Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Pertarungan Menegangkan 1



Sari mengikuti Doni menjauh dari arena pertandingan, meninggalkan Saka yang masih harus memantau pertandingan beberapa muridnya.


"Kamu nggak mau lihat Pandji bertarung?" tanya Doni menemani Sari duduk di pendopo kesatrian.


Sari memilih tempat yang sepi untuk menetralkan energinya. Mendengar nama Airlangga disebut membuat Sari tidak bisa menahan kemarahan dalam dadanya. Energinya sedikit meluap. 


"Nggak, minatku lihat pertandingan itu tiba-tiba saja hilang," Sari mengatur duduknya dan memejamkan mata.


Doni langsung mengerti apa yang sedang istrinya lakukan. Ia diam menunggu Sari menenangkan diri. Doni mengamati sekitar, ia semakin merasa tertekan dengan hawa aneh yang menyapanya.


"Terlalu banyak iblis yang datang kemari, sepertinya Hargo Baratan telah menjadi titik sentral dari energi gelap ini," gumam Doni menatap ke arah kabut hitam yang menyelimuti kesatrian di seberang Putra Ganendra.


Sari membuka mata dan ikut menatap ke arah yang dilihat Doni.


"Tahap awal dari perjalanan kesatria baru,"


"Sudah selesai?" tanya Doni dibarengi anggukan kepala Sari.


"Makan yuk laper nih, Saka sukses bikin perutku laper!" 


Doni menarik tangan Sari, mereka berpapasan dengan Pandji dan tentu saja Mika serta satu orang gadis lainnya. Sari tersenyum tipis lalu menarik Doni agar tidak mendahului langkah Pandji dan kedua wanita di sebelahnya.


"Kenapa beb, laper nih!" gerutu Doni melirik pada Sari dengan kesal.


"Lihat si Mika, keknya dia suka deh sama Pandji! Mukanya sampe jutek begitu!" bisik Sari dengan menahan tawanya.


"Cck, nggak perlu kamu jelasin aja udah keliatan kok Mika suka Pandji! Eeh tapi mereka kan kakak adik bukan?"


"Yup, biarpun anak angkat tetap aja mereka bersaudara kan?"


Sari kembali berkata diiringi tawa kecil, "Kek kata-kata ajaibnya si Chu Pat Kai, cinta deritanya tiada akhir!"


"Jahat kamu beb, pake ngetawain Mika segala! Kita butuh dia lho besok, kalau sampai dia tahu kamu ngetawain cintanya bisa gagal semua rencana kita!" Doni mencubit hidung Sari dengan gemas.


"Well, sepertinya aku punya rencana buat Mika!" sahut Sari penuh makna.


"Rencana? Apa itu?"


"Dilihat dari kedekatan mereka, nggak mudah memisahkan Mika sama Pandji. Mika sangat melindungi Pandji dan enggan berpisah sedetikpun dari anak ganteng itu,"


"Ya terus?"


"Kita dekatin Pandji buat ambil Mika dulu, ehm … mungkin setelah perang besar mereka. Mika punya andil besar juga nanti, jadi aku nggak akan memisahkan mereka dulu. Pandji need her!"


"Hhm, sifat keras Mika nggak akan mudah ditaklukan jadi … aku mau cariin jodoh buat Mika!" jawab Sari cengengesan.


"Buat apa?!"


"Ssst, jangan keras-keras beb nanti mereka dengar!"


Sari setengah berbisik melanjutkan perkataannya setelah jarak mereka dengan Mika aman,


"Buat ngehibur Mika biar betah ikut kita and tentu saja ngelupain Pandji!"


Sontak saja Doni melongo mendengar jawaban konyol Sari, tapi ia hanya bisa menggerutu dalam hati.


Menjodohkan Mika?! Come on beb, ini bukan jaman Siti Nurbaya! 


*****


Sari dan Doni kembali masuk ke arena pertandingan setelah mengisi perut yang kelaparan. Sari sesekali menatap lelaki yang duduk di sebelah Alaric, lelaki yang tampak lebih tua dari Al dan rambut sedikit memutih itu tampak beberapa kali mendongak dan berkomat kamit merapalkan mantra.


Sari memperhatikannya dari tribun penonton yang berhadapan. 


Oh jadi lelaki itu si pembuat perjanjian! Tapi, dari mana dia bisa berhubungan dengan iblis ini? Manusia biasa tidak bisa berhubungan langsung tanpa perantara!


Sari memperhatikan tiap gerakan dan ekspresi lelaki itu.


"Coba kamu lihat laki-laki disebelah mas Al beb!" Sari menyenggol suku Doni.


"Kenapa dia?"


"Dia sumbernya, dia si pembuat perjanjian itu!"


"Oh, Candika? Gurunya si Bian? Kemarin di pesta dia kan yang menengahi pertikaian Pandji sama si Bian?!" Doni memutar ingatannya.


"Iyaa, tapi pasti ada orang lain dibelakang orang itu!"


Mata Sari berkilat, ia menembus batas manusia dan masuk ke dalam memori Pemilik Hargo Baratan. Bayangan seorang wanita misterius dengan cadar dan tudung persis seperti dirinya muncul. Kelebatan masa lalu Al dan keluarganya juga muncul.


Sari mulai menemukan benang merahnya. Ia pun kembali ke tubuhnya lagi bersamaan dengan terbentuknya kabut hitam di sekitar arena yang menutupi pertarungan Pandji dan Biantara.


"Kabut ini …,"


Kekuatan sihir Biantara lumayan juga, tapi belum cukup untuk menandingi Pandji!