Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Menjadi Official Team



Sari dibuat terkejut dengan kedatangan Saka. Bertahun-tahun tidak bertemu semenjak kejadian itu membuat Saka jauh berbeda. Masih dengan potongan rambut cepak nya, Saka jauh terlihat lebih dewasa dan tentu saja mapan.


Kematian Lingga bagaikan rezeki tak terduga bagi Saka. Rupanya Lingga telah mempersiapkan segalanya bagi Saka. Anak yang diambilnya dari kecil dan dijaganya hingga menjadi asisten pribadinya itu menjadi pewaris tunggal seluruh kekayaan Lingga.


"Apa kabar mas Saka?" sambut Sari hangat.


"Baik mbak, wah benar rupanya Mbak Sari masih sama seperti lima belas tahun lalu. Cantik dan menggoda," ujarnya bercanda.


"Eeits, mas Saka dia istri saya lho … jangan coba-coba merayu di depan saya!" balas Doni dengan seringai mengancamnya yang konyol.


Tawa Saka meledak melihatnya, Doni masih sama seperti dulu yang ia kenal. Suka bercanda dan konyol, yang berbeda hanya rambut Doni kini mulai memutih, dan terlihat semakin kebapakan. Sangat kontras dengan Sari yang masih tampak muda dan cantik seperti berusia 25 tahun.


"Jadi ada maksud apa ni mas Saka datang kemari?" tanya Sari sambil menuangkan teh herbal ke cangkir Saka.


Saka menatap Doni sekilas lalu ia mengeluarkan undangan dari dalam tas kerjanya. Ia menyodorkan undangan bersampul warna hitam dengan motif keemasan menghiasi bagian amplop luar.


"Apa ini?" tanya Sari menerima undangan itu.


"Undangan untuk mengikuti turnamen tahunan yang diadakan di salah satu kesatrian," jawab Saka serius.


"Turnamen? Kesatrian?" Sari masih belum mengerti.


"Iya, saya mendirikan sebuah perguruan yang mendidik kesatria muda dengan ilmu Kanuragan dan sihir terbaik. Tahun ini saya coba menjajal kemampuan para kesatria muda kami untuk ikut dalam turnamen," Saka menjelaskan.


Sari masih membaca isi undangan itu, dan menangkap nama yang cukup ia kenal.


"Alaric, Putra Ganendra?" Sari menatap tak percaya pada Doni.


"Eeh, siapa beb? Apa yang kamu maksud Alaric yang kita ketemu di Indramayu?" Doni segera merespon.


"Entahlah, mungkin namanya sama. Tapi ngelihat nama kesatrian yang menjadi tuan rumah sepertinya ini sebuah jawaban," Sari sedikit gembira karena akhirnya ada titik terang dari semua informasi  yang didapatnya.


"Kalian kenal sama mas Al?" tanya Saka penasaran.


"Hhmm, kalau ini benar Alaric yang kami kenal … iya tentu saja, mereka teman lama." jawab Sari tersenyum.


"Boleh aja, tapi semua akomodasi dan lain-lain …,"


"Saya yang tanggung, plus bonus untuk kalian!" Saka langsung menyambar perkataan Sari tanpa jeda.


Sari dan Doni saling berpandangan dengan mata berbinar dan senyum di wajah mereka.


"Kapan acara ini diselenggarakan?" tanya Doni.


"Turnamennya sih masih lima hari lagi, tapi akan ada acara penyambutan dan technical meeting tiga hari dari sekarang," jawab Saka pasti.


Sari mengangguk mengerti, dalam otaknya kini sudah ada sejuta rencana untuk mengeksplorasi Yogyakarta. Ia penasaran dengan portal dimensi yang terbentuk dan juga keberadaan pemuda trah Ganendra yang disebutkan dalam ramalan.


Selangkah lagi menuju petunjuk yang lain, aku harus menemukan pemuda itu dan orang yang akan membantuku!


Sehari sebelum acara penyambutan dan technical meeting, Sari dan Doni beserta rombongan tim Saka telah berada di Yogyakarta. Saka tidak main-main dengan niatnya mengikuti turnamen. Ia memberikan fasilitas VVIP untuk timnya dan juga Sari.


"Acara penyambutannya akan diadakan besok sore jadi kalian bisa jalan-jalan dulu menikmati kota Yogyakarta," 


Saka membuka percakapan di meja makan besar yang sengaja dipesan khusus pada pihak hotel dan restoran agar semua timnya bisa makan dan duduk bersama.


"Beb, ni orang dah kek Lingga bener semua serba mewah!" bisik Doni pada Sari


"Ya gimana lagi kekayaan 7 turunan aja nggak habis masih single lagi, mana ganteng khas lelaki metropolis," sahut Sari setengah menyindir suaminya.


"Hhhm, nyesel aku bisikin kamu beb! Malah mental balik nih sindirannya!"


Sari tertawa kecil melihat wajah pasrah Doni yang langsung menyuapkan sepotong besar olahan daging di selat solo yang dipesannya ke mulut.


"Mbak Sari sama mas Doni rencana mau kemana?"


"Ehm, mengunjungi teman lama sepertinya." jawab Sari dengan senyum penuh makna.