
Sari dan yang lainnya duduk di meja makan besar bersama. Mika duduk bersama Kania sedangkan Eric dan Saka bersebelahan dengan Doni. Saka mengoleskan madu pada selembar roti, ia memperhatikan tayangan berita di televisi layar datar.
Santer diberitakan, serangan wabah aneh yang melanda desa di pinggiran kota Malang. Anchor berita menyebutkannya sebagai serangan binatang buas. Kematian beberapa warga desa secara mengenaskan membuat perangkat desa setempat meminta bantuan pemerintah kota.
Sari menghentikan sarapannya. Ia berjalan mendekati televisi. Liputan di televisi memperlihatkan beberapa tempat yang diduga menjadi lokasi serangan.
"Ini bukan binatang buas," gumam Sari dengan melipat kedua tangan di dada.
"Mengerikan, lihat aku dapat kiriman gambar dari informanku disana!" Saka mengulurkan ponselnya pada Doni.
"Wow, something or somebody sepertinya sangat kelaparan!" Ujar Doni dengan menggelengkan kepala.
"Boleh aku melihatnya uncle?"
Doni mengernyit, "kau yakin Mika?"
Mika mengangguk dan langsung melihat beberapa foto yang ada dalam ponsel Saka. Ia menahan rasa mualnya demi menganalisa apa yang terjadi.
"Ini perbuatan mereka uncle, aku yakin itu! Binatang buas bisa dipastikan hanya memangsa satu atau dua manusia saja sudah cukup. Tapi ini beberapa, bahkan hampir sebagian penduduk."
"Hhm, kau benar Mika. Sesuatu yang aneh terjadi disana."
Sari masih belum merespon matanya dengan jeli memperhatikan tiap sudut dalam tayangan. Sang reporter masuk ke dalam hutan tempat mayat ke tujuh ditemukan dalam satu malam.
Aura hitam tipis terlihat menyelimuti tempat itu. Sari bisa melihatnya jelas. "Jangan masuk, kau dalam bahaya!" Gumamnya lirih.
Sari menggigit kuku jarinya,ia sangat yakin ada makhluk kegelapan yang bersembunyi di sana. Sang reporter wanita dengan berani dan tak kenal takut terus maju dan menunjukkan tempat yang diberi batasan police line. Ia terus berceloteh tentang temuan - temuannya.
"Kau menggiring diri ke dalam sarang mereka nona!" Tangan Sari mengepal, ia melihat bayangan hitam tak jauh dari reporter wanita itu berdiri.
"Nee, oh nee... mis rennen! (Tidak, oh tidak … nona larilah!)
Teriakan Sari bersamaan dengan menghilangnya tubuh sang reporter wanita. Terlihat jelas tubuh wanita itu disambar sesuatu. Yang terdengar selanjutnya hanya teriakan minta tolong yang pilu dan geraman mengerikan.
Suara kameraman yang terkejut dan berteriak juga terdengar jelas. Tayangan berubah menjadi tak karuan, kamera terlihat jungkir balik mengarah ke tanah, sebuah tayangan mengerikan mengarah ke tubuh reporter wanita yang dikerubuti dua orang pria.
Terlihat jelas bagaimana kedua pria itu menghabisi dan memakan organ dalam wanita itu. Sari menutup matanya, tak tega melihat kekejaman para makhluk kegelapan yang terang terangan menampakkan diri.
Kania mual, ia berlari menuju kamar mandi begitu juga dengan Saka. Doni menghela nafas berat. Sementara Mika hanya bisa memejamkan mata sama seperti Sari.
"Mereka sudah mulai melakukan kontak, itu artinya peperangan akan terjadi tak lama lagi." Doni berkata dengan pelan.
Sang Anchor shock dengan tayangan live itu. Tak ada sepatah katapun yang bisa diucapkan selain menutup mulutnya dengan tangan dan berulang kali menatap kamera. Mengerikan hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya kemudian, sebelum sebuah commercial break mengisi jeda.
Sari berbalik menatap Mika. "Sepertinya kita harus berpatroli Mika. Kita harus mempelajari musuh baru."
"Tentu saja aunty, aku gemas ingin berkenalan dengan mereka!"
"Beb, hubungi mas Al. Siapkan aliansi putih segera. Lawan kita lebih dari sekedar mayat hidup!" Sari bergegas pergi mengajak Mika ke pendopo kesatrian.
"Menurutmu apa mereka sudah siap?" Tanya Sari ketika merek melihat para kesatria muda tampan yang giat berlatih dengan pusaka masing-masing.
"Jika dilihat perkembangan mereka dari saat pertandingan dan sekarang, aku pikir mereka sudah cukup siap. Tinggal menyiapkan mental saja!"
"Hhhm, kau benar. Semoga mereka nggak mundur saat tahu siapa musuh kita saat ini."
Mika menoleh ke arah Sari, ia tahu pasti Apa yang dikhawatirkan Sari.
"Gimana kalau kita pergi sekarang aunty? Lebih cepat lebih baik bukan?"
Sari menoleh, Mika terlihat begitu bersemangat ia pun tersenyum. "Wow, semangat bener. Boleh, ayo kita jalan-jalan sebentar." Sari segera beranjak tapi kemudian Mika menahan tangannya.
"Aunty tunggu, boleh aku memilih pakaianku sendiri? Rasanya nggak nyaman bergerak dengan jubah yang aunty berikan kemarin."
Sari pergi meninggalkan Mika untuk bersiap. Sebelum ia pergi, Sari ingin memastikan semua dalam keadaan siaga. Beberapa ksatria elit pilihan ditempatkan di dalam rumah untuk menjaga Saka dan yang lainnya.
Para kesatria muda ini adalah orang pilihan Sari dan Doni yang sudah diuji kemampuannya. Mereka bertugas menjaga Kania, Eric, dan Saka sampai titik akhir.
"Yakin mau pergi sekarang?" Doni menghampiri Sari saat berganti pakaian.
"Hhm, kita jangan buang waktu. Mahesa dan Kandra akan berjaga disini, membantumu!"
"Jangan khawatirkan kami, Airlangga tidak akan bisa mendeteksi keberadaan kita. Bayu dan guru Wisesa sudah membuat pelindung khusus."
"Aku tahu, aku hanya … sedikit khawatir!" Sari tersenyum masam, ia memakai sarung tangan hitam yang menutupi sebagian telapak tangan di kedua tangannya.
Doni membantu Sari berpakaian, "Jangan khawatir kami aman disini! Kau jagalah dirimu dan Mika. Makhluk itu pasti memiliki kelemahan, temukan itu dan pulanglah! Jangan gegabah, ok?!"
Doni menyentuh kedua bahu Sari, menatap wajah sang istri lembut. "Kembalilah tanpa luka,"
"Dan goresan? I know that beb!"
Sari tersenyum pada suaminya dan mengecup lembut. "Tunggu aku disini, ok?"
"Ok, aku janji!"
Pelukan Doni membuat Sari tenang, ia akan memastikan dirinya pulang dengan selamat.
"Aunty! Apa kau sudah siap?!"
Suara Mika membuat pelukan Doni merenggang. "Wah, semangat bener dia!"
"Mika ingin bersenang-senang beb!" Ujar Sari geli.
"Aku datang Mika, tunggu sebentar!"
Sari menjawab sembari membuka pintu, ia dibuat terkejut dengan penampilan Mika.
"Wow, it's … amazing!"
Sepasang belati di pinggang, pakaian ketat berwarna merah maroon melekat indah di tubuh sintal Mika menampakkan tonjolan depan belakang sempurna. Sarung tangan senada dengan pakaian yang dikenakan Mika.
Meski dibuat tidak terbuka tapi setelan pas badan itu benar-benar membuat Mika seperti salah satu tokoh dalam film superhero.
"You're the best! Beb, bolehkah aku memakai kostum seperti ini! Ini sangat indah!"
"Eheem, beb aku tidak ingin tubuhmu terekspos para lelembut nakal. Mereka bisa jatuh hati padamu!" Seringai Doni menolak permintaan Sari.
"Oh, ya. Aku lupa kalau aku sudah bersuami. Menjaga tubuh itu penting!"
Mika hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Kalian benar-benar pasangan serasi!"
Mika berlalu berjalan mendahului Sari, ia melewati Eric dan Saka yang begitu terpukau dengan penampilan Mika.
"Wow, gorgeous! Mika you're perfect!" Seru Saka takjub.
Sementara Eric dibuat terpesona. Rasanya ia semakin tertarik untuk mengenal Mika lebih jauh.
"Oh, come on guys! Jaga mata kalian!" Sari menepuk keras bahu keduanya.
"Let's go Mika, kita refreshing sebentar!"
Doni, Saka, dan Eric menatap kepergian dua wanita kesayangan mereka yang menembus dimensi waktu.
"Look at them like two female superheroes!"