Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Pembawa Pesan 2



Sari meletakkan secangkir kopi susu pesanan Doni di meja. Suami tercintanya itu sedang asik dengan buku mantra pemberian Bayu. Doni sebenarnya sudah khatam membacanya. Ia juga hampir hafal seluruh mantra penyembuh dan pengendali yang tertulis. Tapi ada sesuatu yang mengusik pikirannya.


"Serius bener baca bukunya," Sari ikut melongok, ia penasaran karena sudah hampir satu jam Doni berkutat dengan buku tua yg tebal itu.


"Hhmm," tak ada kata lain yang keluar dari mulut Doni, matanya tertuju pada tulisan yang ada di buku.


Sari memperhatikan tingkah suaminya, baru kali ini ia melihat Doni begitu serius diluar pekerjaan kantoran.


"Cari apaan sih, sampe nggak sempat liat istrinya di depan?" Sari mulai merajuk.


Doni melirik Sari, dilihatnya Sari memasang wajah cemberut. Doni pun terkekeh. "Lagi cari celah," jawabnya setelah menyeruput kopi susunya.


"Celah?" 


"Hhm, aku baca-baca lagi siapa tahu ada informasi lain yang aku lewatkan."


"Untuk apa?"


"Menjagamu lah, apalagi? Masa buat buka praktek dukun?!" Seringai jenakanya yang spontan membuat Sari tertawa kecil.


"Eh, tapi bisa lho kan kita punya banyak koleksi tuh di rumah! Bisa dijual kalo udah males ngurusinnya," Sari tiba-tiba saja memiliki ide gila.


"Iya juga sih, ngomong-ngomong mbak Asri sama mbak Pur apa kabarnya tuh? Rumah kita amankan?"


"Aman, sesekali aku juga nyuruh Mahesa kesana buat jagain bentaran." 


"Hhm, itu penjaga apa satpam pake disuruh jaga rumah beb? Lama-lama mereka alih profesi juga tuh!" Doni berhenti sejenak lalu, "Ehm, bisa kali yah bikin bisnis bodyguard pergaiban?" Doni menjentikkan jarinya dengan tawa konyol.


Sari terbelalak tak percaya, ia menggelengkan kepala dan terkikik, "Gila kamu beb, ada gitu yang bakal sewa? Macem-macem aja nih idenya?"


"Namanya juga usaha beb, abis perang ini selesai auto kontrak kita sama Saka kan habis. Perlu ini kita pikirin langkah selanjutnya!" Sahut Doni sedikit serius.


Sari masih tertawa mendengar ide konyol suaminya itu, baru saja ia hendak mengungkapkan pendapatnya dering telepon terdengar nyaring di meja. Tawanya  berhenti ketika melihat nama yang tertera di sana.


"Pak Agus," Sari menatap Doni sejenak sebelum ia menjawab telepon dengan pengeras suara.


"Ya pak, ada kabar apa?"


"Siang mbak Sari, saya cuma mau mengabarkan ada pergerakan mencurigakan di sisi barat Trowulan. Beberapa penduduk desa mulai menghilang secara misterius!" Pak Agus melaporkan.


"Ohya, misterius gimana pak?" Sari dibuat penasaran dengan laporan pak Agus.


"Ya menghilang mendadak mbak, satu persatu penduduk desa hilang dan sampai sekarang belum juga ditemukan. Saya curiga ini ulah mereka mbak!"


Sari dan Doni kembali berpandangan, "Mayatnya juga nggak ada?" Kali ini Doni yang bertanya.


"Iya mas, nggak ada jejak. Terus dua teman saya itu juga sekarang ada di Parangtritis. Dari informasi yang saya dapat, mereka ditugaskan melakukan sesuatu, tapi entah apa, saya belum dapat info lanjutan!" 


"Parangtritis? Jogja lagi? Muter-muter aja mereka itu. Baru kemarin di Jombang sekarang balik lagi kesana, plin plan bener dah bikin kesel aja!" Doni bersungut-sungut kesal membayangkan harus kembali mengejar iblis ke Yogya.


Sari tersenyum masam, pak Agus memberikan beberapa informasi lain tapi ada yang lebih menarik perhatiannya.


Kemunculan pria tampan dengan rambut panjang yang acapkali terlihat sebelum penduduk desa menghilang. Ia datang bersama sekelompok pria berwajah mirip artis-artis Korea, tampan tapi cantik.


Doni yang mendengarnya seketika tertawa terpingkal-pingkal, "Pak Agus nggak salah lihat kan? Mungkin mereka anak-anak kedokteran spesialis bedah plastik estetika!"


"Serius mas Doni, saya nggak bohong. Dan asal mas Doni dan mbak Sari ketahui, mereka yang hilang mayoritas berjenis kelamin wanita."


Tawa Doni pun terhenti, dalam pikirannya terbesit jika Airlangga hendak mengumpulkan prajurit istimewa untuk menghadapi Sari.


"Mengerikan jika hal itu sampai terjadi," gumamnya lirih.


"Apanya yang mengerikan?" tanya Sari setelah menutup panggilan pak Agus.


Doni tak menjawab, ia meletakkan buku mantra di meja. "Aku menduga Airlangga mengambil penduduk desa untuk dijadikan umpan."


Sari menghela nafas berat, ia merasa beban di pundaknya semakin berat saja. "Hmm, kau benar. Aku juga berpikir demikian! Jika mereka sudah berubah akan lebih mudah mengatasinya, tapi jika mereka masih berwujud manusia itu akan sangat merepotkan!"


"Setiap darah manusia yang kamu tumpahkan akan membuka satu ikatan segel dalam tubuhmu beb! Kau harus berhati-hati!" Doni menatap Sari dengan serius.


Jika boleh memilih, Sari ingin kembali di masa saat mereka hendak melakukan perjalanan ke Banyuwangi. Saat dimana Atikah memasuki mimpinya dan menanamkan racun iblis. 


"Beb, kok ngelamun? Kita harus pergi, ada tempat yang harus kita kunjungi sebentar sebelum ke Parangtritis."


Sari mengangguk pasrah, ia menepis sejenak harapannya. Tuhan mungkin memiliki rencana lain baginya dengan memberikan ujian keabadian.


Selang beberapa jam kemudian mereka sudah tiba di pasar barang antik, pasar Triwindu. Pasar peninggalan raja Pura Mangkunegaran yang menjual berbagai barang antik mulai dari koin dan uang kuno, keris, batik, dan berbagai jenis perkakas rumah tangga.


Sari tak mengerti kenapa Doni mengajaknya ke pasar Triwindu, pasar yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari pura Mangkunegaran.


"Kirain mau kasih surprise ngajakin makan apa gimana kok malah kita kesini beb?" tanya Sari pada Doni yang sedang memilih beberapa benda antik dari salah satu kios.


"Aku mau cari sesuatu yang bisa berguna buat kita," jawabnya enteng.


Doni kembali melangkahkan kakinya ke kios yang lain sudah lima kios disinggahi tapi belum ada yang membuatnya tertarik. Sari sebenarnya sedikit kesal tapi demi menemani sang suami ia mengikuti kemana Doni pergi.


Saat memasuki kios kelima ada hawa tak biasa yang menyapanya. Hawa iblis.


Sari terkesiap, ia mencari si pemilik aura gelap yang berani menyapanya di sore hari. Begitu banyak orang yang berlalu lalang membuat Sari sedikit kesulitan mendeteksi pemilik hawa iblis.


Beraninya menyapaku, tunjukkan dimana dirimu!


Mata tak biasa Sari memindai sekitar hingga akhirnya aura gelap pekat itu menyapanya kembali dalam jarak dekat. Seorang wanita dengan rambut sebahu, berwajah cantik, pucat, dan tersenyum ganjil padanya. 


Sari tersenyum sinis, "Kau rupanya, cukup berani juga kau menampakkan diri saat matahari masih terlihat!"


Waktu disekitar mereka seolah berhenti dan membeku, mereka kini berhadapan.


"Aku membawa pesan penting untukmu!" seru wanita itu seraya berjalan perlahan mengitari Sari.


Sari waspada, makhluk kegelapan sering kali mencuri kesempatan. Matanya terus mengekori wanita itu. Benar saja hanya dalam sekedipan mata, tiba-tiba saja wanita itu sudah berada dalam jarak hanya sejengkal.


Kontak eyes to eyes terjadi diantara keduanya. Melalui mata si wanita berwajah pucat itu Sari melihat Airlangga. Wajah tampan bak model dengan rambut panjang tergerai, ia menyeringai dengan segelas minuman berwarna kemerahan di tangan kanannya.


"Aku tak sabar menunggumu datang, apa kau merindukanku?!" yang terdengar berikutnya adalah suara tawa nyaring dari Airlangga. Tawa yang terdengar bagai ejekan ditelinga Sari.


Mata Sari masih berkabut putih saat wanita itu perlahan menjauh, "Waktunya akan segera tiba, sebaiknya kau bersiap karena tuanku sudah menyiapkan kejutan untukmu!"


Waktu kembali berjalan seperti semula, kabut putih menghilang dari mata Sari. Ia menarik nafas panjang, terasa berat dan menyesakkan. Airlangga menariknya dalam celah waktu yang cukup menguras energi. Sari mengatur nafas sejenak, kepalanya terasa berat. 


"Beb," sebuah tepukan di bahu sedikit mengagetkan Sari.


"Ada apa?" Doni kembali bertanya, khawatir dengan keadaan Sari yang memucat.


"Eh, nggak kok! Udah dapet yang kamu cari?" 


Doni tak menjawab, ia memperhatikan wajah Sari lalu melihat ke arah wanita misterius tadi pergi. "Dia mengirimkan pesan?" 


Sari tersenyum masam dan mengangguk, "Sepertinya tidak lama lagi dia akan menyapamu langsung," 


"Aku rasa begitu, dia menyiapkan kejutan untukku."


"Kejutan?" Doni mengernyit sementara Sari hanya mengedikkan bahunya. "Entahlah, aku malas memikirkannya! Bisa kita makan sekarang? Aku lapar!" pinta Sari dengan manja.


"Hhm, nie! Er is iemand die je wil zien!"


(Hhm, tidak! Ada seseorang yang harus kamu temui!)


"Seseorang? Kenapa sore ini semuanya selalu penuh misteri? Sore yang menyebalkan!" dengus Sari kesal.


Doni tersenyum melihat ekspresi Sari yang terasa menggemaskan, dengan lembut dan sabar ia mengusap puncak kepalanya.


"Smile beb, muka kamu jadi tambah cantik kalau cemberut!" ucapan Doni spontan mendapat hadiah cubitan mesra di perutnya.


Doni menarik Sari masuk ke sebuah kios dengan jajaran piring keramik besar kuno, dan bebatuan indah di etalase. Hawa dingin menenangkan menyapa keduanya. Suara lembut dan sopan menyapa Sari, wajah yang tak asing baginya mengembangkan senyum.


"Sugeng rawuh den ayu!"