
"Kabut ini …,"
"Biantara mengeluarkan sihirnya! Lihat itu dia sengaja menutup arena dengan kabut hitam, cuma orang dengan kemampuan tinggi yang bisa melihat pertarungan mereka!" Doni berkata dengan raut wajah serius.
Saka tiba-tiba saja sudah berada di sebelah Doni. Ia rupanya penasaran dengan kabut hitam yang baru saja terbentuk. Saka hanya orang biasa ia tidak mampu melihat kedua kesatria muda itu bertanding.
"Mas Doni, ini piye mau lihat tandingnya?! Kok gelap semua, saya kan juga mau lihat lho mas!"
"Cck, ganggu aja ni orang! Lagian mas Saka mau lihat buat apa? Nggak mudeng juga mereka ngapain kan?!"
"Eeits lha ya mudeng to mas Doni, dikit-dikit juga tahu lho!" ujar Saka dengan seriusnya membuat Sari tergelak.
"Mas Saka mau lihat mereka tanding?" Sari menawarkan bantuan.
"Mau banget!"
Saka beralih dan duduk disebelah Sari,
"Gimana caranya mbak?" tanyanya lagi dengan antusias.
"Mas Saka merem dulu deh!"
"Eeh, lha kok merem? Mbak Sari nggak mau ngapa-ngapain saya to? Ada mas Doni lho mbak?!" Saka bertanya dengan wajah polosnya membuat Doni menggerutu.
"Iiish, memangnya saya mau ngapain mas Saka? Katanya mau liat ya harus dibuka dulu itu mata mas Saka biar bisa tembus ke sana!" jawab Sari kesal.
Lelaki tampan di depannya ini benar-benar membuatnya kesal sedari tadi begitu juga dengan Doni.
"Udah jangan kebanyakan ngomong, mau liat apa kagak nih!" seru Doni
"Iya deh, eh … tapi bisa tembus yaa, jadi nanti juga bisa …," mata Saka melihat ke arah Sari dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Sari refleks memukul lengan Saka, sementara Doni mendelik tak percaya mendengar perkataan yang menjurus ke arah pikiran kotor Saka.
"Hmmm, dasar omes! Lo kata bisa tembus kek X-Ray dan bisa mindai badan Sari! Deeeh, minta saya smack down juga nih!" sungut Doni kesal.
"Eeh ya kali aja mas Doni, bukan ke mbak Sari tapi ke cewek lain kan kali aja bisa … lumayan pemandangan gratis!" ujar ya cengengesan.
"Mas Saka minta saya getok kepalanya?! Udah mau liat nggak keburu pertandingannya selesai!"
"Iya deh, maaf! Ayo mbak buruan saya pengen liat mas Pandji berantem!"
Sari memberikan sedikit kekuatannya agar Saka bisa melihat ke dalam kabut hitam itu. Mereka seolah masuk ke dalam arena tanding dalam film-film laga. Menegangkan.
Sari merasakan perubahan suhu yang menurun drastis, dinginnya bahkan membekukan tulang. Sari fokus pada monster besar di belakang Biantara.
Sihir hitam yang luar biasa, iblis menyatu dengan manusia. Sungguh menggelikan! Seandainya iblis yang menyatu itu mati itu sangat beresiko bagi inangnya karena bisa membahayakan nyawanya sendiri!
"Awaaaas!!"
Suara teriakan Saka mengagetkan Sari dan Doni. Tangannya spontan memukul bahu Sari dengan keras membuat konsentrasi Sari buyar.
"Astagaaaa … mas Saka bisa diem nggak sih!" Sari setengah berteriak kesal pada Saka.
"Sori mbak ngeri tenan he liatnya! Itu demit apa iblis to mbak kok memedenkan begitu?!" tanya Saka dengan ekspresi rumit.
"Bedanya apa demit ma iblis! Bikin emosi aja ni orang! Diam atau saya tutup lagi tuh mata!" ancam Sari serius.
Saka spontan menutup mulutnya dan kembali fokus pada pertandingan. Doni pindah ke sebelah Saka.
"Jaga-jaga kali aja abis ini refleks meluk kamu beb! Biar aku getok ni orang, gedeg bener daritadi!" ujar Doni sambil mengerling pada Sari.
"Ya wajar mas nek mlompat meluk mbak Sari kan saya kaget," celetuk Saka santai.
Doni kembali menggerutu, Sari hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia kembali fokus ke arah pertandingan.
Tubuh Pandji begitu ringan dan lincah hingga dalam waktu singkat bisa membuat tubuh makhluk kegelapan itu dipenuhi luka sabetan pedang. Darah hitam dari tubuh makhluk itu membanjiri lantai.
Pedang dengan pendar kebiruan itu sukses memenggal kepala iblis bertaring dan mengubahnya jadi debu.
Iblis itu mati, aku penasaran apa yang akan terjadi pada inangnya?
Sari melihat Bian kepayahan dan muntah darah tapi bukannya menyerah Bian malah semakin beringas dan berniat membunuh Pandji.
Anak itu … dasar bodoh! Tenaga dalamnya sudah berada di batas limit masih nekat menyerang Pandji? Dia terlalu memaksa!
Sari terus memperhatikan tingkah Bian yang sok kuat dan tangguh. Hingga akhirnya Bian tak sadarkan diri, Pandji keluar sebagai pemenangnya.
Para penonton hanya bisa melihat sebagian dari aksi Pandji dan Bian. Gerutuan dan pujian berdengung hampir di seluruh tribun penonton. Pandji dalam waktu singkat menjadi primadona.
Alaric menyambut sang putra dengan senyum, Pandji berhasil membuat bangga kesatrian miliknya sendiri. Namun raut wajahnya berubah ketika ikut melihat ke arah yang ditunjukkan Pandji.
Sari merasakan ada aura aneh yang menyapanya. Ia terkesiap, ini aura yang sama seperti dalam mimpinya. Sari mencari si pemilik aura aneh dan dengan segera berdiri mencari.
Ia tidak mengindahkan panggilan Doni dan Saka, ia terus menerobos pelan mencari pemilik energi gelap itu. Hingga akhirnya ia menemukan Candika sedang berbincang dengan wanita bercadar.
Dia …!!
Candika sepertinya menyadari jika Sari memperhatikan dirinya, ia segera mengajak wanita bercadar yang sempat melirik Sari tajam itu dengan segera.
Oh jadi dia itu guru Candika? Wanita itu yang akan membuka portal dimensi!