
Sari dan Doni saling memberi kode, mereka akan mengikuti perginya lelembut tanpa badan itu dengan memasuki dimensi lain.
"Mas Pras, bangunin kalo dah nyampe ya? Kita mau tidur dulu," pamit Doni sesaat sebelum keduanya melintasi dimensi.
"Nggih mas siap," sahut mas Pras sedikit heran karena tubuh Doni seperti kaku tak bergerak begitu juga dengan Sari.
"Eh, udah tidur aja mereka? Baru saja pamitan, tapi kok aneh gitu ya posisinya?!" gumam mas Pras melirik ke arah belakang.
Doni segera menyusul Sari ke dimensi lain. Dimensi kegelapan dengan senja kemerahannya yang khas, dan malam tergelap yang tak pernah ditemui di alam manusia.
"Dia pergi ke arah sana beb," Sari menyambut kedatangan Doni dengan ajakan menuju ke arah lelembut itu pergi.
"Apa dia mengganggu manusia?"
Sari terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepala pelan. "No, tapi keberadaannya sedikit menggangguku,"
"Hhm, mengganggu?"
"Dia tidak berniat jahat tapi ada hal yang belum terselesaikan di dunia. Dia roh gentayangan!" Sari memberitahukan pada Doni perihal apa yang telah dilihatnya dengan mata tak biasanya.
"Jadi buat apa kita ngikutin dia kesini?" Doni kembali bertanya.
"Traveling? Aku capek duduk kelamaan di mobil, sedikit meregangkan badan aja." Sari menjawab dengan seringai jenaka.
"What the hell, andai kita nggak lagi dijalan aku ajak kamu ke tempat lain beb!"
"Kemana?"
"Mendaki gunung susuri lembah, olahraga bikin projects kita!" balas Doni cengengesan.
Sari tertawa kecil, tak membalas ucapan Doni. Matanya asik memantau kemana perginya si lelembut tanpa badan itu.
Sari bergerak mengikuti kepala terbang yang berayun ke kanan dan kiri, sesekali ia berhenti sejenak untuk melihat sekitar. Entah apa yang ia cari sebenarnya.
Suara lirih terdengar sayup-sayup di telinga Sari dan Doni.
"Diimanaaa … kembalikan tubuhkuuuu …,"
Suara tangis yang terasa menyayat hati juga terdengar dari sosok lelembut menyeramkan itu. Sari terus mengikuti lelembut itu hingga akhirnya ia berhenti di sebuah perkampungan.
Lelembut itu terus berputar putar seperti kebingungan. Terbang kesana kemari, hanya bisa memutari kampung tanpa bisa hinggap di atap rumah manapun.
"Aneh, ada selubung gaib di kampung itu!" gumam Sari yang masih menjaga jarak dari lelembut itu.
"Ada yang sengaja membuat pagar gaib di kampung ini, entah apa tujuannya bisa jadi hanya untuk melindungi tapi … bisa jadi ingin menghindari sesuatu." Doni berkata menguatkan dugaan Sari.
"Kamu benar, nggak biasanya ada orang yang bikin pagar gaib seluas ini. Bisanya ya hanya untuk kepentingan pribadinya,"
Sari mendekati pagar gaib buatan yang tak kasat mata. Tangannya mencoba untuk menembus dinding gaib itu. Awalnya pendaran bak pelangi terjadi saat tangan Sari menyentuh pagar pembatas. Ada rasa menyengat halus tapi kemudian perlahan tangannya berhasil menembus dinding pembatas itu.
"Berhasil, kita masuk!"
Diikuti Doni Sari berhasil menembus pagar. Energi lain yang sedikit berbeda dengan milik keduanya segera menyapa. Bukan lawan tapi juga belum bisa dipastikan apakah itu kawan.
...----------------...
"Mas, mbak … bangun kita sudah sampai sesuai dengan alamatnya!" Mas Pras mencoba membangunkan Sari dan Doni.
Tidak ada respon dari keduanya, membuat mas Pras menengok ke arah belakang. Keduanya tampak tertidur dengan pulas. Mas Pras sebenarnya tidak tega membangunkan, tapi ia juga sudah cukup lelah dan ingin beristirahat. Dengan sedikit tak enak hati mas Pras mengguncang lembut tubuh Doni.
"Mas Doni bangun, kita sudah sampai!"
Masih belum ada respon, mas Pras kembali mencoba membangunkan Doni untuk kali ketiga,
"Mas Doni, sudah sampai ini. Sudah mau subuh juga!"
Hasilnya tetap sama, sama sekali keduanya tidak bergerak. "Walah pie to, mereka ni tidur apa malah pingsan?" gerutunya lagi.
Suara adzan subuh berkumandang memecah kesunyian pagi. Menambah syahdu cuaca sejuk yang sedikit menggigit kulit. Mas Pras akhirnya menyerah, dan keluar dari mobil. Berniat mencari masjid terdekat untuk sholat subuh berjamaah.
Suara adzan yang cukup keras menandakan letak masjid yang tidak terlalu jauh dari mas Pras memarkirkan mobil. Kebetulan ia berpapasan dengan warga setempat, setelah sedikit berbasa basi ia pun mengikuti langkah bapak tua yang juga hendak menuju masjid.
Hari masih gelap saat adzan subuh usai dikumandangkan, mas Pras sedikit ngeri saat mengedarkan pandangan ke sekeliling. Pepohonan besar dan rumpun tebu menghiasi kanan kiri jalan.
"Waduh, kok merinding sih! Untung ada temennya jal Nek dewean iso mati ngadeg aku!" ujar mas Pras lirih seraya melihat ke kanan dan kiri jalan.
(coba kalo sendirian bisa mati berdiri saya!)
Bapak tua yang berjalan di depannya tidak mengindahkan gerutunya mas Pras, ia hanya tersenyum.
"Kenapa mas, pucet gitu? Udah subuh ini mas mana ada setan keluar?!"
"Eh, nganu mboten (nggak) pak! Ya kali aja kan pak demitnya kreinan, kesiangan!"jawab mas Pras yang masih celingukan melihat situasi.
"Kesiangan? Ya judule demit nekat mas!" Bapak tua itu terkekeh dan terus berjalan dengan santai.
Kelebatan bayangan tampak di sudut mata mas Pras. Seketika mas Pras tersentak kaget lalu refleks menengok kebelakang. Sepi, gelap, tak ada siapapun di belakangnya. Ia mengusap tengkuk dan kembali berjalan.
Kembali lagi ia mendengar suara langkah kaki, dan suara lembut angin yang seolah memanggil namanya.
"Mas Pras …,"
Duh Gustiii, aku ora salah krungu to?!
(aku nggak salah dengar kan?!)
Mas Pras tercekat, suara memanggil itu seperti sangat dekat di telinga kirinya.
"Mas Pras …,"
Mas Pras berhenti, kakinya gemetar, bulu kuduknya meremang seketika. Jantung mas Pras mulai menari, aliran darah di tubuhnya terasa berhenti mendadak ketika sebuah tepukan keras mendarat di bahunya.
Mas Pras melirik ke arah bahu kirinya, sebuah tangan yang pucat dan dingin kini bersandar dengan santai disana.
Mati akuuuu, nah kaaaan setan kesiangan beneran ada!