yang berbeda.
Beberapa jam kemudian, Sari dan Doni tiba di Pakualaman. Jajaran mobil yang terparkir di jalanan menunjukkan ada keramaian di dalam sana.
"Sepertinya banyak juga tamu undangannya, beb!"
"Aku dengar mereka berlomba menjadikan Pandji menantu di keluarganya. Bahkan ada yang rela menjadikan anak perempuannya selir." Doni terkekeh.
"Serius? Selir? Astaga, anak itu baru saja lulus sekolah lho tapi calon istrinya sudah banyak bener!" Sari ikut tertawa.
"Beruntungnya si Pandji, masih muda haremnya banyak bener! Mau juga aku satu, eeeeh!" Doni kelepasan bicara.
"Apa? Bilang apa kamu? Mau juga punya harem kek Pandji?" Sari mendelik tak percaya dengan ucapan Doni barusan.
"Eeeh, nggak beb bercanda! Suer, cuma ingin tapi nggak kok! Beneran!" Doni dibuat salah tingkah dengan tatapan tajam Sari.
"Awas kalo macem-macem! Pake harem segala lagi!" Sari menggerutu dan mengomel Doni.
"Iya … iya, udah beb. Kita udah nyampe nih mau sampai Jakarta kamu ngomelnya?!" Doni meminta Sari berhenti bicara, "Denger ya, selamanya istriku ya hanya satu. Itu kamu beb. Sejelek apa pun kamu ya kamu itu istriku yang aku minta dan aku ikrarkan sekali seumur hidupku di depan mom and dad."
Perkataan Doni sukses mengunci mulut Sari. Mata Sari basah, saat Doni merengkuhnya dalam pelukan. "Ayo kita turun, lihat sudah ada panitia penyambutan!"
Doni menunjuk pada sekumpulan anak muda yang terlihat ramah menyambut tamu. Sari turun dari mobil diikuti Doni. Wajah cantik Sari dengan perpaduan Indo Belanda membuat dirinya menjadi pusat perhatian.
"Weh ada bule nyasar! Ayune As!" Bisikan Tirta pada Aswanta terdengar di telinga Sari, ia tersenyum.
"Tamu siapa ini sobat? Kau laris sekali hari ini!" Aswanta menatap Pandji.
Sari kembali tersenyum pada sekumpulan anak muda dengan tingkat penasaran tinggi itu. Ia berjalan menghampiri lalu bertanya pada salah satu anak muda.
"Siang, apa mas Al dan mbak Selia ada dirumah?"
"Oh mbak cantik ini teman ayahanda Pandji ya?" Tirta menjawab dengan antusias.
"Iya, saya Sari dari Semarang, saya ada janji sama mereka. Bisa antar saya?"
"Wah, dengan senang hati!" Tirta langsung buru-buru mengambil langkah mengantarkan Sari.
"Hati-hati Tirta, mbaknya bawa bodyguard! Meskipun tua tapi kelihatannya bukan bapaknya!" Ledek Mahesa lirih.
Doni hanya bisa melirik dan mengelus dadanya sendiri, "Sabar, sabar Don! Nasib lu dah diledekin juga ma anak-anak. Berasa jadi sugar Daddy aja gue!" Ia bergumam sedikit kesal.
Tirta mengantarkan Sari dan Doni ke rumah induk untuk menemui Selia dan Al. Senyuman ramah dari Selia menyambut kedatangan Sari.
"Apa kabar mbak Sari? Akhirnya kita bertemu lagi setelah sekian lama!"
"Baik. Mbak Selia sendiri gimana? Sehatkan? Oh ya kenalkan, ini suami saya Doni!" Ucapan perkenalan Sari sontak membuat pemuda bernama Tirta melongo, ia tidak menyangka jika lelaki yang bersama Sari adalah suaminya.
Dengan wajah linglung ia pamit kembali ke pendopo untuk memanggil Mika dan Pandji. Tirta masih tak percaya dengan pendengarannya, sekali lagi dia berbalik dan menatap Sari dari kejauhan.
"Benar kata Mahesa, laki-laki itu ternyata bukan bodyguard biasa!"
Ramah tamah ringan pun terjadi diantara ketiganya. Seperti layaknya sahabat yang lama tak berjumpa. Canda tawa juga menyelingi pembicaraan ketiganya.
"Mas Doni ini bukannya yang dulu ikut liputan di Indramayu ya?" Tanya Selia di sela pembicaraan mereka.
"Iya mbak, dulu waktu ketemu saya masih muda,masih ganteng … sekarang yang masih awet dan sama cuma itemnya aja!" Jawab Doni dengan seringai jenakanya.
"Mas Doni bisa aja, biarpun item dan sudah … berumur tapi istrinya kan masih cantik begini. Beruntung lho mas Doni ini! Liat aja mbak Sari masih seperti anak gadis usia dua puluh lima tahun!"
"Saya bingung juga mbak Selia, punya istri cantik itu berkah apa musibah ya?!" Jawaban Doni spontan dihadiahi cubitan Sari di perutnya membuat Selia terkekeh geli.
Mika dan Pandji datang bergabung, begitu juga dengan Alaric.
"Hai mas Pandji, do you still remember me?"
Pandji menggaruk kepalanya karena malas mengingat, "Nggak!"
"Mas Pandji sudah lupa dengan hantu penari bertopeng?" Al mengingatkan putranya kembali pada peristiwa belasan tahun lalu.
"Oh, iya inget dikit!" Jawab Pandji singkat.
"Pandji sudah beranjak dewasa mbak Sari, tapi mbak Sari masih sama seperti dulu. Muda dan cantik," ayahanda Pandji bicara dengan tawa ramah membuatnya sukses mendapat cubitan mesra istrinya di pinggang.
Sari tertawa geli melihatnya, "Ya seperti yang mas dan mbak lihat, saya sangat awet muda,"
"Miss Sari memang umur berapa sekarang?" Tanya Pandji penasaran.
"Pandji, nggak sopan bertanya begitu sama teman ayah," ibunda Selia mengingatkan.
"Maaf," ujar Pandji cepat.
Sari tergelak, "Umur saya empat puluh tahun mas, dan mas Pandji bisa panggil saya Aunty sekarang, jangan Miss Sari lagi."
Pandji dan Mika sedikit terkejut mendengar usia Sari. Tidak ada tanda penuaan sedikitpun yang ditunjukkan Sari, baik itu kerutan atau pun rambut yang memutih. Meski Sari tidak menggunakan make up, ia benar-benar mirip gadis seusia Mika.
"Saya masih ingat loh sama makanan kesukaan mas Pandji, fruit chips right?"
Sari membuka kantong kertas besar yang ia bawa dan menyerahkannya pada Pandji.
"Di mobil masih banyak lagi khusus untuk mas Pandji?"
"Apa ini semacam sogokan?" Tanya Pandji seraya tersenyum lebar melihat ke dalam kantong kertas.
Sari tertawa kecil, "Anggap saja begitu mas, ini upeti kecil buat pinjam mika sebentar. Apa boleh?"
Pandji dan mika saling menatap dengan ekspresi bingung. Sementara ayahanda Pandji langsung mengangguk setuju.
"Ada yang bisa menjelaskan pada kami?"