Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Mbah Wito



Seorang lelaki duduk bersila, terdiam dan larut dalam semedinya. Kedua tangan menyilang di depan dada, dan tangan kanannya menggenggam keris. 


Mengenakan pakaian serba hitam dilengkapi ikat kepala warna senada. Keringat membanjiri tubuhnya, sesekali ia mengernyit seolah sedang berfikir dalam. Keris dalam genggaman tangannya terkadang bergetar hebat dan kemudian kembali diam.


Ruangan temaram dengan aroma kemenyan pekat dan bunga bertaburan di atas meja. Sesaji dan sebuah tungku prapen yang masih menyala menandakan ia baru saja melakukan ritual.


Seorang pria lain masuk ke dalam ruangan, berjalan jongkok dan dengan perlahan duduk berhadapan dengan lelaki berbaju hitam yang masih asik memejamkan matanya itu. Pria itu menunggu si dukun dengan sabar. 


Tak berapa lama dukun itu membuka mata memindahkan keris di depan dada lalu mengangkatnya tinggi seolah sedang menjura pada sesuatu. Setelah meletakkan kerisnya di atas tampah kecil berisi bunga tujuh rupa, ia menatap pria didepannya.


"Ada kabar apa?"


"Nganu Mbah, wanita itu sudah muncul! Dia datang ke Jogja kemarin, dan saya melihatnya sendiri dia memiliki kemampuan yang hampir sama dengan majikan kita!" Lapor pria yang terlihat masih muda berumur sekitar tiga puluh tahunan.


"Aku sudah menduganya! Dia juga yang mengacaukan rencanaku pada Aji dan juga membunuh iblis penjagaku!" Dukun yang bernama Wito itu terlihat geram.


Mbah Wito yang masih kerabat Aji sebenarnya belumlah terlalu tua, usianya bahkan belum mencapai 50 tahun tapi karena profesinya sebagai dukun gelar Mbah disematkan padanya. 


"Terus kita mau gimana Mbah selanjutnya?" tanya pria asisten Mbah Wito yang bernama Slamet.


"Awasi dia, jangan sampai lengah! Kalo aku kirim lelembut dia pasti bisa tahu, lebih baik pake cara yang biasa saja Met!"


"Ikuti kemana dia pergi jangan sampai lolos!" titahnya pada si Slamet yang diikuti anggukan asistennya itu.


"Eh, kemanapun Mbah?"


"Iyo, Met! 


Slamet sedikit mengernyit dan memiringkan kepalanya, ia bingung dengan perintah Mbah Wito. Maklum saja Slamet termasuk dalam kategori pria dengan daya tangkap rendah.


Mbah Wito mendelik tak percaya mendengar pertanyaan Slamet,


"Wehlah cah gendeng! Yo ora ngono to! Maksudku jangan sampai lepas dari pengawasan!"


(anak gila! ya jangan gitu!)


"Oh gitu, lah tadi mbah kan pesennya gitu kemanapun jangan sampai lepas! Ya kalo dia mau mandi apa tidur kan berarti harus saya ikutin to Mbah!" ujar Slamet dengan polosnya.


"Dasar koplak! Kamu ngikutinnya ya cukup sampai di depan rumahnya! Ngapain ikut masuk ke dalam juga! Pie to, pekok kok mbok piara!"


Slamet cengengesan meskipun dirinya dimaki Mbah Wito. Pria yang sudah menjadi abdi Mbah Wito selama 5 tahun itu sudah hafal dengan kelakuan Mbah Wito.


"Gini-gini juga setia lho Mbah saya! Jarang-jarang nemu makhluk unik kayak saya Mbah!" elaknya kalem 


"Iyo juga sih, aku wae sing apes entuk model kowe Met!" sahut mbah Wito kesal.


Untuk sesaat Mbah Wito terdiam dan memikirkan sebuah rencana. Dia dan ketujuh dukun hitam lain sudah berjanji setia pada Airlangga. Iblis tampan yang menjanjikan mereka kekuatan dan kekuasaan tanpa batas dengan perjanjian darah.


Kemunculan Sari yang secara tidak sengaja membantu keponakannya Aji, membuat Wito akan jadi dukun pertama yang harus menghadang Sari sebelum Airlangga bangun dari tidur panjangnya. 


...----------------...


Sari menemani Doni untuk berpamitan di perusahaan tempatnya bekerja. Tawaran Saka dan keinginannya mendampingi Sari membuat Doni memilih untuk mengundurkan diri stasiun televisi yang membesarkan dirinya.


Sari tidak ikut masuk ke ruangan pak Arya ia hanya menunggu di ruang tamu yang terletak di depan ruangan divisi. Ruangan tempat dulu dirinya dan tim Journey to the East mengawali program mereka.


Rasa nyeri dan sedih kehilangan mereka kembali menjalar, menguasai sisi lain Sari yang sengaja dikubur dalam-dalam selama 15 tahun terakhir.