Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Antara Rindu dan Ilusi



Doni memilih menunggu di pendopo seraya memperhatikan perubahan awan gelap yang terus memayungi kota Jogja di sisi timur. Meski kondisi malam hari tapi dengan mata batinnya Doni bisa melihat portal kecil yang terbuka disana.


"Iblis kecil itu pandai sekali menyembunyikan dirinya. Tak lama lagi dia akan pulang ke rumah. Cerdas dan juga licik!" gumamnya sendiri.


Sementara itu Sari menemui Giandra.


"Hai sayang, boleh aunty masuk?" tanya Sari dengan senyum mengembang di bibirnya. Gia sedang bermain dengan bonekanya saat Sari membuka sedikit celah pintu.


"Aunty Sariii!!" jeritnya dengan penuh suka cita. Gia berlari dan memeluk Sari erat.


"Apa kabar cantik? Aunty lihat kamu kemarin?"


Gia segera menarik tangan Sari untuk duduk di tepi ranjang berwarna pink miliknya.


"You see me?" (Kau lihat aku?)


"Yes I did! Kamu dan keempat penjagamu yang luar biasa!"


"Benarkah? Gia takut sekali waktu itu aunty, tapi ibunda meyakinkan kalau Gia pasti bisa! Gia inget aunty, kalo aunty Sari aja bisa pasti Gia juga bisa!" Celotehnya dengan berapi-api.


Sari tertawa lalu mengusap lembut rambut panjang hitam Gia.


 "You do a good job honey! I'm proud of you!"


(Kamu melakukan pekerjaanmu dengan baik sayang! Aku bangga padamu!)


"Yeah thank you aunty, tapi mas Pandji sempat marah waktu Gia keluar dari rumah buat nyelamatin mas Pandji sama mbak Mika! Gia juga mau bertarung aunty!" keluhnya sedikit kesal mengingat kejadian malam itu.


Sari hanya bisa tersenyum dan menggenggam tangan Gia, "Semuanya akan berproses sayang, seiring bertambahnya usia kamu pasti bisa menjadi seperti mas Pandji  dan juga mas Raksa!"


"Jangan lupa bahwa kamu adalah bagian dari trah pilihan Siliwangi, Gia itu Srikandi kecil bagi aunty!" 


Gia tertawa kecil, ia kembali bercerita tentang perasaannya saat itu. Debut pertamanya menyerang maroz yang hendak menerkam kakaknya, Pandji. 


Ia menceritakan betapa dirinya gemetar saat menusukkan kujang ke mata besar maroz. Gia yang juga takut diterkam maroz dan rasa jijiknya saat melihat darah hitam dan bau busuk yang keluar dari tubuh tak bernyawa yang dibabatnya habis.


"Lalu apa itu menyenangkan buat Gia?" tanya Sari lembut.


"Hmmm, entahlah sedikit menakutkan dan juga menjijikkan tapi ada rasa bahagia karena bisa membantu mas Pandji!" sahutnya dengan mata berbinar.


"Good girl, good job, and good decision! Aunty yakin Gia bisa bantu ayah sama Ibunda buat ngelawan itu kawanan makhluk jelek!" Sari mengacak rambut Gia.


(Gadis pintar, kerja bagus dan pilihan tepat!)


Gia tersenyum lalu celingukan ke belakang tubuh Sari, "Apa kang Bayu nggak ikut?"


"..." Sari bingung mau menjawab apa.


"Ehm, Bayu ya … dia sedang sedikit sibuk!" jawab Sari asal.


"Sampaiin salam Gia buat kang Bayu ya aunty?! Jangan lupa janji aunty buat ngajak main lagi ke Padang rumput!" Mata indah Gia membulat seketika membuat Sari terkekeh.


Gia, Bayu lebih pantas kamu sebut Mbah buyut lho bukan akang!


Setelah berpesan singkat pada Gia untuk memakai kekuatannya jika terdesak, dan sedikit mengajarinya mantra sihir, Sari pun berpamitan. Tepat disaat Sari keluar kamar Gia, Pandji datang menggendong Mika yang masih terkulai lemas.


"Apa Mika …,"


"Dia akan baik-baik saja tenanglah, Selia akan mengatasinya!" Al menjawab kegelisahan Sari.


"Nggak nginap disini saja mbak? Masih ada kamar kosong kalo mbak mau?" Al menawarkan pada Sari dan Doni.


"Ehm, kami sudah booking kamar di hotel terdekat sini mas. Mungkin lain kali saja," tolak Doni halus.


"Baiklah, kita ketemu lagi besok gimana?" Al kembali bertanya.


"Tentu, masih banyak yang kita harus bicarakan sebelum hari itu datang!" jawab Sari seraya masuk ke dalam mobil.


Mereka meninggalkan kediaman Alaric melewati rumah yang diselimuti kabut hitam tipis. Beberapa pemuda dengan tatapan tajam yang berjaga di depan rumah memperhatikan mobil yang dikendarai Doni.


"Lihat itu beb, elemen kehidupan mereka bahkan sudah menghilang. Tubuh mereka murni dikuasai iblis!" kata Doni yang masih memperhatikan para pemuda dari spion mobil.


"Semakin banyak manusia yang dirasuki iblis bernama maroz, tanggung jawab besar untuk Pandji!" sahut Sari dengan memejamkan mata.


Mobil melaju menuju hotel, Sari dan Doni yang kelelahan pun terlelap tidur setelah membersihkan diri.


**********


Sari gelisah dalam tidurnya, keringat membasahi tubuh, keningnya berkerut dan tangannya mengepal. Dalam mimpinya ia seolah terjatuh dari ketinggian gedung. Begitu cepat dan menukik tajam menghujam bumi.


"Aku mati … aku tidak bisa bergerak, apa ini! Oh tidak, Don … beb, tolong aku!" jeritnya dalam mimpi.


Tubuh Sari terasa kaku tak bisa bergerak ia hanya bisa merasakan angin kencang yang menerpa tubuhnya. Dalam hitungan detik dirinya siap menghujam permukaan tanah.


"Tidaaaaaak!!"


Sari terlonjak bangun dari tidurnya, nafasnya tersengal dan pendek. Jantungnya berdetak tak beraturan, kepalanya pusing. 


"Cuma mimpi," gumamnya lega.


Untuk sesaat Sari menenangkan diri, ia meraba ke samping tangannya tidak menemukan Doni.


"Beb, dimana dia? Apa dia udah bangun?"


Sari bingung, ia linglung kamar yang ditempatinya berubah. Kamar itu jadi jauh lebih luas, tirai kamar yang berwarna putih tampak menari ditiup angin.


"Dimana ini, seingatku semalam kamar ku ada di lantai 3 darimana datangnya angin itu?"


Rasa penasaran membawanya mendekati tirai dan betapa terkejutnya Sari saat melihat keluar jendela.


"Ini, dimana? Ini bukan hotel!" 


"Sar …," suara bariton nan lembut menyapanya.


Sari gemetar, dengan perlahan ia membalik tubuhnya memastikan pemilik suara yang sangat ia rindukan itu.


Seorang lelaki berdiri dengan kemeja putih tak berkancing hingga dada bidangnya terekspos sepenuhnya.


"K-kamu …,"


"Kemarilah Sar!" Pria berkulit putih itu tersenyum lebar. Kedua tangannya terbuka lebar seolah meminta pada Sari untuk memeluknya.


Tirai putih yang menari dan menutupi wajah sang pria tersibak. Menampakkan wajah tampan yang dulu dirindukan Sari. 


"Bagas …,"


Mata Sari berembun, bibirnya bergetar kerinduannya pada sosok Bagas muncul ke permukaan hatinya. Kerinduan yang seharusnya sudah terkubur dalam.