
Sari dan Doni kembali ke rumah mereka di Ungaran setelah beberapa berada di Yogyakarta. Komunikasi Sari dan Alaric serta Selia semakin intens terjalin. Mereka sepakat untuk saling berkabar menghadapi super blood moon, yang kali ini terbilang sangat luar biasa karena bertepatan dengan hari kejayaan setan.
Keduanya hampir memasuki perumahan asri dimana mereka tinggal ketika Sari secara tidak sengaja melihat kerumunan warga tak jauh dari rumah besar di pertigaan jalan.
"Mereka ngapain ya beb? Rame bener?" tanya Sari penasaran.
Doni ikut melihat ke arah yang dimaksud Sari. "Ada pembagian sembako kali! Itu kan rumahnya pak RW sebelah?" sahut Doni santai.
"Hhhm, mungkin juga sih! Tapi kok mukanya pada gitu sih, mencurigakan!"
Mereka melewati kerumunan warga itu, Sari merasakan hawa mistis menyapa sejenak. Hawa kematian yang ditimbulkan ulah iseng para lelembut.
"Hmm, benar kan dugaan ku!"
"Apa? Bener apanya nih?" tanya Doni yang sedang memarkirkan mobilnya di halaman rumah mereka.
"Tadi kerumunan warga di depan, ada yang aneh. Lihat aja abis ini si lambe turah bakalan nyerocos kasih info!" jawab Sari dengan senyuman lebar.
Doni mengernyit bingung, baru saja dia membuka pintu mobil mbak Asri dan mbak Pur sudah menyapa mereka dengan senyum mencurigakan.
"Mbak Sari, mas Doni lama bener sih perginya?!" sambut Mbak Asri seraya mengambil tas dari bagasi belakang yang terbuka.
"Yaa banyak acaranya mbak, ada apa emang?" Sari bertanya dengan mengedipkan mata pada Doni yang masih berdiri hendak menutup bagian belakang mobil.
"Hhhm, banyak kejadian aneh semenjak mbak Sari pergi lho!"
"See, ini yang aku bilang lambe turah! Udah kek channel gosip nomor wahid!" bisik Sari pada Doni diiringi tawa kecil.
Doni hanya menggelengkan kepala. Mereka berjalan beriringan dengan mbak Pur dan mbak Asri. Dengan semangat 45 mbak Asri memulai ceritanya, mbak Pur sesekali menimpali dengan ekspresi serius.
Keduanya bergantian menceritakan peristiwa ganjil yang menghebohkan warga. Dimulai dari penampakan kuntilanak dan pocong yang sering muncul di kawasan kompleks perumahan mereka hingga kejadian naas yang menimpa ketua RW sebelah.
"Tunggu bukannya si mbak Kun sama si poci itu cerita lama? Saya kan dah bilang mbak mungkin mereka tuh orang yang pura -pura jadi setan!"
Sari duduk di meja dapur menikmati secangkir teh herbal yang disuguhkan mbak Asri. Doni yang duduk disebelahnya pun ikut serius mendengarkan cerita kedua asisten rumah tangganya itu.
"Iya mbak, kata pak RT ternyata bukan orang soalnya beberapa warga sempat ada yang mergokin penampakan mereka," sahut mbak Asri.
"Tapi pas rame-rame di datangi itu setan menghilang begitu aja mbak, tiba-tiba aja begitu! Jadi warga yang rame-rame mergokin kaget langsung dah ngacir semua mereka!" Mbak Pur menimpali.
"Ohya, kok bisa gitu ya?" Doni ikut angkat bicara, seraya menyeruput kopinya.
Sari melirik sebal pada suaminya yang mulai terbawa cerita.
"Terus apa dasarnya warga bilang itu setan beneran selain menghilang tiba-tiba?"
"Nganu mbak setiap ada penampakan setan itu selalu saja ada warga yang tau-tau sakit keras mbak!" Mbak Asri menjawab dengan wajah serius.
"Sakit keras?" Sari mulai tertarik.
"Iya mbak, udah ada empat warga yang tiba-tiba saja sakit yang dua malah terus meninggal dunia!" Mbak Pur yang kali ini menjawab pertanyaan Sari.
"Eh, meninggal?! Kok bisa, apa bukan karena mereka benar-benar sakit sebelumnya?" Doni bertanya lagi dengan menjejalkan potongan kecil kue ganjel rel kesukaan Sari.
"Mboten mas Doni, mereka semua segar bugar sebelumnya! Setan-setan itu selalu muncul di rumah warga yang besoknya langsung jatuh sakit!"
Sari terdiam, ia menyesap teh herbalnya yang mulai dingin. Dipikirannya hanya ada satu hal. Balak.
"Apa warga yang sakit itu punya hubungan satu sama lain?" tanya Sari pada keduanya.
Sari tersenyum, ia sudah bisa memastikan apa yang terjadi tinggal menunggu malam untuk mencari kebenarannya.
Doni yang melihat senyum samar istrinya seketika langsung menatap tajam.
"Beb, don't think about that!" (Beb, jangan berpikir tentang hal itu!)
"What things?" (Berpikir apa)
Sari menarik senyumnya semakin lebar. Ia menggoda Doni yang hendak mengingatkan kesepakatan mereka.
"Kelayapan malam hari! Kita baru sampai beb, dan kamu juga harus banyak istirahat!" protes Doni.
"Remember our projects!" katanya mengingatkan kembali.
"Iya aku tahu beb, tapi ini tetangga kita lho? Nggak ada salahnya juga kan buat bantu mereka?"
Doni masih menatap Sari, istrinya memang selalu saja pandai mendebat perkataannya.
"Beb, kamu tahu tetangga adalah saudara terdekat kita. Jadi nggak ada salahnya kan bantuin?"
"Lagipula aku paling nggak bisa terima kalo udah ada lelembut nakal yang bikin ulah di dunia manusia! Apalagi mereka sampai memakan korban jiwa begini! It's not fair!"
Doni masih terdiam tidak mengiyakan ataupun menolak penjelasan Sari. Jauh dalam hatinya ia sedikit membenarkan perkataan Sari.
"Beb, please … just allow me to help them?"
(Beb, tolong ... ijinkan aku untuk menolong mereka?)
Sari menyentuh tangan Doni dan memohon padanya. Tentu saja dengan mata membulat seperti anak kucing yang manis dan sedikit menyelipkan gesture manja. Jurus jitu Sari untuk menaklukkan suaminya.
"Ya … ya, kamu benar. Oke, aku kasih kamu ijin tapi dengar ya! Jangan pulang subuh, jangan terlalu capek, jangan berantem kalo nggak perlu, biarin Bimasena dan yang lainnya yang urus! Kamu cukup melihat dari jauh, dan …,"
"Tidak tergores ataupun terluka, iya kan?" potong Sari dengan senyuman lebar.
"Ya … good girl!"
"Thank you my love!"
Sari meloncat dari kursinya dan memeluk Doni. Membuat Doni terkejut karena harus menopang tubuh Sari tiba-tiba. Doni tanpa ragu mengecup puncak kepala Sari dan juga bibir merah muda istri cantiknya itu.
"Heeem, Nek ngene iki aku dadi pengen ndang muleh Sri! Kangen karo mas Joko!" Mbak Pur dibuat salah tingkah dengan kelakuan kedua majikannya.
"Hadeeh, podo ae Bu Lek aku yo dadi pengen ndang muleh! Pengen cup … cup … cup mbek mas Prayit!" sahut Asri pura-pura menutup kedua matanya.
"Wes hayuk ngalih neng mburi wae Sri, timbang dadi Baygon! Marai pengen!" Mbak Pur menarik segera tangan Asri untuk meninggalkan kedua majikannya.
"Pengen opo Bu lek?"
"Pengen nyaplok bojoku!"
Keduanya pun tertawa kecil dan pergi berlalu. Sari dan Doni tertawa melihat ocehan kedua asisten rumah tangganya itu.
Malam harinya Sari kembali bersiap dengan pakaian berburu lengkap dengan cadar yang menutup wajahnya.
Waktunya melihat apa tebakanku benar atau salah!