
Geger geden di Jombang cukup membawa pengaruh besar pada aliansi putih dan juga kesatrian yang dimiliki Pandji. Pamor remaja tujuh belas tahun itu semakin naik, namanya mendadak sering disebut dan diperebutkan oleh beberapa orang tua untuk dijadikan menantu.
Kabar keistimewaan Pandji membuatnya harus ekstra berhati-hati. Pusaka penganten miliknya juga menjadi incaran para pemburu pusaka bertuah. Kewaspadaan pun ditingkatkan untuk mencegah skenario terburuk.
Sari dan Doni memutuskan kembali ke Solo untuk beristirahat sejenak. Pak Agus diberi tugas untuk tetap mengawasi gerak gerik kedua rekannya yang berprofesi sebagai dukun. Sari tidak ingin kecolongan. Setiap informasi kecil akan membantunya menemukan dimana Airlangga bersembunyi.
Dua hari semenjak pertempuran Jombang Doni kembali mengajar di kesatrian milik Saka. Kali ini dia menyiapkan barisan pemuda yang akan membantunya menghadapi sekutu Airlangga.
Sebagian besar dari pemuda yang bergabung adalah orang pilihan yang diseleksi langsung Saka dan timnya. Pengalamannya menjadi saksi hidup di pertarungan Lingga dan Airlangga Membuat Saka tidak ingin sembrono memilih barisan kesatria muda.
Mayoritas dari mereka memiliki ilmu Kanuragan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Fisik mereka pun kuat, dengan tonjolan otot bermassa yang cukup padat. Semuanya tampak sempurna. Baik fisik maupun wajah rupawan. Doni menggerutu dalam hati karena ia seperti melatih barusan model susu khusus non lemak untuk para lelaki ketimbang barisan kesatria muda.
Sari memilih bermeditasi di sisi timur kesatrian. Energinya terasa belum pulih benar setelah beberapa waktu lalu tanpa jeda harus membantu pak Hisyam dan dilanjut dengan pertempuran Jombang.
"Apa aku mengganggu?" Suara yang pernah dikenalnya menyapa.
Perlahan Sari membuka mata, kakek Wisesa hadir dengan senyum merekah.
"Hhhm, mencurigakan! Ada apa kakek kemari?" tanya Sari dengan terkikik karena wajah jenaka kakek Wisesa.
"Kau mencurigai ku? Bahkan setelah aku banyak membantumu Sari Van Barend?!" Kakek Wisesa menanggapi dengan senyuman miring.
Tubuh rentanya yang sedikit bungkuk berjalan melintasi Sari dan berhenti di sisi kanan tepat di dekat kolam ikan besar dengan air terjun buatan. Matanya menatap ke arah barisan kesatria muda yang dilatih Doni.
"Suamimu sungguh luar biasa, sebagai manusia biasa dia benar-benar menjagamu dan mencurahkan seluruh hidupnya hanya untuk melindungimu cah ayu!"
"Hhm, kau benar kakek dia sempurna!" Sari menatap Doni dari kejauhan dengan penuh cinta.
Kakek Wisesa terdiam dan terus memperhatikan, "Kau memiliki banyak pendukung, itu bagus! Airlangga dan sekutunya akan sangat sulit dihadapi."
Ia menghela nafas panjang lalu menoleh ke arah Sari, "Dengar nak, pertarungan kalian akan sangat sulit dihindari. Kerusakan yang ditimbulkan juga tidak main-main, itu sangat beresiko!"
"Aku tahu kek, aku sudah bisa membacanya saat melihat Pandji dan Nergal bertarung." Sari menjawab dengan lemah, ada sedikit ragu yang terbesit dari jawabannya.
Kakek Wisesa tersenyum, menatap Sari sejenak sebelum akhirnya duduk bersila di sebelah Sari.
"Takut?" Sari mengangguk, kakek Wisesa kembali bicara. "Hal yang wajar jika kau mencemaskan hal itu. Artinya kamu masih memiliki sifat manusiawi."
"Entahlah kek, apa mungkin saya mengalahkan Airlangga? Kami memiliki kekuatan yang sama besar, kami juga sama-sama immortal. Lalu bagaimana cara kami bisa menyelesaikan dendam ini?"
Kakek Wisesa kembali tersenyum mendengarnya. "Selalu ada jalan keluar dari sebuah masalah nduk, kamu hanya belum menemukannya saja,"
Sari tersenyum getir, "Kami sama-sama kuat kakek, pertarungan baru akan berhenti jika salah satu dari kami ... mati."
"Aku sangat berharap itu bukan diriku kek," sambung Sari dengan senyum yang dipaksakan. Matanya terasa panas, dan mulai berkaca-kaca. Meninggalkan Doni sendirian bukan tujuan dari balas dendamnya pada Airlangga.
Kakek Wisesa memahami perasaan Sari. "Temukan pemilik mustika penyihir, dia akan membantumu!" Sari mendongak mengusap air mata yang lolos ke pipinya.
"Mustika Penyihir?" Kakek Wisesa mengangguk, "Itu akan membantumu dari dendam dan masalah yang kau hadapi," kakek Wisesa menghilang seiring dengan perkataannya.
"Tapi kek …," Sari belum selesai bicara pada kakek Wisesa, "Mustika Penyihir? Apalagi itu?" Sari mendengus kesal karena kakek Wisesa tidak menjelaskan secara rinci.
"Hei kakek tua, bisa nggak sih kalo kasih informasi jangan setengah-setengah!" Serunya dengan mendongakkan kepala ke atas.
"Kau akan mengetahuinya jika saatnya tiba!" Suara kakek Wisesa menggema di pikiran Sari.
"Ccck, dasar kakek tua! Hobi bener bikin teka teki silang!" Sari kembali menggerutu.
"Ada apa, kok maki-maki tembok?" Doni menghampiri Sari.
"Eeh, udah kelar ya latihannya?"
"Udah, mau masuk? Aku butuh istirahat bentar." Doni tidak perlu meminta istrinya untuk menjawab, tangannya langsung menarik Sari untuk mengikutinya.
"Hhm, nggak ada mustika penyihir disini? Atau jangan-jangan memang mustika itu sengaja disembunyikan di dunia bawah dengan maksud tertentu?" Sari bermonolog, tangannya terus mencari tulisan ataupun informasi tentang batu mustika penyihir yang disebutkan kakek Wisesa.
"Kamu cari apa, sampe serius gitu? Mantra lagi?" Doni ikut dibuat penasaran dengan tingkah Sari.
"No, batu mustika penyihir!" Sari menjawab tanpa menatap Doni.
"Mustika penyihir? Itu sama kayak batu mustika milik Dewi ular bukan?" Doni mengernyit.
"Kayaknya bukan deh, aku cuma tahu batu itu sepertinya ada di dunia bawah. Kakek Wisesa bilang itu solusi dari masalah aku dan Airlangga." Sari mencoba mengingat perkataan kakek tengil dengan postur bungkuk itu.
"Ohya, wah bagus itu! Jadi kita nggak perlu susah-susah kan ngadepin Airlangga. Cukup dapetin mustika ya dan selesai!"
Sari menatap Doni yang kini mengembangkan senyum lebar, ia hanya bisa meringis dan sedikit kesal.
"Masalahnya nggak mungkin sesimpel itu beb, masa iya kita nemuin itu mustika terus langsung hap … everything gone?" Sari mengedikkan bahunya tak percaya masalah yang kini dihadapinya akan berakhir dengan mudah.
Kening Doni berkerut, ia membenarkan perkataan istrinya, "Iya juga sih, nggak akan sesimpel itu masalah Airlangga selesai. Terus kita gimana?"
"Ya kalo gitu kita cari si pemilik mustika penyihir itu! Tapi nyari dimana dan apa manfaatnya aku juga nggak tahu," jawabnya lemas.
"Didalam buku?" Telunjuk Doni menunjuk ke arah buku mantra yang tergeletak di meja.
"Nothing there! Entah harus cari tahu kemana lagi." (Tidak ada apapun disana!)
Sari dan Doni berfikir sejenak lalu keduanya saling menatap dan kompak berkata, "Bayu!"
Malamnya Sari dan Doni mengunjungi Bayu melewati dimensi lain, kunjungan spesial.
"Ada perlu apa kalian kesini?" tanya Bayu yang sedang asik memberi makan ikan dewa peliharaannya.
"Mustika penyihir, apa yang kamu tahu tentang itu?" Tanpa basa basi Sari langsung bertanya.
Bayu sedikit terkejut mendengarnya, ia mengernyit sejenak sebelum akhirnya menjawab.
"Darimana kalian tahu tentang mustika itu?"
Bayu berjalan menuju gazebo kecil di dekat kolam. Mata indah Sari hanya mengekor ke arah Bayu berjalan.
"Kakek Wisesa," jawab Sari enteng.
"Sudah kuduga dia pasti menemuimu tanpa izin dariku terlebih dahulu!"
"Hmm, kenapa harus minta izin dulu? Niat dia kan baik!" Sari mulai mendebat.
"Karena aku penjagamu Sar, penjaga keturunan Siliwangi. Diamanatkan oleh para leluhur pendahulumu! Seharusnya dia bicara dulu padaku sebelum memberitahukan pusaka itu!" Bayu menyesalkan sikap kakek Wisesa.
"Dilihat dari sikapmu berarti mustika itu benar ada? Kenapa aku cari di buku kuno nggak ada?" Sari kembali mencecar Bayu dengan sejumlah pertanyaan.
Bayu menghela nafas berat. Ia menuangkan air ke dalam cangkir tanah liat di depannya lalu meminumnya hingga habis. Yang terjadi kemudian Bayu mengucapkan selarik kalimat yang membuat Sari dan juga Doni tercengang.
"Mustika penyihir itu memang ada, dan itu bisa digunakan untuk mengubah takdir!"
...****************...
...malam semuanya, mohon maaf jika byk typo atau kata yg kurang pas...kepala nyut2an, mood anjlok ke lantai dasar gegara level tak kunjung naik😅🙈 curhat dikit 🤭🤪...
...mohon koreksinya ya teman2 semua, MET tidur Met istirahat...love u all...
...cium jauh ~ Lia😘...