
Sari menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengan Al. Didampingi Doni ia menanyakan kondisi Mika.
"Apa Mika baik-baik aja mas, saya sedikit khawatir tadi?"
"Semua sudah bisa ditangani istri saya mbak, jangan khawatir. Ehm, gimana setelah lihat Mika apa betul dia yang mbak Sari cari?"
"Untuk sementara ini saya rasa memang dia orangnya mas. Tapi saya juga harus memastikan dulu tentang hal itu." jawab Sari
"Mas, boleh nanya siapa anak laki-laki tadi yang berhadapan sama mas Pandji? Saya nggak suka lihat anak muda arogan begitu!" tanya Doni penasaran.
"Namanya Biantara, dia juara bertahan tahun lalu dan yah, begitulah dia jiwa mudanya terlalu bergelora sepertinya," jawab Al dengan ekspresi rumit.
"Bukan, dia dikuasai iblis! Saya bisa lihat iblis itu dalam tubuhnya mas. Maaf tapi sepertinya mas Al dan keluarga harus waspada. Ada musuh lama yang ingin membuat perhitungan,"
Sari kemudian memberitahukan apa yang ia lihat dalam kerlipan masa depan. Termasuk mimpi anehnya sebelum datang ke Yogyakarta. Al mendengarkan dengan serius, apa yang dilihat Sari memang juga pernah ia lihat dalam mata batinnya.
"Saya akan membantu jika diperlukan, tapi saya tidak akan mencampuri apa yang sudah menjadi jalan takdir mas Pandji dan yang lainnya," Sari mengakhiri penjelasannya.
"Terimakasih sudah mengingatkan kami, semoga apa yang kita takutkan tidak terjadi." Harapan Al sepertinya hanya akan menjadi angan karena setelah pertandingan ini, pertempuran besar akan menghadang mereka.
"Gia, putri mas Al kan?" tanya Sari tiba-tiba membuat Al terkejut.
"Iya, betul apa ada masalah baru lagi?" Al bertanya skeptis.
Sari tertawa, "Apa wajah saya kek pembawa berita buruk ya mas? Nggak, ada yang ingin bertemu dengannya tapi mungkin besok. Teman lama ingin menyapa,"
"Aaah, teman lama? Ooh, I see … para penjaga?" tanya Al lagi
Sari mengangguk, ia melihat ke arah tangga. Ada Pandji disana, ia seperti sedang memikirkan sesuatu, Sari hanya tersenyum melihat pemuda yang masih tampak imut dimatanya.
"Sepertinya mas Pandji mencari ayahandanya, saya pamit dulu mas Al … sampai ketemu besok di pertandingan."
Al mengangguk dan hanya tersenyum ketika Sari dan Doni berpamitan.
"Siapa mereka ayah?" tanya Pandji yang telah berada dibelakang Al, ia tampak penasaran dengan wanita cantik yang sempat tersenyum padanya.
"Hanya teman lama, apa ibunda sudah selesai menangani semuanya mas?"
"Waktunya latihan mas!"
"Apa?! Tapi ayah …,"
"Tidak ada tapi tapian mas, sekarang!"
Protes Pandji tidak diindahkan Al, mau tidak mau Pandji pun mengekori Al meskipun ia kesal sekali karena harus berlatih lagi.
...----------------...
Sari dan Doni kembali ke penginapan. Saka telah menunggunya, ia masih penasaran dengan apa yang terjadi dalam pesta tadi. Baru saja Sari dan Doni masuk lobby hotel, Saka langsung menghampiri.
"Bisa kita bicara sebentar mbak?"
"Eeh mas Saka, saya kira udah tidur. Ada apa nih?"
Sari bingung karena Saka dengan santainya menarik tangan Sari membuat Doni terkejut.
"Eeits, mas Saka itu tangan main gandeng aja! Dikira truk kali gandengan!"
"Ssst, mas Doni diem dulu deh! Penting ini, gandeng doang mas, kagak saya colek juga!" sahut Saka cengengesan.
"Hhmm, modus!" sungut Doni kesal
"Beb, nggak sengaja dia … lagian kamu kan disini masa iya mas Saka macem-macem sih!" ujar Sari sedikit memanasi Doni suaminya, membuat wajah Doni semakin ditekuk.
"Ya paling pegang dikit kan nggak apa mas, cuma tangan kok nggak yang lain!" Saka terkekeh ikut memanasi.
Doni menggerutu sendiri tapi ia tetap setia menemani Sari.
"Jadi tadi itu apa sih mbak, badan saya sampai nggak enak bener lho!" Saka bertanya sambil menyentuh tengkuknya.
Hhhmm apa harus aku ceritakan semuanya pada Saka!