
Mas Amri terus melantunkan kidung sambil melakukan gerakan yang sama. Tangannya gemulai seolah sedang menyisir rambutnya ke samping dengan lima jarinya.
Sari berjalan ke depan mas Amri, ia memiringkan kepalanya dan tersenyum sinis.
"Waaah, rupanya ada nyai cantik datang!" ujarnya seraya berjongkok di depan mas Amri yang masih melantunkan kidung dengan mata terpejam.
Dalam penglihatan Sari, ada seorang wanita cantik mengenakan kemben kuning dan berkain jarik. Wanita itu berparas jelita. Ia melirik sepintas pada Sari tapi kemudian melengos lagi dengan gemulai, menghindari tatapan Sari.
"Kenapa mengganggu mas Amri? Pulang dan kembali ke asalmu!"
Wanita dalam tubuh mas Amri itu tidak menjawab ia terus melantunkan kidung yang terasa menyesakkan Sari. Suara mantra pemanggil roh kembali terdengar di telinga Sari, kali ini terasa sangat jelas.
Sang hyang cipto gumono
Rawuhno sejatining ….
Kang aperojo hing songgo buwono
Rawuh rawuh rawuh
Mijil ono ing pangersaningsun
Sari mendengus kesal, rasanya ingin sekali menghentikan si perapal mantra itu.
Kenapa ada dua mantra? Yang satu manggil roh yang satu juga sama? Ini mau bikin pesta dirumah saya?
Sari akhirnya tidak memperdulikan mantra yang terus terngiang di telinganya itu. Siapa pun yang mengucapkannya pasti bukan orang sembarangan, Sari tidak ingin ikut campur dengan hal itu. Di depannya ada mas Amri yang harus segera ditolong.
Untuk berjaga-jaga Sari memperkuat pagar gaib di sekeliling rumah, ia tidak ingin diganggu saat mengeluarkan wanita cantik itu dari tubuh mas Amri. Bimasena dan yang lainnya pun ia perintahkan untuk melakukan penjagaan.
"Mbak Asri sama mbak Pur bantu mas Amri berdiri deh, kita bawa dia masuk!" perintah Sari tanpa mendapat penolakan keduanya.
"Mas Amri, yuk ikut kita ke dalem disini mau magrib dingin nanti!" kata Mbak Pur seraya membantu mas Amri berdiri.
Mas Amri tidak melawan sama sekali, ia menurut dan berjalan dengan gemulai layaknya wanita. Sari memberi isyarat agar mas Amri didudukkan tak jauh darinya.
Mbak Asri dan mbak Pur diminta Sari untuk sedikit menjauh.
"Nyai, keluar sendiri aja deh daripada saya paksa!" Sari mencoba kembali berkomunikasi.
Mas Amri menggeleng lemah, ia kembali melantunkan kidung tadi. Sari mulai gemas, semakin lama kidung itu dinyanyikan semakin banyak para lelembut yang datang dan berkeliaran di depan rumah Sari. Ia pun menidurkan Amri agar tidak sepenuhnya dikuasai lelembut cantik itu.
Sari melintasi alam dan bertemu dengan wanita cantik yang sedang duduk di pinggiran sungai. Ia sedang menyisir rambutnya yang hitam panjang.
"Ada apa kesini cah ayu?" tanyanya lembut tanpa menoleh.
"Kenapa nyai masuk ke badan mas Amri?" tanya Sari pada lelembut itu
"Dia tanpa sengaja menyentuhku, jadi aku pinjam sebentar tubuhnya untuk …," lelembut itu menggantung jawabannya.
"Untuk apa?"
Wanita cantik dari bangsa jin itu menghentikan kegiatannya lalu menatap Sari sejenak.
"Memanggil yang lain, boleh kan? Aku kesepian disana?"
"Eeh, kesepian? Memangnya berapa banyak yang kamu panggil?"
"Ehm, satu … dua …," wanita berkembang kuning itu menggerakkan jarinya, Sari mendelik melihat hitungannya.
"Ccck, ngapain banyak-banyak! Udah nyai ikut saya aja mau? Biar nggak kesepian, tapi awas kalau sampai nyai keluar tanpa seizin saya, nyai dapat hukuman berat," Sari menawarkan rumah bagi lelembut cantik itu.
Tak lama ia pun tersenyum dan mengangguk.
"Nah gitu … tapi tunggu dulu saya mau nanya, tadi siapa yang ngucapin mantra? Apa dia ada hubungannya sama kamu?"
"Dia orang yang sama yang selalu menginginkan saya ikut dengannya, cah ayu,"
"Orang yang sama gimana?" Sari sedikit heran.
Wanita itu menatap Sari sejenak lalu berkata, "Dia selalu mengikuti saya, karena saya dianggap mampu memanggil lelembut hebat untuk dipakai sebagai roh pusaka,"
"Oh, gitu … eh jadi nyai orang hebat dong sampai ada dukun yang ngikutin kemana nyai pergi?"
Lelembut bernama Nyai Laksmi itu tersenyum simpul pada Sari dan mengangguk.
"Kamu beruntung bertemu denganku cah ayu, dan sekarang mana rumah yang kamu janjikan?"
"Sebentar, terus lelembut yang sudah nyai panggil gimana itu? Saya juga harus membawanya masuk bersama nyai?"
Nyai Laksmi menggeleng, "Tidak, mereka lelembut murahan biar saja mereka yang terpanggil dengan mantra dukun itu! Aku bisa memberimu lebih cah ayu,"
Sari berpikir sejenak, lalu kembali bertanya. "Siapa nama dukun itu nyai? Apa nyai tahu?"
"Orang menyebutnya Mbah Wito," jawab nyai Laksmi seraya menunduk dan menghilang.
"Mbah Wito? itu kan ...," Sari ingat lelaki dalam foto yang diperlihatkan Aji padanya kemarin, "Jangan-jangan, dia orang yang sama!"
Nyai Laksmi tanpa perlawanan masuk ke dalam mustika berwarna hijau kebiruan yang indah. Sari kembali dan mas Amri perlahan tersadar. Sari memberikan minum yang telah diberikan doa untuk mas Amri.
"Udah enakan?" tanya Sari dengan senyum.
"Iya mbak, udah. Saya kok disini kenapa ya?"
"Hhm … la Kowe pie to, meh Magrib dumadak resik-resik kebon! Yo kesambet!" Mbak Pur terlihat kesal melihat kelakuan mas Amri yang masih terhitung keponakannya.
"Oh ngono to, aku lali budhe! Aku ki mung kelingan ketemu wing ayune rak patut, ngajak kenalan!"
(Oh begitu ya, saya lupa budhe! Saya ingatnya ketemu orang cantik banget ngajak kenalan!)
"Lha kui, dumadak jelalatan matane og! Kesambet to tibake!"
(Lha itu, pake jelalatan segala matanya! Jadinya kesurupan kan!)
"Sudah, nggak usah ribut lagi! Udah mau magrib ni siap-siap magriban bentar lagi adzan!" ujar Sari melerai.
"Nggih mbak!" sahut ketiganya seraya pergi meninggalkan Sari.
Sari melirik jam di dinding, ketika mobil Doni memasuki pelataran. Dari balik jendela besar ia melihat Doni bersama seorang laki-laki tampan mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung sebagian.
Sari mengernyit mencoba mengingat ingat siapa lelaki tampan itu.
"Hai beb, nungguin ya?!" Doni mencium kening Sari.
"Tumben pulang cepat nih? Ada apa?"
"Hhm, ada tamu!" sahut Doni dengan cengiran khasnya.
"Mbak Sari, lama ya nggak ketemu?!" Pria tampan itu menyembul dari balik tubuh Doni, dan Sari pun mengingatnya seketika,
"Saka?!"