
Sari mengerjap tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Pemuda yang ia cari dalam ramalan ternyata anak lelaki lucu yang pernah ia temui dulu. Garis takdir benar-benar telah berjalan sesuai rencana-Nya.
"Saya nggak salah dengar kan mas?" Sari ingin memastikannya sekali lagi.
"Ya, ini kan baru perkiraan saya mbak. Bisa jadi Pandji yang dimaksud atau bisa jadi bukan tapi memang sejak masih direncanakan sudah ada yang meramalkan jika putra saya Pandji akan lahir pada hari kejayaan setan,"
"Eeh … maksud mas Al gimana sejak masih direncanakan?" Doni memiringkan kepalanya pura-pura bingung dengan maksud perkataan Al.
Alaric menjawab dengan kerlingan khas dirinya, "Duh, mas Doni kayak nggak tau aja maksud saya?"
"Oh, iya … maksudnya nganu ya?" sahut Doni konyol tak jauh seperti tingkah Al.
"Beb, kapan coba kita ikut merencanakan kek mas Al sama mbak Selia gitu? Mumpung masih kuat lho sayanya," Doni dengan iseng menyindir Sari.
"Eeh, memangnya kalian menunda momongan? Waaah rugi lho mbak, apalagi mbak Sari masih …,"
"Muda dan cantik" Doni menatap dan memuji istrinya dengan mata penuh gairah.
"Ehem … duh saya kalo gini jadi pengen ikutan liat … istri saya!" Al dibuat keki dengan tatapan Doni pada Sari.
"Beb, don't make mas Al feel desire?!" Sari yang tak enak hati memutuskan pandangannya dari Doni.
"Uups, sorry beb! Maaf mas Al, saya terbawa suasana. Kita kembali ke ramalan tadi,"
Al yang sempat salah tingkah menggaruk kepalanya lalu kembali bertanya pada Sari.
"Boleh tahu apa hubungannya dengan putra saya Pandji?"
"Kalau benar mas Pandji adalah pemuda dalam ramalan itu artinya dia mengemban tugas besar. Akan ada kekacauan luar biasa yang ditimbulkan oleh iblis,"
Sari kemudian menjelaskan apa yang tertulis dalam buku kuno miliknya. Buku yang telah ditulis ratusan tahun lalu. Al mendengarkan dengan serius begitu juga dengan Doni meski ia sudah mengetahuinya.
Ia juga menceritakan tentang legenda tujuh pusaka yang nantinya akan menjadi rebutan para kesatria. Selain itu Sari juga menceritakan misinya dan alasan mencari Airlangga untuk membalas dendam kematian rekan-rekannya.
"Lewat pemuda itu saya bisa menemukan seseorang yang mampu melihat ke dasar jiwa manusia biasa," Sari mengakhiri ceritanya.
"Maaf bukan bermaksud ikut campur tapi balas dendam itu bukan sikap kesatria mbak. Hidup dalam dendam apa tidak menyiksa, apalagi mbak Sari sudah belasan tahun mencari keberadaan Airlangga?" Alaric mencoba memberikan nasihat bijak pada Sari.
"Saya nggak peduli mas, darah dibayar darah dan nyawa dibayar nyawa!" jawab Sari dengan tegas.
"Mas, kami sudah melewati hal yang tidak bisa di logika dengan akal manusia biasa. Sampai detik ini pun bayangan kematian rekan kami dan juga … tunangan Sari masih jelas terlihat menari nari di mata!" Doni menambahkan
Al menghela nafas panjang sebagai teman lama ia hanya ingin mengingatkan tapi keputusan ada ditangan Sari sendiri.
"Jadi mbak Sari kemari hanya untuk mencari orang itu kan bukan putra saya?"
"Betul, hanya saja saya harus memastikan kalau mas Pandji memang pemuda dalam ramalan itu." jawab Sari
"Mbak Sari mau melihat mas Pandji dulu? Saya bisa manggilnya sekarang?"
"No, saya nggak mau terburu-buru mas. Besok juga kita bakal ketemu kan di turnamen? Saya akan memastikannya sendiri begitu juga dengan keberadaan orang yang saya butuhkan," jawab Sari dengan tegas.
"Ehm, tentang orang itu saya rasa saya tahu siapa orangnya tapi … lebih baik mbak Sari besok lihat sendiri saja,"
"Siapa mas? Apa dia masih kerabat mas Al juga?" tanya Sari penasaran.
"Dia anak angkat saya, putri teman saya dari Surabaya. Namanya Mikaila, dia punya kemampuan skill eyes yang cukup mumpuni,"
"Apa dia disini?"
"Iya, dia sedang mengambil program pasca sarjana disini."
"Wah kebetulan yang sungguh tak terduga,"
Ketiganya terlibat pembicaraan mengenai turnamen besok, Sari juga bertanya tentang sosok Mikaila. Ia ingin memastikan bahwa benar gadis itulah yang dimaksud oleh Bayu.
Anak yang lahir dengan energi istimewa dari roh pusaka penganten milik keluarga Alaric yang kini diwariskan kepada Pandji.
Al menceritakan detail tentang putri angkatnya itu dari mulai kebiasaannya, makanan kesukaannya, sifatnya, hingga karakternya yang kuat dan keras kepala. Semuanya direkam dalam ingatan Sari.
"Wah, sifatnya mirip sama kamu beb!" ujar Doni dengan menggelengkan kepalanya.
"Oh ya, big trouble for you mas bro … siap-siap ngadepin dominasi wanita dalam rumah!" Al mengingatkan dan tersenyum pada Doni.
"Yah setidaknya saya jadi laki-laki paling ganteng besok dirumah," sahut Doni jenaka.
Sari hanya tersenyum, otaknya mulai memikirkan sebuah rencana agar Mika mau bergabung dan membantunya.
Malam semakin larut Sari dan Doni pun berpamitan kembali ke hotel tempat mereka menginap. Sebelumnya mereka bertiga membuat kesepakatan untuk tidak memberitahukan hal penting itu pada Pandji dan juga Mika.
Agar mereka fokus pada turnamen terlebih dahulu. Al mengantarkan keduanya hingga ke halaman, sayang sekali Selia tidak bisa menemani karena banyaknya pekerjaan yang harus dipersiapkan untuk perhelatan esok hari.