Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Bisikan Gaib



Matahari sudah naik cukup tinggi ketika Sari dan Doni bangun dari tidur nyenyak ya. Semalam adalah tidur terlelap yang berkualitas bagi keduanya setelah sehari semalam harus berurusan dengan pihak hotel dan kepolisian.


Doni dikejutkan dengan suara panggilan yang masuk ke ponselnya. Al mengkhawatirkan kondisi mereka, rupanya kehebohan di hotel kemarin sampai juga ke telinganya. Setelah menjelaskan semua baik-baik saja dan situasi aman pada Al, Doni menutup panggilan itu.


Terdiam sejenak lalu menatap Sari yang masih tertidur. Doni memutar nomor layanan kamar, memesan makan siang untuk mereka berdua. Dengan lembut, ia mengusap rambut hitam Sari mengecupnya dan tersenyum. Menatap wajah cantik istrinya dengan penuh cinta.


"Srikandi cantikku, kalo lagi tidur begini nggak ada bedanya seperti wanita lainnya. Tetap cantik, manja, keras kepala, siapa yang ngira kalo istri cantikku pembasmi lelembut nakal!" gumamnya geli.


"Semoga setelah semua ini selesai, kamu bisa kembali menjadi manusia biasa. Menjadi istri yang taat sama suami dan juga … melahirkan anak untukku," Doni mengusap lembut perut Sari yang masih belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan.


Harapan Doni cukup besar untuk memiliki keturunan, 15 tahun bukan waktu yang singkat. Ia cukup bersabar menunggu Sari berubah pikiran tapi kini Doni merasa perlu memberikan batasan pada Sari. Bara api dendam yang masih bercokol dalam hati keduanya, harus segera dipadamkan.


Doni mengecup puncak kepala Sari dan meninggalkannya untuk membersihkan diri. Sari membuka mata tepat saat Doni masuk ke kamar mandi. Sari sebenarnya sudah bangun hanya saja ia malas untuk membuka mata. Setiap kalimat serta harapan Doni terdengar jelas di telinganya.


"Ik hoop het ook mijn liefste, ik ben moe en wil dat alles snel voorbij is."


(Aku harap juga begitu sayangku, aku lelah, dan berharap semuanya segera berakhir)


*****


Usai makan siang yang tidak romantis di kamar pasangan unik itu memutuskan untuk berjalan jalan sejenak di kawasan Malioboro. Menghabiskan waktu menunggu datangnya senja.


Doni seperti sedang berjalan dengan sugar baby- nya dan sukses menarik perhatian beberapa pejalan kaki yang berpapasan dengan mereka.


"Hhm, resiko punya istri kek kamu beb! Lihat tuh semua ngeliatin kita!" 


Doni mulai jengah dengan tatapan miring beberapa wisatawan. Sari hanya tertawa kecil, tidak menanggapi. Ia menarik tangan Doni ke sebuah lapak yang menjual berbagai jenis baju batik.


"Monggo mbak, dipilih bajunya ini murah lho! Kualitasnya juga bagus!" Si penjual menawarkan barang dagangannya.


"Iya mas, saya lihat dulu ya!" jawab Sari dengan senyuman.


Si penjual mengagumi kecantikan wajah Sari yang lebih mirip bule ketimbang wajah Indonesianya. Dad Barend menurunkan gennya dengan kuat pada Sari menciptakan wajah cantik sempurna yang berpadu dengan kearifan lokal.


"Mas, ini istrinya apa pacar?" Penjual itu berbisik mendekati Doni.


Doni keheranan menatap penjual batuk dari ujung kaki ke ujung rambut.


"Kenapa emang?"


"Ayune mas, nemu dimana? Saya juga mau punya pacar kayak gini mas!"


"Eh Nemu? Lu kata barang hilang pake acara nemu?!" sahut Doni kesal.


"Lah kan nanya mas, beruntung lho mas'e jadi bisa …," penjual itu tidak melanjutkan perkataannya, 


"Bisa opo?!" 


"Perbaikan keturunan mas!" sahutnya terkikik


"Weh lah semprul! Ngece aku, njaluk di heeeh ki!" Doni mengangkat tangannya hendak menyikut si penjual tengil yang masih berusia 20 tahunan itu.


"Sorry, guyon mas ben ora stres iki aku! Dagangan sepi, utang numpuk, marai pecah ndas ku mas!" keluhnya ketika tawanya mereda. ( bikin pecah kepalaku mas!)


"Yo sabar mas jenenge we dagang kadang payu kadang yo tombok to?!" 


( ya sabar mas, namanya juga dagang kadang laku kadang rugi kan?)


"Iyo sih mas tapi …,"


(Apalagi? Orang kok sukanya gantung kalimat! bikin emosi aja!)


"Ehm, Nganu mas …," penjual itu celingukan melihat situasi sebelum ia kembali berkata.


"Ono sing aneh he mas! Dulu dagangan saya laku keras, sampai saya kewalahan karena banjir orderan. Tapi sekarang kok wagu (aneh) yo mas, orang-orang seperti nggak lihat lapak saya!"


Si penjual bernama Arya itu mengusap tengkuknya. Wajahnya tampak memelas, membuat Doni iba.


"Orang-orang lewat gitu aja kayak nggak liat saya ada! Ada salah satu pelanggan saya sampai telpon mas, nyariin saya disini padahal lapak udah digelar lho! Saya juga ada disini, bilangnya nggak lihat!" Arya bercerita dengan logat Jawa kental dan wajah pasrah.


Doni hanya manggut-manggut, apa yang dialami Arya juga dialami beberapa penjual lainnya di tempat yang berbeda. Sudah hal lumrah dan rahasia umum jika antar pedagang saling menyikut demi rupiah yang tak seberapa.


Doni beralih menatap istrinya yang sedang terpaku dengan satu stel baju batik bermotif tumbuhan.


"Coba diruqyah aja mas," saran Doni pada Arya.


"Iya mas, saya juga mikir gitu cuma belum sempat cari kyai!"


...----------------...


Sari merentangkan baju batik yang menarik perhatiannya. Tapi sebenarnya Sari hanya berpura-pura, dihadapannya sosok lelembut berwajah hancur sedang mengintip dari balik tumpukan pakaian siap jual milik Arya.


Sosok itu mengintip Sari matanya yang hampir keluar sebelah menatapnya nyalang penuh amarah. Bau anyir darah dan busuk bercampur aroma bunga membuat Sari mual.


Hmmm, sudah kuduga … rupanya kamu yang bikin orang ini susah jualan!


Dengan mata batinnya Sari melihat pagar pembatas yang dibuat sengaja oleh seseorang. Pagar gaib yang menutup lapak Arya. Awalnya Sari iseng membuka mata batinnya untuk berjaga-jaga dari iblis bermoncong yang berkamuflase dalam tubuh manusia. Tapi ia malah mendapatkan bisikan gaib untuk menolong seseorang yang akan ditemuinya.


 Benar saja tak lama setelah bisikan itu datang Sari melihat Arya. Sosok pria muda dengan baju lurik berdiri di sebelah Arya menunduk hormat padanya. Memberikan tanda bahwa dialah si pembisik dan meminta bantuan Sari.


Tanpa sepengetahuan Arya, Sari merapalkan mantra pembuka tabir gaib yang dikuasainya. Menerobos pagar yang semestinya tidak terlihat.


Sari menyeringai bengis pada sosok yang masih bersembunyi itu. Dari balik pakaian yang ia rentangkan Sari menatap tajam dan berkata,


"Keluar sendiri atau harus aku paksa!"


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...selamat sore teman2🥰...


...Sari menyapa lagi, mohon maaf hanya 1 bab yaa .... otak lagi nda sinkron ini🤭...


...semoga bisa menghibur episode kali ini yaa,...


...ohya saya mau promo dl...jika berkenan silakan mampir ke novel ke 7 saya,...


...Autumn in December...


...roman mistis...


...pengen bikin yang roman2 pake bumbu mantra cinta secukupnya semoga bisa menghangatkan hati teman2😁...


...jaga kesehatan di bulan Agustus yang sibuk, jangan lupa makan, istirahat cukup n minum vitamin yaa...( kek dokter cerewetnya🤪)...


...MET istirahat,...


...cium sayang untuk kalian😘...