
Sari menatap ke arah kubikel tempatnya dulu bekerja. Tidak banyak perubahan selama lima belas tahun. Hanya posisi ruangan pak Arya yang jauh lebih besar dan luas serta ruang meeting yang kini letaknya bersebelahan dengan ruangan pak Arya dengan berbatas dinding kaca.
Kenangan keceriaan Ahmad, Rara, dan Bagas kembali berputar. Sari berjalan perlahan mendekati ruangannya. Beberapa anak buah Doni sibuk dengan pekerjaan masing - masing, tapi melihat Sari mereka tetap tersenyum dan menyapa ringan.
Kubikel dimana Sari kerja dulu masih ada di posisinya dan kini kosong karena si pemilik pergi liputan. Sari menyentuh meja yang dulu juga dipakai olehnya.
Memorinya kembali pada masa saat liputan sintren, keceriaan, ketegangan, dan emosi saat mereka masih bersama. Kenangan Rara dan Ahmad yang serius mengedit tayangan, Bagas yang tersenyum padanya dari seberang kubikel membuat Sari tak mampu membendung tangis.
Memori itu terus berputar membuat hati Sari semakin sakit. Bayangan Ahmad yang berlari meledeknya, Rara yang mengulurkan ice americano padanya, dan Bagas yang tersenyum seraya memegang lembut tangannya mengusap cincin di jari manisnya.
Aku merindukan kalian semua …,
Sari terisak, tangannya mencengkeram erat tepi kubikel. Rasanya sungguh menyesakkan. Untuk beberapa saat Sari larut dalam kesedihannya.
"Mbak, ini …,"
Suara seorang perempuan terdengar menyadarkannya. Wanita cantik berkacamata yang sepintas mirip Rara itu mengulurkan kotak tisu pada Sari.
"Makasih!" Sari memaksakan senyumnya, mengambil beberapa lembar tisu untuk menghapus jejak airmata.
"Udah mbak, nggak baik di ingat terus. Ikhlasin aja, kasian yang sudah nggak ada!" Wanita cantik tadi mengingatkan.
"Iya, makasih!"
Senyum wanita itu sangat mirip dengan Rara membuat Sari berpikir bahwa Rara telah kembali. Ia menatap wanita berkacamata itu dengan takjub, berharap yang sedang berdiri di depannya adalah Rara.
"Mbaknya siapa ya? Kok kenal saya?" tanya Sari penasaran.
"Siapa yang nggak kenal mbak Sari disini? Mbak Sam timnya termasuk mas Doni legend disini! Apalagi pak Arya selalu bercerita tentang tim kalian kepada setiap junior disini," wanita itu setengah berbisik dengan senyum mengembang.
Sari ikut tersenyum, untuk sesaat ia terhenyak dengan wangi parfum yang sangat familiar di hidungnya.
Dia mirip banget sama Rata bahkan aroma tubuhnya, I miss you Ra!
"Sar, kok ngelamun? Ngapain disini, maaf ya kelamaan nunggu!" suara Doni disertai tepukan mengagetkan Sari.
"Ehm, sudah selesai ya? Ini lagi ngobrol sama mbak ini?"
Doni bingung melihatnya, ia celingak celinguk mencari wanita yang dimaksud Sari.
"Mbak yang mana? Kamu dari tadi sendirian lho Sar!"
"Lho kemana dia, kok cepet banget perginya? Tadi dia ada disini lho beb!"
Doni menyentuh dahi Sari sejenak.
"Kamu kecapean ini, yuk kita pulang! Saka udah nunggu kita dirumah kan?!"
"Tapi …,"
"Ssst, case closed beb! We're going home now! Don't ask!"
(ssst, udah kasus kita tutup! kita pulang sekarang! jangan tanya lagi!)
Doni menarik tangan Sari perlahan. Ia ingin segera meninggalkan ruangan itu. Ruangan penuh kenangan baginya juga bagi Sari. Ruangan yang menyimpan sejuta memori baik kesedihan dan juga kegembiraan.
Sari dengan berat hati mengikuti langkah Doni. Kembali ke ruangan itu adalah kesalahan, karena membuat luka goresan semakin dalam. Sari berhenti sejenak, saat pandangannya beradu dengan sosok wanita yang tadi ia temui.
Wanita itu tersenyum pada Sari dan melambaikan tangannya. Ia berbalik kemudian menghilang begitu saja menembus dinding ruangan. Sari tercekat, wanita itu ternyata benar Rara yang masih terjebak di alam manusia.
Maafin aku Ra, sedikit lagi … bersabarlah! Aku akan menemukan Airlangga dan menuntut balas perbuatannya padamu!
******
Sepanjang jalan menuju kota Solo Sari terus membisu. Tak banyak kata yang keluar dari mulut Sari selain jawaban ya dan tidak. Pikirannya kalut setelah pulang dari kantor Doni tadi siang.
Doni mengkhawatirkan keadaan Sari, ia menyesal telah membawa istrinya kembali ke ruangan itu. Trauma berkepanjangan yang diderita Sari kembali muncul.
"Sar, kamu kenapa diem aja dari tadi?!"
Sari hanya menggeleng pelan. Ia menatap jauh keluar jendela menghindari pertanyaan Doni.
"Aku nggak apa-apa kok, jangan khawatir!" jawabnya lirih.
Doni menghela nafas berat, bagaimana mungkin dia tidak mengkhawatirkan kondisi istri cantiknya itu jika sedari tadi wajah ceria Sari berubah sedih dan diam. Akhirnya mereka tiba di salah satu rest area di kota Yogyakarta, dan Doni memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Hawa aneh menyapa Sari saat baru saja ia turun dari mobil. Sari langsung menatap ke arah langit dan melihat ke sisi selatan kota. Aura iblis pekat bisa Sari rasakan dari tempatnya berada.
Mata tak biasa Sari berjalan jauh ke rumah keluarga Alaric. Ia bisa melihat kubah pelindung yang dibuat Al dihujani cahaya kemerahan. Sang penguasa kegelapan mulai menyerang. Mengincar sesuatu yang tersimpan dalam rumah dan tentu saja mengincar tubuh sang kesatria baru.
Peperangan sudah dimulai! Aku akan memperhatikan debutmu Mikaila!