
Sari menarik tangan Mika untuk segera mengikutinya. "Aunty, tunggu!"
Sari tidak memberi kesempatan Mika untuk menghindar. Ia tidak menyadari perubahan raut wajah Mika yang memucat saat berhadapan langsung dengan salah satu dari Burong Tujoh.
"A-aunty?!" Mika tercekat melihat wajah Burong Tujoh, mayat hidup dengan pakaian putih lusuh.
Wajahnya tertutup rambut kusut yang panjangnya hampir sepinggang. Mika sedikit gemetar.
"Ada apa? Nggak usah takut, anggap aja dia salah satu manusia yang jadi mayat hidup. Sama seperti bangsa iblis yang kita hadapi kemarin!" Sari masih belum melihat ke arah Mika yang mulai ciut nyalinya.
Jika diperbolehkan untuk memilih Mika lebih suka menghadapi maroz yang mengambil alih tubuh mati manusia daripada harus berhadapan dengan jenis lelembut yang asli.
"Dia hantu, aunt Sari!" Bisiknya setengah menekankan kata-katanya.
"Siapa bilang bukan Mika?" Sari hampir saja tertawa ketika ia menyadari sesuatu, "Tunggu!" Ia berpaling menatap Mika, "Jangan bilang kamu takut?!"
Mata Mika sedikit terbelalak, harga dirinya jatuh ketika Sari menanyakan perasaannya saat ini.
Yah, meski sejujurnya Mika memang sangat takut. Tapi ia enggan untuk mengakui ketakutannya saat ini. Oh, Mika!
"Aku? Aku tidak takut aunty hanya saja sedikit … geli?!" Mika menaikkan sebelah alisnya, membuat Sari tersenyum dari balik cadar yang menutupi sebagian wajahnya.
"Baiklah apa katamu saja, berdirilah di belakangku kalau begitu. Lihat dan perhatikan!"
Sari kembali menghadap lelembut nakal yang bernama Burong Tujoh itu, tapi sayang si lelembut sudah menghilang dan kabur begitu saja dalam gelap.
"Aaah, sial! Kemana perginya dia?!" Sari celingukan mencari lelembut sasarannya. "Kau lihat kemana perginya?" Sari menatap Mika yang menjawab dengan kedikan bahu.
"Iiish, padahal aku sudah mengincarnya dari dulu! Kenapa dia bisa lepas begitu saja?!" Sari kesal, ia melirik Mika yang mengalihkan perhatiannya sejenak tadi.
"Apa? Kenapa aunty melirikku begitu? Bukan salahku?" Mika menjawab tanpa rasa bersalah tapi juga kesal karena merasa menjadi tersangka utama alasan Sari kehilangan buruannya.
Sari kembali berdecak kesal, ia memanggil para penjaganya. "Bimasena, bisakah kau cari makhluk itu untukku?"
"Baik, kami akan berpencar!" Bimasena segera memberikan perintah pada penjaga lainnya untuk mencari buruan Sari.
Mika dibuat kagum dengan kehadiran empat penjaga Sari. Wajah yang tampan rupawan ditambah dengan tubuh atletis dengan otot bermassa yang sangat menggoda. Rasanya tidak cocok jika keempatnya menjadi penjaga Sari.
"Aunty, siapa mereka itu?" Mika bertanya meski ia bisa menebaknya sendiri.
"Mereka? Para penjaga," Sari menjawab tanpa mengendurkan kewaspadaan. Burong Tujoh bisa jadi masih ada di sekeliling mereka bersembunyi dan menyerang tiba-tiba.
"Aunty juga punya penjaga?"
"Hhm, sama seperti Gia dan seperti dirimu!"
"Aku?"
"Asih Jati juga menjagamu, kau tahu kan kalau sebagian energinya ada padamu?"
Mika terdiam, mengiyakan pertanyaan Sari untuk dirinya sendiri. Tak lama Sari mengajak Mika ke lain tempat, kembali bersembunyi dan mengamati dalam keheningan malam.
"Ssst, diamlah. Kabarnya Burong Tujoh mengincar wanita hamil dan anak-anak kecil terkadang juga bayi-bayi yang baru lahir, atupun wanita yang baru melahirkan."
"Lalu?" Mika ingin Sari memperjelas lagi tujuan mereka malam itu.
"Burong Tujoh sebenarnya sekumpulan jin wanita yang dipekerjakan oleh dukun hitam dengan perjanjian tertentu. Kabarnya mereka terdiri dari tujuh Burong yang berasal dari wanita hamil atau wanita yang meninggal saat melahirkan. Mereka dibangkitkan dari kubur oleh dukun hitam." Sari mulai menjelaskan buruannya itu.
"Kasusnya terjadi beberapa tahun lalu sebenarnya, waktu itu aunty belum paham apa itu Burong Tujoh. Salah satu kenalan aunty menjadi korbannya." Sari memutar ingatan lima tahun lalu saat Santi teman satu ku dikabarkan tewas mengenaskan.
"Dia difitnah melakukan santet hitam setelah salah satu warga mengaku kerasukan Burong Tujoh dan sengaja menyebutkan nama kenalan aunty." Sari kembali melanjutkan dengan nada sedih.
Sari kemudian menceritakan kembali apa itu Burong Tujoh yang seringkali digunakan para dukun hitam untuk mengirim santet. Burong Tujoh akan merasuki manusia yang menjadi targetnya. Tidak hanya membawa penyakit, Burong Tujoh juga bisa mengambil nyawa manusia yang menjadi incarannya.
"Kalau lihat penampilannya tadi Burong Tujoh bukannya kuntilanak?" Mika setengah dengan berbisik bertanya lagi.
"Iya, ditanah Jawa kita nyebutnya kuntilanak tapi disini mereka menyebutnya Burong Tujoh dan mereka memiliki misi sendiri,"
"Misi?"
"Yup, sesuai dengan grup masing-masing!"
Mika setengah tak percaya dengan apa yang dikatakan Sari. "Mereka hantu aunty! Grup apa, apa mereka juga butuh bimbingan, kerja kelompok or something?"
"Lucu sekali Mika sayang, kau tahu setiap lelembut memiliki misi untuk mendapatkan sebanyak banyaknya pengikut. Termasuk burong Tujoh. Jika sasaran mereka mati maka itu berarti keberhasilan mereka mendapatkan generasi penerus Burong Tujoh dan …," Sari menghentikan bicara, sosok Burong Tujoh itu muncul di hadapan mereka.
Bimasena dan yang lainnya memberi kode pada Sari dari kejauhan. Sari mengangguk.
"Aunty," Mika hendak berkomentar tapi Sari memberi kode untuk diam padanya.
Burong Tujoh bersuara, ia menangis seperti layaknya kuntilanak di tanah Jawa. Perlahan tapi pasti, ia melayang mendekati salah satu jendela besar yang tertutup. Suara bayi yang menangis menandakan di rumah itu ada sasaran bagi Burong Tujoh.
Bayi di dalam rumah menangis semakin keras saat sosok lelembut itu berada persis di depan jendela.
"Aku tidak akan membiarkanmu kali ini!"
Sari bertindak cepat, menarik lelembut wanita itu saat hendak menembus dinding kayu rumah panggung warga. Dengan kekuatannya Sari membawanya menjauh hingga ke tanah lapang tak jauh dari kebun kopi di dekat rumah warga.
"Katakan siapa pengirim mu!" Sari menghardik.
Burong Tujoh hanya terkikik, salah matanya yang merah menyala mengintip dari balik rambut kusutnya. Bimasena dan penjaga lainnya mengurung Burong Tujoh dalam pagar gaib.
"Panggil temanmu kemari, dan tunjukkan dukun hitam tuanmu itu!"
Mantra sihir diucapkan Sari menyiksa salah satu Burong Tujoh dalam kurungan pagar gaib. Suaranya melengking menyakitkan telinga, ia menggeram, menangis dan terkikik bergantian. Berusaha melepaskan diri dari pagar gaib buatan Bimasena.
Tak butuh waktu lama, enam anggota Burong Tujoh lainnya muncul. Mereka tampak marah dan segera menyerang Sari.
"Aunty, awas!"