
Sari dan Doni telah bersiap di lobby, ini adalah hari pertandingan. Hari yang begitu ditunggu Saka. Ia tidak sabar ingin mengetahui kemampuan para murid kesatrian miliknya.
Meski tergolong kesatrian baru, Saka tidak main-main mendirikannya. Beberapa guru dengan ilmu sihir dan kemampuan olah tubuh tingkat tinggi didatangkan khusus olehnya.
Sari sudah bisa memprediksi tingkat keberhasilan kesatrian Saka. Bukan sebagai pemenang hanya sebagai penggembira turnamen saja. Sari tidak melihat potensi yang cukup dari perwakilan yang ditunjuk Saka, meski ada dua orang pemuda yang Sari lihat sedikit menonjol.
"Pagi mbak Sari, saya deg-degan nih nunggu hari ini sampai nggak bisa tidur!"
"Oh kirain nggak bisa tidur karena ketakutan mas Saka!" ledek Doni.
"Mas Doni, masih aja bahas itu sih!" Saka tersenyum miring.
"Aman kan leher?" goda Doni lagi.
Saka refleks memegang lehernya sambil celingukan. "Aman mas, duh jangan bahas dong bisa gemetaran saya! Ini hari besar mas Doni!"
Ia berbisik dengan kesal tidak ingin suaranya terdengar ke telinga para muridnya.
Doni tertawa melihat wajah tampan Saka berubah pucat pasi ketakutan. Sari memukul lengan Doni, memintanya untuk diam.
"Mas Saka, pesen saya cuma satu apa pun hasilnya legowo, menerima dan sportif ok?!"
"Iya mbak, lagipula ini kali pertama tanding saya juga nggak berharap banyak kok,"
"Good, untuk ke depannya bukan hanya fisik tapi mental anak didik mas Saka juga harus disiapin!" saran Sari pada Saka.
"Apa menurut mbak, masih kurang yaa?" tanya Saka dengan harap harap cemas.
"Mau jawaban bohong apa jujur nii?" Sari balik bertanya.
"Jujur dong mbak biar saya tahu dimana salahnya!"
"Oke, kurang! Mas Saka masih terlalu memanjakan mereka, padahal jadi kesatria itu berat! Harus banyak lelaku yang dijalankan," kata Sari terang terangan.
"Saya nggak manjain mereka kok mbak?" elak Saka sambil mengerutkan keningnya.
"Hhhm, saya nggak bisa komen banyak deh! Kita lihat nanti aja, udah siang nanti kita terlambat!"
Sari beranjak dari lobby diikuti timnya. Saka dan para peserta turnamen berada dalam bus khusus yang disewa tentu saja dengan fasilitas layaknya tamu agung. Ini yang membuat Sari hanya bisa menggelengkan kepala. Terlalu mewah untuk para kesatria muda.
Tak berapa lama mereka pun tiba di kesatrian Putra Ganendra tempat turnamen diselenggarakan. Dari kejauhan Sari bisa melihat aura gelap pekat yang memayungi tempat turnamen digelar.
Hawa yang tidak bersahabat menyapa Sari. Tubuhnya terasa sakit dan tidak nyaman, berkali kali ia harus menghela nafas menetralkan energinya yang bergejolak saat membentur energi negatif lain.
"Kamu yakin bisa bertahan di dalam? Aku nggak mau setelah ini malah kamu jadi sakit!" tanya Doni yang mengkhawatirkan keadaan Sari.
"Hhmm, aku rasa bisa tapi … entahlah, ini terlalu kuat," jawab Sari resah.
Doni menyentuh lembut tangan Sari dan mengusapnya sejenak. "Calm down beib!"
"Apa kamu lihat itu?" tanya Sari pada Doni saat mobil mereka masih beberapa meter jaraknya
"Sepertinya begitu, Hargo Baratan menurunkan hampir sebagian muridnya dalam turnamen. Iblis itu bersemayam dalam tubuh para pemuda pilihan. Jadi nggak heran kalau aura gelap mendominasi,"
Sari menatap tajam ke arah awan gelap yang tampak samar terbentuk memayungi di sekitar arena turnamen.
"Kamu udah pastikan kalau itu bukan Airlangga?" tanya Doni setelah memarkirkan kendaraannya.
"Udah, memang bukan dia!"
"Sar, ingat redam energimu! Aku nggak mau ada hal lain yang terjadi selain pertandingan. Kita kesini mau mencari dan mengamati Mika bukan mencari masalah!" Doni meraih tangan Sari.
"Iya, aku akan usahakan itu!"
"Bersikaplah biasa dan jangan jadi pusat perhatian, kita bahkan harus berpura-pura tidak mengenal keluarga mas Al. Ok?!"
Doni menatap Sari dengan lembut, ia mengusap rambut hitam Sari dan mencium puncak kepalanya.
"Ayo kita turun!"
Sari, Doni, dan juga Saka duduk dibangku penonton. Sementara tim Saka didampingi guru mereka duduk di deretan khusus peserta. Suasana cukup ramai karena para peserta sudah mulai berdatangan.
Sari memperhatikan sekitar ia bisa merasakan aura tak biasa yang merembes dari seseorang, Sari yakin itu berasal dari putra Alaric, Pandji. Benar saja ia datang bersama rombongannya. Penampilan Pandji tampak menonjol dengan dua bilah pedang di punggungnya.
"Wow lihat Pandji, keren bener dia udah kek di film - film laga aja!" bisik Doni pada Sari.
"Hhm, iya sempurna buat jadi idola baru tuh,"
Sari hanya tersenyum, tidak bisa dipungkiri aura Pandji yang begitu kuat membuat para peserta turnamen lainnya langsung berbisik dan mengomentari kehadiran Pandji. Selain tampan aura ksatria Pandji tidak bisa dianggap rendah, benar-benar pemuda dalam ramalan.
Tapi bukan Pandji yang menarik perhatian Sari, ia terus menatap ke arah gadis cantik dengan selisih umur 6 tahun dibelakang Pandji. Gadis cantik itu setia menemani Pandji bahkan cenderung over protective. Padahal ada gadis lain yang juga ikut dalam tim.
"Mika, sepertinya dia dan Pandji susah dilepaskan," gumamnya sendiri.
Sari memperhatikan gerak gerik Mika berusaha membaca kemampuan Mika dari kejauhan. Rupanya hal itu juga terbaca oleh Mika. Gadis cantik itu berulang kali menatap ke arah Sari, tapi Sari bisa mengalihkan perhatian dengan berpura-pura mengobrol bersama Doni.
"Sar, jangan cari masalah! Kalo Mika sampai tahu dan dia marah karena kamu baca dia gimana?!"
"Aku cuma baca dia dikit!" elak Sari sambil berpura pura merapikan pakaian Doni.
"Sedikit? Aku lihatnya nggak begitu, tuh liat Mika sampai nyariin! Stop it!" bisik Doni dengan penuh penekanan.
"Iya, udah kok. Aku pikir juga sudah cukup buat tahu kemampuan Mika,"
"Good, sekarang kita nikmati aja pertandingan. Siapa tahu ada kejutan nanti!"
Ekor mata Sari menangkap Mika yang masih memperhatikan dirinya. Sari tersenyum mendapati kemampuan Mika yang menyapanya dengan skill eyes.
"Gadis pintar, kamu yang aku cari. Baiklah, sampai waktunya tiba aku akan menjagamu dari jauh!"