Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Teluh yang Merepotkan!



Sari menarik pedang Sengkayana dari tempatnya, energi kemerahan seketika menyelimuti dirinya. Dengan sigap ia menghujamkan pedangnya pada bayangan besar yang merayap ditanah.


Seketika suara raungan terdengar bersahutan, Sari dengan sigap menarik paksa makhluk dalam bayangan itu untuk keluar. Makhluk hitam besar berbulu dengan mata merah menyala, mengamuk saat Sari menarik nya dengan kekuatan gaib.


Kini mereka berhadapan, bukan hanya satu tapi beberapa makhluk berbulu yang mengerikan. Sari mengembangkan senyum, menghunuskan pedangnya ke depan menantang mereka.


"Hadapi aku dulu bola bulu!"


Para lelembut berbulu itu maju menyerang Sari bergantian. Bimasena yang melihat Sari dikelilingi makhluk berbulu dengan tinggi dua kali lipat dari tinggi tuannya langsung membantu.


Sari mengaliri pedang Sengkayana dengan energi maksimal, ia malas jika harus bermain lama dengan mereka. Dengan cepat ia memutar pedangnya membabat para makhluk berbulu yang melompat ke arahnya. Membantingnya ke tanah dan langsung menancapkan pedang tepat di kepala.


Bimasena mengurus sisanya, ia mengubah diri menjadi maung yang sangat besar, menggigit menyerang mencabik makhluk berbulu yang tanpa daya setelah dilukai Sari.


Kandra juga ikut bergabung dengan Sari dan Bimasena. Hingga dalam waktu singkat mereka berhasil meleburkan para lelembut itu sebelum mereka menyerang pemilik rumah.


Suara ledakan keras terdengar di langit, Sari tersenyum penuh kemenangan.


"Kembalilah ke neraka bodoh!"


Sebuah keris kecil berkarat terlihat ada didekat kakinya. Ia memungut keris tanpa warangka itu. Keris tanpa arti karena ditinggal mati penghuninya. 


Sari melihat jelas seorang lelaki tua dengan pakaian khas dukun, memakai ikat kepala sedang berkomat kamit merapalkan mantra. Asap masih mengepul dari Prapen kecil di depannya dan sesaji lengkap ada di dekatnya.


 Lima buah foto tergeletak di depan si dukun berpakaian hitam itu. Sari mengenali salah satunya sebagai salah satu tetangganya yang meninggal.


"Oh jadi dia yang mengirimkan teluh ini, lumayan juga!"


Seorang pria muda berpakaian rapi masuk keruangan dengan jalan berjongkok. Dengan wajah serius pria itu mengutarakan maksud kedatangannya sembari menyerahkan sebuah amplop coklat tebal pada si dukun.


Dari wajah dan gerak bibir mereka Sari bisa tahu jika pria muda itu menginginkan kematian untuk saudara-saudara kandung dan juga paman serta keponakannya. Persoalannya apalagi jika bukan karena harta warisan. 


Pria muda itu ingin menguasai sendiri harta warisan kedua orang tua mereka. Jadi siapa pun yang menghalangi termasuk orang-orang yang mendukung saudara kandungnya akan dihabisi.


Sari menutup mata batinnya. Sudah cukup baginya melihat apa yang perlu ia ketahui.


"Ayo Bimasena kita pulang, sinar matahari mulai muncul jangan sampai kita terlihat!"


"Kita nggak sekalian ke rumah dukun itu?" tanya Bimasena heran.


"Nggak perlu kita urus dia besok, aku nggak mau Doni nanti marah terus bikin aturan lain yang aneh-aneh!" sungut Sari karena ia sudah cukup kesal dengan aturan jam malam.


"Ya … ya," Bimasena terkekeh melihat Sari yang terburu buru mengajaknya pulang.


"I hear that Mahesa!" seru Sari dari kejauhan meninggalkan keempat penjaganya untuk kembali ke pelukan suami tercintanya.


...----------------...


Matahari semakin tinggi, Sari masih terlelap dalam tidurnya. Beberapa lebam tampak mulai menghilang dari tubuhnya. Doni meminta pada mbak Asri dan mbak Pur untuk tidak menganggu Sari.


Pagi tadi Sari pulang dan langsung memeluk Doni. Tubuh lelahnya langsung membawanya ke alam mimpi. Doni mencium kening Sari. 


"Kamu bahkan nggak bergerak sedikitpun dari tidurmu, ini yang bikin aku melarang kamu keluyuran tiap malam! Kamu juga butuh istirahat!" gerutu Doni sambil mengusap lembut rambut hitam Sari.


Terdengar suara ketukan pintu kamar oleh mbak Asri. Ada tamu yang datang mencari Doni.


"Mas Doni, wonten tamu!"


"Siapa mbak?"


"Nganu, pak RT mas!"


Doni dengan malas keluar kamar, melirik sebentar ke arah Sari yang masih pulas lalu menutup pintu kamar.


"Ngapain pak RT cari saya? Bukan mau sensus kan?!" tanya Doni pada mbak Asri.


"Wah nggak tahu mas, yang jelas mukanya pucet kek baru ketemu setan!"


" … "


Doni segera menemui pak RT dan benar kata mbak Asri wajahnya pucat seperti kapas.


"Pak RT sakit?" tanya Doni tanpa basa basi.


"Mas Doni bisa bantu saya kan? Kata mbak Asri mas sama mbak Sari pinter sama beginian!"


Wajah pak RT tampak menahan rasa sakit. Doni belum mengerti maksud pak RT yang usianya hanya terpaut dua tahun diatasnya itu.


"Saya nggak ngerti deh, maksudnya gimana?"


Pak RT celingukan melihat situasi, setelah merasa aman dia mendekati Doni. Tanpa ragu pak RT membuka kaos yang menutupi perutnya pada Doni menampakkan sesuatu untuk diperlihatkan pada Doni,


"Astaghfirullah … kenapa bisa begini!