
Sari menatap Andika yang masih memeluk mayat pria paruh baya yang sudah tewas itu. Mayat itu menunjukkan kengerian ajal yang menjemputnya.
Mata melotot seolah ingin keluar dari tempatnya, mulutnya ternganga memberitahukan sakitnya roh yang tergadai dengan pemujaan iblis yang dilakukannya. Tubuhnya meringkuk seperti udang dengan kedua telapak tangan yang tidak mengepal sempurna.
"Mbak bisa nggak bantu bapak?"
Sari tersenyum miring, "Sudah terlambat mas untuk bantu beliau!"
"Ehm, maksud saya tubuh bapak, tolong bantu saya supaya bapak posisinya nggak begini. Bisa kan mbak ?!" pintanya sembari mengusap airmata yang menggantung di sudut mata.
Sari menghela nafas berat, ia mendekati tubuh tak bernyawa itu. Mengecek suhu tubuhnya yang masih hangat dan juga persendian pria tua itu.
Dia belum lama meninggal, kalau memang ini ulah Anna bisa dipastikan belum ada 12 jam bapak ini meregang nyawa.
Sari yang penasaran menyentuh daerah diantara kedua alis bapaknya Andika. Ia ingin tahu memori terakhir yang terekam dalam ingatan pria tua itu.
Jari telunjuk Sari mengeluarkan cahaya kuning tipis mencari memori terakhir. Sari memejamkan mata, dan berhasil.
Bapaknya Andika sedang bersemedi saat Anna Van de Groot menghampirinya. Pria tua itu terkejut dan tanpa menunggu kesadaran bapaknya Andika penuh, Anna menyerangnya dan mengambil hawa kehidupan milik bapaknya Andika.
"De overeenkomst is afgelopen!" ( Perjanjian telah berakhir!)
Sari menatap Andika sejenak lalu berganti pada bapak tua didepannya.
"Perjanjian yang sia-sia!" gumam Sari lirih.
"Bisa pinjam tangan mas Andika?"
Andika mengulurkan tangannya pada Sari. Sari memegangnya, membaca doa dan membimbing tangan Andika mengusap perlahan puncak kepala hingga wajah bapak Andika.
Mata melotot bapaknya sudah menutup meski tidak sempurna, mulutnya yang ternganga lebar hanya bisa Sari bantu untuk sedikit tertutup. Sari dibantu Andika meluruskan tubuh bapaknya yang melengkung. Melepaskan kepalan tangan yang mulai kaku dengan perlahan.
"Alhamdulillah … ini lebih baik, makasih mbak!"
"Bawa mayatnya keluar, saya harus menyelesaikan sesuatu disini!" perintah Sari pada Andika dan beberapa orang karyawan yang turut masuk.
Aura mistis pekat mulai terasa di dalam ruangan gelap itu. Sari didampingi Doni dan keempat penjaganya menyambut kedatangan beberapa lelembut yang menjadi penunggu hotel.
"Banyak juga beb mereka," bisik Doni pada Sari.
Sari tidak menjawab dan menatap para lelembut itu satu persatu. Para penunggu hotel itu seperti satu geng berandalan penganggu manusia tapi dengan wajah mengerikan.
Ada anak kecil dengan wajah pucat yang membawa boneka lusuh di tangan kanannya, kuntilanak merah, si tinggi besar dengan bulu hitamnya yang khas. Wanita dengan wajah pucat dan pakaian yang bersimbah berdarah dengan sebuah lubang di pelipis kirinya, si buntalan putih dengan wajah hitam. mereka memasang mode mengancam ke arah Sari.
Sari bisa merasakan mereka sebenarnya hanya suruhan. Bukan penunggu asli seperti Anna. Artinya ada orang pintar lain yang mengirim mereka.
"Pergi tanpa perlawanan atau mati ditangan ku!" ancam Sari tak mau kalah dengan mereka.
Para lelembut itu seperti bergumam seolah ingin bicara membuat kepala Sari pusing.
"Diam! Bukan waktunya mengajukan banding! Kalian tahu kan anak pemilik hotel ini sudah memutuskan perjanjian dengan kalian para lelembut!"
"Kami tidak mau pergi! Perjanjian itu berlaku hingga anak cucu keturunannya!" sahut salah satu dari mereka.
"Yang membuat perjanjian bahkan sudah berkumpul dengan tuannya, kenapa kalian masih bandel dan meminta perjanjian tetap berlangsung?!"
"Kembali pada tuanmu!"
Sari mengatakannya dengan tegas tanpa butuh jawaban dari para lelembut. Mereka menatap tajam Sari, dengan amarah. Mereka para lelembut setia yang rela berjaga untuk tuan mereka yang sesungguhnya.
"Aku anggap kalian memilih kematian di tanganku jika begitu!"
"Habisi mereka teman-teman!"
Sari tanpa ragu memerintahkan Bimasena dan yang lain untuk menyerang sekelompok lelembut penganggu itu. Doni pun ikut andil menghajar si kuntilanak merah dengan pusaka andalan miliknya.
Sari sedikit menjauh, ada energi lain yang ia rasakan di ruangan itu. Energi itu menyapanya dengan nakal, seolah ingin menguji kesabaran Sari.
Siapa itu? Kawan atau lawan? Energinya berbeda dengan para lelembut itu!