Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Rencana untuk Saka



Sari masih lelap dalam tidurnya ketika Doni mengganggunya dengan kecupan lembut di leher yang membuatnya geli.


"Wake up dear, udah siang …," bisiknya menggoda Sari. (Bangun sayang)


"Please beb, one hour again …," Sari menepis tangan suaminya yang bergerilya menyusuri lekuk tubuhnya. (Tolong sayang, satu jam lagi)


"No, we have a job! Wake up or, i will do this!"


(nggak, kita punya kerjaan! bangun atau aku bakal ngelakuin ini!)


Doni kembali berbisik seraya perlahan menurunkan tali gaun tidur yang Sari kenakan perlahan.


"Beb, no! Aku capek!" Sari kembali menjawab dengan mata tertutup.


"Wake up sweetheart, kalo nggak mau juga aku hukum kamu nanti sampai nggak bisa bangun dari tempat tidur. Milih mana, bangun or dikerjain sampe lemes?!"


 Doni kembali menggoda dengan bisikan dan menghujani Sari dengan kecupan basah di leher dan membuai Sari dalam kelembutan sentuhan tangan di dadanya 


"Beb!" Sari protes, akhirnya ia pun dengan malas membuka mata dan duduk dengan wajah ditekuk sembilan.


"Udah niih, aku dah bangun! Tangannya diem bisa nggak!" gerutunya yang masih kesal karena Doni masih asik bergerilya menggoda istrinya.


"Nanggung, pamali mengakhiri sesuatu yang sudah dimulai dengan panas!" seringai nakal Doni pada istri cantiknya.


Sari menarik garis senyum dengan paksa, mau menolak takut dosa mau dilayani Sari terlalu lelah. Dilema berkecamuk dalam hatinya. Akhirnya Sari pun pasrah mengikuti kemauan Doni yang sudah on fire dan bersiap membuat project masa depan.


Sebuah ketukan kasar di pintu kamar mereka sukses membuat gagal rencana Doni yang sudah setengah jalan dengan projects masa depannya.


"Mas … mbak … udah bangun belum! Ada berita penting niiih!" kata suara yang Sari yakin itu Saka.


"Aduh, siapa sih!! Gangguin aja!" Doni menghentikan gerilya manisnya dengan Sari.


"Iyaa, ini udah bangun! Bangun semua malah, udah tegang!" sahutnya lagi dengan kesal.


 Doni mengumpat seraya turun dan mengenakan lagi pakaiannya yang sudah berceceran di lantai. Sementara Sari terkekeh melihat suaminya yang terus mengomel dengan frustasi.


Doni segera membuka pintu, memberi celah kecil agar Sari tidak terlihat. Dengan masih bertelanjang dada Doni menyapa Saka yang sudah tak sabar.


"Mas, ehm …," Saka menghentikan ucapannya dan menelisik Doni dari ujung rambut ke kaki.


"Kenapa pake lihat-lihat gitu?!" tanya Doni dengan kesal. Ia tidak nyaman dengan tatapan menyelidik Saka yang menyentuh area pribadinya.


"Mas Doni baru mandi? Kok belum pake baju?" Saka bertanya dengan polosnya yang langsung mendapatkan tatapan tajam nan garang dari Doni.


"Aaah, iyaaa … Nganu yaa, maaf dah kalo saya ganggu!" Saka dibuat salah tingkah dengan tatapan mematikan Doni.


"Emang situ kerjaannya ganggu aja! Ada apaan sih teriak-teriak gak jelas? Berita apaan!" 


Doni keluar kamar dan menutup pintunya karena ia melihat Sari berjingkat turun mengenakan pakaian. Doni tidak ingin Saka melihat istrinya yang cantik itu.


"Saya dapat kabar dari teman di Yogya, semalam ada kejadian luar biasa di Kesatrian Ganendra dan …,"


Saka berhenti dan tidak meneruskan ucapannya. Dari raut wajahnya yang rumit bisa dipastikan kejadian luar biasa itu berkaitan dengan kemunculan pasukan iblis.


 Doni memang tidak memberitahukan pada Saka apa yang sebenarnya akan mereka hadapi. Belum saatnya, karena Doni menunggu waktu yang tepat.


"Dan apa nih mas? Saya nungguin lho?" Doni menaikkan alisnya sebelah.


"Ada korban yang jatuh mas, kabarnya putri Den Bagus Candika meninggal dan istrinya juga terluka!"


"Eeh, apa? Putrinya Candika?" Doni terbelalak.


Saka mengangguk pelan, ia kembali berkata. "Para tetua dari berbagai kesatrian mulai berbisik untuk bersatu mas. Salah satu utusan sudah datang menemui asisten saya pagi tadi, meminta kita untuk bergabung dengan aliansi ksatria lainnya!"


"Gerak cepat juga rupanya mereka!" gumam Doni.


"Tapi …," Saka kembali ragu untuk mengatakannya.


"Beb, jangan galak-galak dong sama Saka! Dia sampe gugup gitu lho mau ngomong!" tukas Sari saat ia keluar dari kamar.


"Habisnya bikin kesel orang aja ni dia!" Doni tidak mau disalahkan Sari, egonya terlalu besar.


"Masih kesel? Nanti malam kita lanjut deh, mau?" bisik Sari pelan di telinga Doni.


Senyum mengembang di bibir Doni, ajakan istrinya bagai air di Padang Sahara. Wajahnya pun berubah sumringah tidak lagi cemberut.


"Lanjutin mas Saka, tapi kenapa?" tanya Sari.


"Mbak Sari tahu sendiri gimana kemampuan kita kan? Apa kita bisa bantu mereka mbak?" Saka rupanya menyangsikan kesatrian miliknya yang masih terbilang baru.


Sari tersenyum lalu menepuk bahu Saka, ia berlalu menuju ruang tengah yang diikuti Saka.


"Layak atau tidak kemampuan kita itu nggak masalah mas Saka. Niat kita membantu sekuat tenaga para kesatria untuk melawan iblis." 


"Jika sudah menyangkut kelangsungan hidup manusia maka kita wajib membantu!"


"Mas Saka nggak mau kan manusia musnah dan digantikan dengan dominasi iblis? Kalo saya sih nggak mau mas!"


"Yang seharusnya hidup di dunia lain ya harus tetap ada disana, yang disini ya tetap disini. Ketetapan Gusti Allah itu sudah diatur dengan begitu indah dan merupakan sebaik baiknya ketetapan," 


Saka hanya manggut-manggut tanda mengerti, ia sedikit khawatir dengan perkataan Sari tentang dominasi iblis.


"Apa iblis yang kita lihat di turnamen itu berniat mengambil alih dunia mbak?"


"Hhm, kalo itu saya nggak tahu mas Saka. Yang jelas musuh kita kali ini luar biasa, yang akan kita hadapi kematian massal umat manusia," Sari menerawang jauh ke luar jendela besar yang langsung tembus ke taman belakang.


"Kiamat dong mbak! Aduh saya belum menikah mbak, masa udah mau kiamat aja!" ujar Saka kesal.


"Ya carilah, mas Saka mau nyari model gimana sih! Atau mas saka belum bisa move on dari Lita ya?!" Sari menebak hati Saka dengan tepat.


Saka hanya tersenyum masam. 


"Halah mas, kamu ni mau sampai kapan inget ma tu demit! Udah nggak ada juga, udah bahagia juga disana bareng Lingga! Kamu juga pantas untuk bahagia kali mas!" Doni ikut memberikan nasehat pada Saka saat ia bergabung dan duduk disebelah Sari.


"Nggak tau deh mas, membuka hati itu kan nggak semudah bongkar muat barang mas! Saya … butuh waktu!" sahut Saka dengan wajah sendu.


"Hhm, melow bener siih hidup kamu mas! Usaha dong, duit banyak, muka ganteng, harta melimpah, kurang apa lagi coba?!"


Sari menatap Doni dan mengerling nakal memberi isyarat pada suaminya itu.


"Apa? Eh, jangan-jangan kamu mau …," Doni memberikan pertanyaan yang menggantung pada Sari.


Sari mengedipkan matanya dengan seringai jenaka pada Doni, 


"Oh my … seriously?"


"Yes," jawab Sari


"No!" Doni menggelengkan kepala berharap istrinyae mengurungkan niatnya.


"Beb, nggak ada salah nya buat coba kan? Siapa tahu jodoh, kan dapet pahala kita!" bisiknya pada Doni.


"Ya kalo dia mau, kalo nggak gimana?" Doni masih menentang rencana Sari.


"Ssst, udah diem aja itu urusan aku beb!"


"Tapi kan …,"


Sari membungkam mulut Doni dengan sebuah ciuman dadakan yang lembut, membuat Saka salah tingkah melihatnya.


"Hmmm, obat nyamuk dah! Apes bener saya bawa kalian berdua kesini, malah bikin keki!"