Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Sepupu dari Holland



Suara dering ponsel menganggu tidur Sari yang baru saja terlelap. Sari menggeliat tapi tak kunjung meraih ponselnya. 


"Beb, ponselmu berbunyi!" gerutu Doni yang masih bergelung dalam selimut.


"Cck, kamu aja yang jawab!" Sari menjawab dengan malas, matanya masih terasa lengket dan sulit terbuka.


Keduanya terlalu lelah setelah perjalanan menembus dimensi penjaga. Mereka pun kembali terlelap. Tak peduli berapa puluh kali telepon berdering. Hingga akhirnya keduanya dibangunkan oleh suara ketukan pintu beruntun yang cukup keras.


"Kak, kakak!" Suara wanita terdengar memanggil dari balik pintu kamar.


"Kakak, apa kau akan tidur terus seharian?" Wanita itu kembali berteriak.


"Beb, apa kau mendengar sesuatu?" Sari memicingkan matanya sebelah dengan berat.


"Hhm, ada yang memanggil kakak!" jawab Doni malas dan mata yang masih tertutup.


"Hhm, kakak? Cuma Kania yang panggil aku gitu," Sari bergumam lirih.


"Tunggu!" Sari membuka matanya segera dan mengerjap tak percaya.


"Kakak! Kak Sari, buka pintunya kak!" Terdengar suara panggilan lagi.


"Kania? Beb, Kania datang!" Sari mengguncangkan tubuh Doni agar segera membuka mata.


"Apaan sih! Ya udah sana temuin, aku masih ngantuk!" Doni kembali menutup tubuhnya dengan selimut.


"Astaga, aku lupa hari ini Kania datang! Aaah gawaaaat, bisa-bisa aku denger omelannya sepanjang hari!" 


Sari buru-buru turun dari ranjang dan segera membuka pintu kamarnya. Benar saja, Kania putri dari Tante Danique berdiri dengan wajah masam.


"H-hai Kania …," Sari sedikit canggung menyapa.


"Kakak, kau lupa hari ini aku datang?" tanyanya dengan mulut membulat.


"Aaah, itu … aku, iya. Sorry Kania, kakak melupakannya!" Sari merasa bersalah dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ya, ya … kau sibuk berpatroli malam? Ik weet het!" (Aku tahu itu!)


"Hhhm, sebenarnya tidak juga. Aku cuma sedikit kelelahan, dan butuh sedikit istirahat." Demi membuat sepupu cantiknya kembali tersenyum, Sari menariknya ke ruang tengah mengajaknya bicara.


"Jadi kamu pulang ke Indonesia sendirian?" 


"Coba tebak?" Kania balik bertanya.


Sari mengernyit, ia meletakkan dua cangkir kopi tanpa gula di meja. "Kau bersama seseorang? Siapa, pacar?"


Kania menggeleng, "Tebak lagi!" Ia menyeruput kopinya lalu menyambar cemilan kue di meja.


"Wie kan ik dan niet anders bedenken dan... Wacht, Erick?"


(Siapa, aku tidak bisa berpikir lagi selain … tunggu, Erick?)


Senyum mengembang di bibir Kania, ia berdiri dan menarik seseorang di ruang tamu. "Surprise!"


Mata Sari membelalak sempurna, terkejut melihat laki-laki tampan yang ada di hadapannya. "No Way?! Oh my God!"


Sari melonjak kegirangan dan memeluk sepupu tertuanya dari negeri Belanda,"Erick Van Peters! ik ben blij dat je er bent!" (Erick Van Peters! Aku senang kau ada disini!)


"See, dia sangat merindukanmu Erick!" Kania terkekeh melihat Sari yang begitu senang dengan kedatangan Erick, sepupu sekaligus teman bermainnya di Belanda.


Erick Van Peters adalah putra dari kakak tertua  Dad Barend. Erick dan Sari tumbuh besar bersama dengan selisih usia dua tahun. Kania mengajak Erick ke Indonesia karena Erick juga merindukan Sari. Cuti panjang sengaja diambil Erick demi datang menemui sepupu kesayangannya.


"Eheem, ada apa ini? Sar, bisa lepasin dia nggak aku sedikit … ehm you know?!" Doni menggerakkan tangannya memberi kode untuk menjaga jarak.


Sari terkekeh melihat Doni yang cemburu pada sepupunya itu. "Eric ini Doni my lovely husband,"


(Siang Doni, akhirnya kita bisa bertemu lagi setelah sekian lama!)


Doni tersenyum dan menerima uluran tangan Eric, "Welkom in Indonesië, Eric!"


(Selamat datang di Indonesia,Eric!)


"Bedankt voor het welkom Don!" (Terimakasih sambutannya Don!)


Reuni kecil keluarga berlangsung hangat siang itu. Kedatangan Kania dan Eric membuat Sari kembali bersemangat. Ia memang merindukan Kania putri Tante Danique, Sari juga merindukan Eric teman masa kecilnya. Tapi ada maksud terselubung yang Sari simpan, sebuah rencana gila.


Saka tak lama juga ikut bergabung dengan keluarga van Barend, kedatangan kerabat Sari dari Belanda membuat dirinya sedikit bersemangat apalagi kabar yang sampai ditelinga Saka sepupu Sari bernama Kania itu sangat cantik.


"Selamat siang semuanya!" Saka menyapa dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin.


"Hai, mas Saka. Darimana nih, tumben wangi bener?" Doni langsung mengendus endus tubuh Saka yang wanginya bahkan tercium sebelum dia masuk ke ruangan.


"Biasa, kantor mas! Orang rumah ngabarin ada tamu dari Holland. Sebagai tuan rumah yang baik saya harus menyambutnya kan?" Saka berkilah pun dengan senyum manis yang terbit bak matahari pagi di bibirnya.


"Hhhm, saya mencium bau modus disini! Biasanya dateng juga dateng aja, kagak pake wangi bener kek pake kembang gini! Terlalu mencurigakan!" Doni kembali meledek.


"Mas Doni bisa aja, saya kan CEO harus keren dong setiap saat!"


Doni memperhatikan Saka dari ujung kaki hingga ujung kepala, ia pun tersenyum mengejek. "Eehm, iya dah! Apa kata pak Saka ajah!" Doni memberikan penekanan pada kata terakhirnya.


"Mas Saka kenalin ini Kania dan ini Erick mereka sepupu saya. Ehm, mungkin mereka bakal tinggal disini selama tiga atau empat bulan ke depan. Boleh kan?" Sari meminta ijin pada Saka.


"Oooh tentu mbak, tentu saja boleh. Mau selamanya juga nggak apa, saya nggak keberatan!" jawab Saka kalem sedikit mesam mesem nggak jelas saat tangannya menyentuh tangan Kania.


"Bilang aja mau pdkt sama Kania!" bisik Doni di telinga Saka.


"Bolehkan dikit mas, sayang cewek cantik dianggurin!"


"Boleh, asal berani bayar mahar gede ke saya!" Doni menyeringai penuh kemenangan.


"Mau berapa?" Saka menantang Doni.


"Busyet! Mas Saka serius?" Doni terbelalak kaget.


"Dia rius, mbak Kania masih sendiri kan? Saya juga jomblo mas, cocok kan?" Saka nyengir seolah memohon untuk dijodohkan.


"Eeh, muke gile ni orang! Beneran nih, boleh mas kawin rumah komplit plus uang dua milyar!" Doni dengan asal menjawab.


"Deal!"


"Eeh, busyet ni orang main deal-deal aja!" 


Doni sebenarnya tidak terkejut melihat kekayaan Saka yang unlimited ditambah lagi ekspresinya yang menunjukkan keseriusannya bicara.


"Eheeem, mau sampai kapan itu tangan lengket sama Kania mas Saka?" Deheman Sari mengangetkan Doni dan Saka yang asik bernegosiasi.


"Eeh, iya … anu, kalo udah kenalan ma cewek cakep bawaannya nggak mau lepas mbak!" Saka salah tingkah dan segera melepaskan genggaman tangannya.


"Biasa beb, modus!"


Sari terkekeh, ia melirik ke arah Kania dan Saka yang saling mencuri pandang. Ia memperhatikan Kania dan Saka yang mulai tertarik dan membuka diri. Kania yang cantik dan Saka yang mapan, mereka benar-benar sempurna.


Rencanaku harus berhasil, tinggal menunggu satu orang lagi!


Sari mengulas senyum tipis, idenya kali ini agak sedikit gila. Double date untuk dua pasangan. Bahkan Doni pun belum mengetahui rencana gilanya. 


Anggap saja ini balas budiku untuk kalian!