
Keesokan paginya, Sari memanggil para penjaganya. Ia ingin tahu dimana Anna berada.
"Apa kalian menemukannya?"
"Iya, hampir saja dia kembali mendapatkan korban. Kami mencegahnya dan dia bersembunyi. Di salah satu kamar dalam hotel ini!" jawab Bimasena.
"Kamar 231 dan 232 kan?"
Bimasena mengangguk. Ia berencana untuk mencari tahu siapa Anna.
"Akhir-akhir ini para lelembut selalu mengambil hawa kehidupan manusia. Itu aneh kan? Mereka biasanya hanya iseng tapi ini … mencurigakan!"
"Seseorang sepertinya mengendalikan mereka, atau mungkin yang kita temui itu bagian dari satu kelompok tertentu."
"Pemuja iblis or penghalu kesempurnaan ilmu?"
"Mungkin keduanya Sar, aku hanya merasa kita perlu waspada. Airlangga bisa jadi telah mengintai kita. Saka telah memberikan informasi penting kan?"
"Iya, aku juga curiga ke arah sana. Aku jadi penasaran siapa manusia yang membantu Airlangga!"
"Siapa yang mencurigakan?" Doni bertanya saat keluar dari kamar mandi.
"Hhm, entah. Lelembut?"
"Anna?" tanya Doni lagi
"Bukan hanya dia, beberapa waktu lalu aku juga nemuin lelembut yang sama. Mereka mangsa jiwa manusia. Aku cuma sedikit curiga." jawab Sari seraya menuangkan air panas ke cangkir berisi kopi bubuk untuk Doni.
"Apa kalian sudah menyelidikinya?" tanya Doni pada keempat penjaga Sari.
"Belum, tapi kamu akan pergi mencari tahu," jawab Bimasena.
"Boleh aku mencari Anna setelah ini? Dia membahayakan nyawa manusia beb?!"
Setelah sedikit bernegosiasi akhirnya Doni mengijinkan Sari tentu saja dengan syarat. Doni mengajukan syarat yang sedikit membuat Sari kesal. Pemberlakuan jam malam.
Yang benar saja, memangnya para lelembut juga punya jam kerja pagi!
...----------------...
"Aneh, terlalu sepi! Mungkin ini yang bikin para karyawan takut. Tapi siapa Anna? Aku sudah menginap 3 hari disini dan baru sekarang ketemu hantu itu?"
Sari mendekati dua kamar berseberangan yang diberitahukan oleh Leo. Energi negatif menyergapnya segera, dua kamar itu mengeluarkan bau khas para lelembut.
"Disini yaa, baiklah dua kamar ini adalah sumbernya. Kemungkinan salah satu diantaranya adalah kamar tempat Anna tinggal!"
Sari mencoba masuk ke salah satu kamar.
"Terkunci, hhm … ya iyalah masa kebuka bisa dimasukin tamu nanti! Otakku sepertinya miring abis cium bau Anna!" gerutu Sari merutuki kebodohannya.
Baru saja Sari berbalik, pintu kamar terbuka dengan sendirinya. Sari memejamkan mata sejenak. Ia lalu berbalik dan memasuki kamar yang gelap dan terasa lembab.
Meski hari sudah siang kamar itu gelap, tidak ada sedikitpun cahaya yang menerobos dari balik jendela dengan tirai yang tertutup. Sari mencoba menyalakan lampu tapi tidak bisa, rupanya pihak hotel sudah memutuskan aliran listrik dikamar ini.
Sari menajamkan matanya, siluet seseorang yang duduk di tepi ranjang tampak tidak asing lagi. Sosok dengan tubuh tinggi menjulang. Sebuah nyanyian dari negeri kincir angin yang sangat Sari hafal terdengar lirih dari sosok itu.
"Anna?" Sari memanggil nama Anna.
Ia berjalan mendekati Anna yang masih bersenandung. Sari kini berdiri sejajar dengan Anna. Wajah Anna tampak berbeda, ia terlihat seperti manusia biasa. Mata tak biasa Sari membuatnya bisa melihat dalam gelap.
Mata Anna yang biru tampak indah menghipnotis, paras cantiknya dan rambut pirang sebahu miliknya benar-benar mencerminkan siapa Anna dulu, bangsawan muda Belanda.
"Siapa kamu sebenarnya Anna?"
Anna berhenti bersenandung, ia menoleh ke arah Sari.
"Wie ben ik? Anna Van de Groot ... ik ben de dochter van Jansen,"
(Siapa aku? Anna Van de Groot … aku putri dari Jansen,)
"Kenapa kamu mengganggu tamu disini? Bahkan meminta nyawa delapan wanita?"
"Ik heb de lucht van het leven nodig, de eigenaar van dit hotel staat het toe in overleg,"
(Aku membutuhkan hawa kehidupan, pemilik hotel ini mengijinkan aku dengan sebuah perjanjian,)
Perjanjian? Lagi-lagi ada manusia bodoh yang membuat perjanjian dengan para lelembut!