Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Akhir dari Pengantar Pesan



Makhluk buruk rupa dengan sayap melekat di kedua tangannya. Gigi tajam, wajah pucat dan telinga meruncing, cakar menghiasi tangan dan kakinya.


"Dia …,"


Doni terperanjat melihat kehadiran makhluk tinggi besar itu, ini kali pertamanya ia melihat dengan jelas makhluk yang dulu pernah menyerang mereka di candi Tikus.


"Anak buah Airlangga!" jawab Sari tanpa berkedip.


"Dukun yang mengirim teluh itu salah satu manusia yang membantu Airlangga melarikan diri," lanjutnya lagi.


"Jadi …," Doni menoleh pada Sari untuk memastikan dugaannya.


"Kita ketahuan beb!" Seringai jenaka Sari pada Doni.


"Ccck, bisanya kamu bercanda beb! Dia lagi ngancam kita lho!"


Sari tertawa kecil melihat muka Doni yang seketika memerah menahan amarahnya.


"Well, ini jalan pembuka kita buat ketemu Airlangga! Penantian selama 15 tahun akhirnya ada titik temunya juga!"


Sari menatap ke arah keempat penjaganya. "Aku mengandalkan kalian! Sisakan bagian akhirnya untukku!"


Mereka mengangguk dan segera berubah menjadi maung kesayangan Sari. Dengan cepat mereka menggiring makhluk itu menjauh. Menerjang dan menyerang cepat dari berbagai sisi. Sesekali mereka berubah wujud menjadi manusia dengan pusaka masing-masing menyabetkan dan melukai makhluk jejadian itu dengan beringas.


"Dia lemah sekali!" gumam Sari.


"Makhluk itu nggak seperti yang kita lihat sewaktu di candi tikus!" Doni menimpali.


Sari setuju dengan Doni. Ia menajamkan pandangan ke sekitar. Sari merasakan hawa siluman yang lain. 


"Ini pengalihan, hati-hati beb! Mereka bukan hanya satu!"


"Butuh bantuan?" Suara Nyai Laksmi terdengar lembut di telinga Sari.


"Ya Nyai, keluarlah aku butuh bantuanmu!" sahut Sari dalam hatinya 


Nyai Laksmi sudah berdiri di samping Sari, menunggu waktu untuk menyerang. Suhu udara terasa kembali berubah, panas dan menyakitkan. 


"Mereka datang cah ayu, biarkan aku yang membereskan mereka!"


Tanpa menunggu jawaban Sari, Nyai Laksmi maju menghadang sekumpulan makhluk hitam berbulu yang kembali menghantarkan diri menantang Sari secara nyata.


Kubah pelindung bergetar disalah satu sisi terdengar ledakan keras, satu … dua … dan mereka akhirnya berhasil masuk melewati celah kecil yang terbuka.


Menerobos dengan asap kehitaman dan sebagian berjalan melalui tanah.


"Lindungi orang rumah beb, biar aku yang urus ini semua!"


Doni mundur dan segera masuk. Ia mendapati Maman dan juga yang lainnya tengah tertidur pulas. Sedikit melegakan karena Doni tidak akan kerepotan mengatur mereka seandainya makhluk itu ada yang berani masuk.


Nyai Laksmi tanpa kesulitan menghadapi segerombolan makhluk berbulu yang terus berusaha masuk ke dalam rumah. Tubuhnya yang berbalut kemben dan jarik bahkan tidak mengalami kesulitan sedikitpun dalam bergerak.


Sari hanya memperhatikan nyai Laksmi dari kejauhan.


"Butuh bantuan?" Sari bertanya pada nyai Laksmi.


"Tidak, urus saja penjagamu itu! Kau harus mendapatkan informasi tentang Airlangga!" sahutnya seraya menyabetkan kerisnya pada salah satu makhluk berbulu yang hampir saja menggigit bahunya.


"Wah, sepertinya Nyai merindukannya?" ledek Sari dengan tawa kecil.


Nyai Laksmi memasang wajah tidak suka pada Sari tanpa menjawab,


"Ups … seseorang sepertinya belum bisa move on dari sang mantan!"


"Sari …!!"


"Oh my, sorry … oke, saya meluncur kesana! Good luck sama bola bulu itu nyai!"


Sari keluar dari kubah, keempat penjaganya hampir membunuh makhluk bersayap itu jika Sari tidak berteriak.


"Cukup Mahesa!"


Makhluk bertaring itu menyeringai pada Sari, menggeram lemah di bawah kaki Bimasena yang menjejak kuat lehernya. Sementara Kandra, Mahesa, dan Abisatya dalam posisi siaga berjaga jika makhluk itu kembali berontak. 


"Katakan padaku, dimana Airlangga!"


Makhluk itu hanya menatap Sari tanpa menjawab suara dengusan kasar dan erangan lemah terdengar dari mulutnya yang setengah terbuka.


"Haloo … kamu bisa bahasa saya kan?!" 


Bimasena semakin menambah tekanan di leher makhluk itu membuatnya kembali mengerang.


"Jawab pertanyaanku! Kau lihat disana, wanita cantik itu akan sangat marah jika kau tidak memberikan informasi tentang tuan besarmu itu!"


Sari dengan kasar menolehkan kepala makhluk bergigi tajam itu ke arah Nyai Laksmi yang menikmati setiap Kematian makhluk berbulu hitam itu. Ia tampak mengerikan saat menghapus jejak darah hitam di wajah cantiknya.


"Kau lihat dia bahkan lebih mengerikan dari aku! Katakan dimana dia?"


Mata Sari dan makhluk itu beradu, nyalinya terlihat menciut. Sari tersenyum sinis, 


"Jadi masih belum mau buka suara juga, baiklah kau tidak memberiku pilihan lain!"


Kilatan merah dimata Sari menandakan kekuatan Sengkayana muncul. Pupil matanya yang memenyerupai binatang buas melebar, kilatan cahaya merah muncul ditangan Sari.


"Tunggu!" Makhluk itu tergagap menghentikan Sari yang nyaris menebas kepalanya.


"Dia kembali ke tempatnya. Menunggu hari itu tiba untuk kembali bangun dan menuntut balas padamu!"


"Kembali? Kemana?" Sari menekan ujung pedang Sengkayana ke dada makhluk itu.


"Trowulan, dia ada disana. Tertidur untuk mengembalikan kekuatannya!" jawabnya lagi seraya melirik Bimasena.


"Tidur? Kau ingin aku percaya?!"


"Aaaargh …!!" 


Sari menggores dadanya dengan Sengkayana, pedang yang menakutkan bagi bangsa immortal. Luka besar menganga disertai asap tipis. Energi Sengkayana membakar tubuhnya.


"Dia akan bangkit saat gerbang iblis terbuka!" Dengan nafas tersengal menahan sakit ia kembali bicara.


"Bulan Abang, dia akan bangun dari tidur panjangnya … aaargh!"


Sari tidak sabar dan kembali menggoreskan pedangnya, "Kenapa aku tidak bisa merasakan energinya! Kau berbohong padaku"


Dengan nafas pendek ia kembali menjawab, "Dia ada dalam perlindungan tujuh manusia yang mengikat perjanjian dengannya. Manusia yang menjual jiwanya pada sang abadi!"


"Manusia? Manusia biasa?"


Makhluk itu tertawa dengan keras, "Manusia bodoh yang mengagungkan namanya selain penciptanya … manusia yang menjadi pengabdi setan!"


Jadi benar ada manusia biasa, bukan … aku yakin itu dukun yang meminta imbalan kekuatan dari Airlangga!


"Sar, awas!" 


Mahesa berteriak dan langsung melindungi Sari dari cakaran makhluk yang mengambil kesempatan saat Sari lengah, membuatnya harus menerima luka menganga di punggung.


Dengan sisa kekuatannya makhluk itu mendorong Bimasena dengan kuat, mencoba melukai Sari dan penjaga yang lain. Ia kembali melawan dan menyerang tanpa arah memancing kemarahan Sari.


"Kau benar-benar tidak memberikan pilihan padaku!" teriak Sari kesal.


Pedang Sengkayana mengeluarkan cahaya kemerahan. Sari memutarnya dengan tangan kanan membuat pusaran energi panas. Lalu dengan kekuatan penuh menebas tubuh makhluk itu tanpa berpindah sedikitpun dari tempatnya.


Makhluk kejadian itu berhenti berlari, ia berbalik dan menatap Sari sejenak sebelum akhirnya tubuhnya terbelah dan perlahan terbakar menjadi abu. 


Sampaikan salamku untuk malaikat penjaga neraka!


...----------------...


...Hai teman2 happy malming yaa....ijinkan saya menyapa teman2 semua, semoga episode kali ini bisa menghibur......


...hujan rintik2 dimalam Minggu syahdu...otw mencari kehangatan eeh🙈 yang jelas bukan ke pelukan mantan yaaa🤪😂...


...jaga kesehatan semua, have a nice weekend.....


...cium sayang agak jauhan dari saya😘😘...