Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Pertarungan Dahsyat Sepanjang Masa



Airlangga muncul di kediaman Saka. Ia berhasil membuat lubang besar pada satu sisi kubah pelindung buatan Bayu dan kakek Wisesa. 


"Beb, lindungi Kania dan Erick! Aku akan memancingnya untuk menjauh dari sini."


Tanpa menunggu jawaban dari Doni, Sari pergi meninggalkan Kediaman Saka dengan cepat. Sari mencari tanah lapang yang cukup luas dan jauh dari pemukiman penduduk. 


Warga yang panik berlarian menjauh dan berlindung di tempat aman. Kehadiran dua orang asing dengan energi tak biasa membuat para warga ketakutan. Apalagi serangan pasukan iblis di beberapa sudut kota menyebarkan teror mengerikan untuk umat manusia.


Sari melirik ke arah warga yang kini bersembunyi. Ia harus memastikan keamanan mereka sebelum mulai memprovokasi Airlangga.


"Mencariku?!" Serunya pada Airlangga yang dengan cepat mengejarnya.


"Kau meninggalkanku begitu saja disana!" 


"Oh, maafkan aku jika melukai hatimu! Ehm, apa kurungan itu menyakitimu? Aku lihat ada goresan pada wajahmu?!" Ejek Sari pada Airlangga yang mulai terbakar amarah.


Airlangga menyeringai padanya, "Kau menyakiti hatiku Sar, apa kau tahu betapa aku merindukanmu dan menantikan pertemuan ini setiap detik!"


"Wow, aku sangat tersanjung! Baiklah, let's play than!"


Sengkayana muncul di tangan Sari begitu juga pedang iblis milik Airlangga. Dua buah pusaka saling beradu menciptakan getaran dahsyat di tanah. Bumi berguncang seolah tak sanggup menahan kekuatan maha dahsyat dari dua immortal.


Hempasan energinya bahkan bisa dirasakan hingga radius beberapa kilometer dari lokasi pertarungan. Sari berkelit menghindar, memutar tubuhnya menghindari tikaman yang nyaris mengenai organ vitalnya.


"Uups! Sorry, meleset!"


Airlangga geram, ia kembali mengayunkan pedang iblisnya. Sari meloncat tinggi menghindari sabetan berenergi tinggi yang menyapanya nakal. Serangan Airlangga, menghancurkan beberapa bangunan ruko yang kini telah ditinggalkan. Meruntuhkannya sebagian, menimbulkan suara gemuruh yang menakutkan.


"Aku harap gedung itu diasuransikan!" Ujar Sari menatap bangunan kokoh yang pasrah terhantam energi kuat Airlangga.


Bola sihir hitam terbentuk di depan dada Airlangga, ia kembali menghujani Sari dengan sihir hitam. Sari menahannya dengan perisai Sengkayana. Satu kesempatan datang, Sari mengembalikan bola sihir Airlangga. Immortal tampan berambut panjang itu terhempas jatuh ke jalanan beraspal, menimbulkan jejak dalam disana.


"Brengsek! Pintar juga dirimu!" Airlangga mengusap sudut bibir yang mengeluarkan darah.


"Maaf, apa itu menyakitkan?" Sari meledek sembari menyiapkan diri karena Airlangga kembali mengumpulkan energi gelap di tangannya.


Sari berhasil menghindar tapi rupanya itu hanya pengalihan Airlangga. Dari arah belakang Airlangga tiba-tiba saja muncul dan menyerangnya. Sari berhasil menangkis pedang iblis setelah melentingkan tubuhnya tapi tidak dengan tendangan Airlangga.


Tendangan Airlangga mengenai perutnya, membuat Sari harus rela tubuhnya terlempar dan menabrak dinding-dinding beton. Tulang di tubuhnya terasa remuk dan mungkin patah di beberapa bagian. Sari mencoba berdiri dengan bantuan Sengkayana, di antara debu yang masih beterbangan di sekitarnya.


"Hanya itu kemampuanmu, Airlangga?!" Serunya sembari mencoba berdiri tegak, suara gemeretak tulang terdengar beradu.


"Kau benar-benar payah! Immortal huh, kekuatanmu bahkan setara denganku yang baru menjadi immortal beberapa tahun!" Sari kembali membakar amarah Airlangga.


Airlangga menggeram, ia berubah ke dalam wujud iblisnya. Wajah tampan yang mengerikan itu menyeringai sinis ke arah Sari. 


"Kau pikir aku takut? Come to me babe!" 


Sari kembali menyongsong Airlangga. Saling serang, saling pukul, dan melemparkan bola sihir. Mengantarkan energi besar masing-masing untuk melumpuhkan dan melukai satu sama lain.


Dua immortal bertarung, dengan kekuatan hebat dan kemampuan memulihkan diri dengan cepat membuat pertarungan keduanya adalah pertarungan terdahsyat sepanjang masa.


...----------------...


Di kediaman Saka, 


Doni bisa merasakan energi istrinya yang begitu kuat. "Pertarungan mereka sudah dimulai." Gumamnya lirih.


Ia bergegas mengatur barisan kesatria muda bersama Pak Agus, Mika dan juga Saka.


"Mas Saka sebaiknya mas Saka berlindung bersama Kania dan Erick! Sari tidak ingin konsentrasinya terpecah untuk melindungi yang lain!" Doni meneriaki Saka yang sibuk menata barisan ksatria nya.


"Saya pernah ikut dalam pertarungan mereka kan mas, jadi biarkan saya juga ambil peran kali ini!" Sahutnya tanpa memperdulikan teriakan Doni.


"Ccck, sombong bener tu orang! Emang dia bisa berantem, pake sihir juga nggak bisa!" Gerutu Doni.


"Uncle, garam ini bagaimana?" Mika mengingatkan Doni, ia menunjuk pada kantong berisi garam kasar yang sudah disiapkan Saka.


"Bantu uncle, kita beri sedikit sentuhan pada garam ini!"


"Bagikan ini pada para kesatria, gunakan pada saat terdesak! Kita lihat sejauh mana ini bisa membantu!"


Mika segera menjalankan perintah Doni, ia dibantu beberapa ksatria lain memasukkannya kedalam kantong-kantong kecil untuk dibagikan pada yang lain.


Pasukan iblis mulai berdatangan mendekati kediaman Saka. Dua orang dukun dalam bentuk iblisnya terbang mengitari kediaman Saka, mengintai dari ketinggian, mencari kelemahan pertahanan.


"Aku benci mereka, bagaimana jika kujadikan burung panggang!" Salah satu kesatria muda yang berjaga di lantai atas mengarahkan anak panah pada salah satu dukun.


"Mendekat lah kemari, sedikit lagi!" Ujarnya lirih, ia membidik tepat di jantung Mbah Wito.


Dengan penghitungan tepat akhirnya anak panah melesat tepat di jantung Mbah Wito. Mbah Wito meraung keras, ia melihat ke arah dadanya lalu menarik anak panah yang menancap. Darah kehitaman keluar dengan deras, Mbah Wito mencari penyerangnya.


"Sial! Dia masih tahan! Rasakan ini iblis jelek!" Kesatria muda itu kembali melesatkan anak panah, menghujani Mbah Wito dengan puluhan anak panah dari busur mekanik miliknya.


Hingga satu anak panah beracun melesat tepat diantara kedua matanya. Mbah Wito terdiam sesaat lalu jatuh berputar dengan cepat menghantam tanah.


"Gotcha!" Suara seorang kesatria wanita lain terdengar, Mika menyeringai.


"Nice shot!" Ujar kesatria pemberani itu pada Mika.


"Baiklah sepertinya kita harus menahan mereka disini bukan?!" 


"Apa kau yakin kita bisa menang?" Pertanyaan kesatria muda itu meragukan kekuatan yang mereka miliki.


"Hei, siapa namamu?" Kening Mika berkerut.


"Namaku Seno,"


"Oke, Seno dengarkan aku. Jumlah belum tentu menentukan kemenangan salah satu pihak tapi strategi dan ketepatan kita memperkirakan kelemahan lawan itu yang terpenting. Aunty Sari pasti sudah mempertimbangkan hal ini. Jauh-jauh hari ia bahkan menyiapkan diri untuk menghadapi Airlangga. Kita pasti bisa menghadapinya, percayalah padaku Seno!"


"Entahlah, mereka tampak menyeramkan sekali!" Sahutnya menggelengkan kepala, ia bergidik melihat penampilan para iblis dengan tangan yang membelah bak sulur tanaman.


Mika melemparkan beberapa kantung garam sihir padanya. "Gunakan ini saat terdesak, gunakan pula sihir yang sudah diajarkan uncle pada kalian!"


"Aku harap ini berhasil nona!" Ujarnya seraya berlalu untuk membagikan beberapa kantung lain pada kesatria yang berjaga di lantai atas.


Mika memantau garis terdepan, para kesatria telah bersiap menghadang pasukan iblis. Awan hitam masih terlihat menggantung di langit. 


"Semoga kita selalu dalam perlindunganNya, mas Pandji aku harap kau segera tiba disini!" Kekhawatiran muncul di hati Mika.


Selang beberapa saat kontak pertama dengan barisan terdepan pun terjadi. Dentingan pusaka yang saling beradu, raungan dan lolongan panjang para iblis yang terpenggal, serta jeritan para kesatria muda yang gugur dalam pertarungan terdengar begitu pilu.


Mika melompat dari lantai atas, dan mendarat tepat di sisi Doni.


"Uncle, lindungi aku!"


Doni mengangguk, Mika akan membuat rune sihir raksasa untuk membantu para kesatria lain. Mika menggoreskan belatinya di tanah, setiap goresan yang terbentuk mengeluarkan cahaya keemasan hingga akhirnya benar-benar menyatu sebagai satu kesatuan rune sihir raksasa.


Cahaya keemasan itu menyala terang, sangat kontras dengan gelapnya langit. "Uncle, ini akan membantu melawan mereka tapi aku tidak menjamin ini akan bertahan lama."


Doni mengangguk, ia kembali membabat prajurit iblis yang menyerang. Sekali tebasan pusaka miliknya mampu melumpuhkan dua sampai tiga prajurit kegelapan.


Mika menyeret sekelompok iblis ke dalam rune sihir buatannya. Para iblis itu hancur dalam sekejap saat memasukinya menyisakan debu hitam beterbangan.


Saka juga tak mau kalah, diam-diam rupanya ia mempelajari beberapa jurus yang diajarkan Doni pada para kesatria nya. Tongkat panjang yang digunakannya bukan jenis pusaka biasa, ia mendapatkannya dari salah satu pusaka peninggalan Lingga. Sekali pukul tongkat itu bahkan bisa membelah tubuh iblis dan menghancurkannya menjadi debu.


Doni melirik Saka, ia tak terlihat kewalahan. Jiwa berjuangnya lumayan tinggi sangat berbeda dengan Saka yang masih lugu 15 tahun lalu.


"Mas Doni awas!"


Saka melompat tinggi, menghantam pak tingkat di kepala iblis yang hampir saja menebas tangan Doni. Suara retakan tulang terdengar ngilu di telinga Doni. Iblis bermoncong itu diam, matanya melotot dan tak lama kemudian tubuhnya terurai menjadi debu.


"Lumayan juga mas Saka, thanks!" Seru Doni yang kembali disibukkan dengan iblis-iblis yang berdatangan.


Mereka kembali berjuang melawan serbuan pasukan iblis. Meski kekuatan tidak sebanding, tapi lebih baik berjuang sampai mati daripada melarikan diri. Keberadaan umat manusia terancam jika sampai mereka kalah.