Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Menguak Misteri 1



"Saya ikut mas!" Pak Agus seketika mengajukan dirinya untuk ikut bersama Sari dan Doni.


"Pak Agus ikut, yakin?"


"Iya mbak, ada yang harus saya lakukan juga selain memastikan keberadaan hantu kepala terbang itu."


Sari dan Doni saling berpandangan, sebenarnya mereka enggan tapi akhirnya mengizinkan pak Agus untuk ikut berpatroli malam. Tidak ada salahnya mengajak pak Agus, hitung-hitung mengajaknya latihan sebelum menghadapi Airlangga dan anak buahnya.


Malam harinya setelah berdiskusi, Sari bersama keempat penjaga, Doni dan juga pak Agus berkumpul di halaman belakang rumah pak Agus yang cukup luas. Gazebo kecil di depan kolam ikan digunakan Sari dan yang lainnya untuk memulai patroli malam mereka.


Pagar gaib sengaja dibuat oleh Doni untuk melindungi tubuh mereka yang akan ditinggalkan pergi. Mereka tidak ingin kecolongan dengan kelicikan para lelembut yang akan mengacaukan patroli malam.


Tak butuh waktu lama ketiganya bersama keempat penjaga milik Sari melintasi dimensi. Kini Mereka berada jauh dari desa, berdiri di luar selubung gaib yang menutupi desa.


"Pak Agus lihat kan pagar gaib itu? Pagar itu membuat si hantu kepala tidak bisa masuk ke desa!" Sari menunjuk pada kubah gaib tak kasat mata yang diselimuti kabut tipis.


Pak Agus hanya diam tak bergeming, berjuta pertanyaan bermunculan di benaknya.


"Apa pak Agus tahu siapa warga desa yang bisa buat pagar seperti ini?"


Pak Agus hanya menggelengkan kepala. Ia adalah warga asli desa itu, sepengetahuannya tidak ada warga yang bisa membuat pagar gaib dengan energi besar.


"Sepertinya ini dibuat orang luar desa mbak, saya nggak kenal energi seperti ini!"


"Begitukah?" Sari memindai sekitar, ia mencari petunjuk lain.


"Ada rencana?" Ia beralih pada Doni yang sedari tadi terlihat memperhatikan satu sisi kubah.


Tanpa menjawab Doni berjalan mendekati sisi timur kubah yang menarik perhatiannya.


"Perhatikan, energi kubah ini seperti berpusat pada salah satu tempat! Ada perbedaan kekuatan yang sengaja dibuat di sekitar sini!"


Doni berdiri sedikit lebih dekat ke arah sisi kubah yang dimaksud.


"Artinya kubah ini sengaja dibentuk untuk melindungi sesuatu?" tanya Sari 


"Sepertinya begitu, ada yang disembunyikan dan itu rahasia besar!"


"Hhm, aku mencium aroma persekongkolan. Mungkin lelembut itu akan memberikan jawaban!" Sari mengedikkan kepala ke arah benda yang melayang-layang tak jauh dari mereka.


Pak Agus terkejut saat matanya melihat dengan jelas wajah lelembut tanpa badan itu. Rambutnya yang panjang tampak kusut tertiup angin. Suara serak dan parau terdengar seiring tiupan angin yang mengarah pada mereka bertiga.


"Kembalikan, kembalikan tubuhku …,"


Di telinga Sari suara itu terdengar tidak mengerikan tapi justru memilukan. Lelembut itu bukan menakut nakuti tapi ia mencari tubuhnya yang dipisahkan dan disembunyikan oleh orang-orang jahat.


"Aku harus menangkapnya beb!" Sari bersiap mendekati lelembut yang terus berusaha masuk dalam kubah.


"M-mbak Sari mau nangkep itu kepala?" pak Agus bertanya tak percaya.


"Iya, apa ada pilihan lain?"


"Ehm, tolong jangan musnahkan dia ya mbak?"


Sari tersenyum dan menepuk bahu pak Agus, "Tentu saja, saya cuma mau interogasi aja kok bukan mau musnahkan dia!"


Dalam sekedipan mata Sari sudah berada dekat dengan lelembut yang membentur benturkan dirinya di pagar gaib.


"Butuh bantuan?" Sari menyeringai pada lelembut nakal itu.


Sosok itu berhenti sejenak lalu berputar ke arah Sari. Wajahnya yang tampak mengerikan, menatap Sari.


"Apa yang terjadi denganmu? Aku yakin kau tidak bermaksud jahat?" Sari kembali bertanya.


Lelembut itu hanya mengeluarkan kata yang sama, "Kembalikan tubuhku …,"


"Tubuhmu dipinjam seseorang? Untuk apa?"


Lelembut berbentuk kepala itu kembali membentur benturkan dahi nya mencoba untuk masuk.


Ia menatap Sari tajam, matanya yang hampir keluar itu tampak semakin mengerikan saat menampakkan rasa tidak sukanya. Tiba-tiba saja lelembut itu menyerang dan mencoba menggigit Sari. Untung saja Sari sudah bersiap, tak butuh waktu dan tenaga banyak tangan Sari sudah membuat lelembut itu tak berkutik.


Doni dan pak Agus segera mendekat saat Sari berhasil menangkapnya. Kepalanya terus berputar mencoba melepaskan diri. 


"Hei tenanglah! Kau ingin aku membantumu atau tidak?!" Sari sedikit menggertak.


Suara dengusan kasar terdengar dari mulut si lelembut. Pak Agus mendekat dan sedikit berjongkok hingga wajah si lelembut berhadapan dengannya.


"Shinta? Kamu Shinta kan?"


Lelembut itu berhenti memberontak dan menatap wajah pak Agus.


"Saya dan juga mbak Sari akan bantu kamu, bisa kamu tenang?"


Pak Agus berkata dengan lembut, lelembut itu seolah mengerti dan ia pun diam. Sari perlahan melepaskan cengkraman tangan di rambutnya, dan kepala itu melayang tenang.


"Aku perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi,"


Sari memerlukan persetujuan darinya untuk memasuki memori terakhir si lelembut.


"Tenanglah, dan beri aku informasi siapa dirimu!"


Sari dan lelembut itu saling berhadapan, mereka bersitatap eyes to eyes. Mata tak biasa Sari berkilat kemerahan, mulai memasuki memori terakhir dengan seizin lelembut yang diduga kuat adalah Shinta.


Perlahan Sari memasuki ingatan sesaat sebelum Shinta tewas mengenaskan. Ada tekanan kuat yang menolak kehadiran Sari disana. Tapi itu bukan halangan untuk Sari, perlahan tapi pasti memori itu terbuka.


Sinta duduk seorang diri di sebuah batu besar. Ia terisak meratapi nasib malangnya. Tubuhnya kini penuh dengan luka, baik dari rajaman batu yang dilemparkan para warga ataupun luka bernanah yg dikirimkan lewat teluh.


Semua luka itu menimbulkan rasa sakit tak terkira namun, luka yang paling sakit ada dihatinya. Fitnah keji yang sengaja dibuat untuk mempermalukan dirinya dan keluarga.


Kesedihan Shinta semakin bertambah saat mendengar kedua orangtuanya pun harus diusir keluar desa. Shinta tak pernah menyangka kepulangannya untuk melepas rindu pada kedua orang tuanya harus berakhir dengan tragis. 


Tanpa Shinta sadari, beberapa pemuda telah berada di belakangnya. Rupanya mereka mengekori Shinta sejak kabur dari rumah.


"Kau mau pergi?"


Sinta terkejut dan berbalik menatap tiga pemuda yang sangat ia kenal. Mereka adalah teman masa kecil Shinta, ketiganya juga pernah menyatakan cinta padanya.


"Didi, Ali, Joko? Tolong, tolong jangan begini … lepaskan saya juga bapak ibu! Saya bakal pergi dari desa ini!" Dengan sedikit terbata Shinta memohon pengampunan pada ketiganya.


Ketiga pemuda yang sudah dipenuhi amarah itu saling berpandangan dan menyeringai. Tawa mengejek pun terdengar dari mulut ketiganya. Shinta gemetar dan berjalan mundur bermaksud untuk lari.


Ketiganya bergerak cepat dan mengurung Shinta. Tawa mereka bagaikan silet yang mengiris hati Shinta, tawa terkejam yang pernah Shinta dengar. Tak sedikitpun Shinta menyangka mereka tega menyakitinya. Cinta buta benar-benar telah membutakan mata dan mengeraskan hati ketiganya.


Shinta mencoba berlari tapi tidak berhasil. Tubuhnya didorong paksa secara bergantian oleh ketiganya, hingga terjerembab ke tanah.


"Salahmu menolak cinta kami!" ujar salah satu dari mereka.


"Kalian benar-benar gila, hanya karena cinta kalian berbuat keji seperti ini!" Airmata Shinta berderai.


Mereka tak peduli, hati mereka mati. Tak mengindahkan teriakan Shinta. Tanpa ampun ketiganya menyiksa Shinta menendang dan memukul tubuh tak berdaya itu.


Sari tak kuasa menahan tangis ia memejamkan mata dan memalingkan wajahnya.


Teriakan dan jeritan Shinta tak terdengar lagi. Shinta pasrah, ia tahu ajal akan segera menjemputnya. Tapi sebelum ajalnya datang sebuah sumpah diucapkan Shinta.


Aku bersumpah atas fitnah yang kalian lemparkan padaku, aku akan menuntut balas dari setiap darah dan airmata yang aku tumpahkan ke muka bumi ini! Aku tidak akan membiarkan hidup kalian tenang!


Kata-kata terakhir sebelum sebuah parang menebas putus leher Shinta. Matanya mendelik menatap sang algojo saat kepala Shinta sukses terlepas dari tubuhnya. Sari berteriak.


Kalian kejam! Tak pantas disebut manusia!


Sari memasuki emosi Shinta, amarah meluap dan membangkitkan kekuatan Sengkayana dalam tubuhnya. Tubuh Sari seketika dibanjiri energi berlebih, Doni terkejut melihat istrinya dikendalikan amarah.


Dengan sigap, Doni memeluk tubuh sang istri meski dengan resiko mendapat sengatan energi yang cukup menyakitkan baginya. Sari harus segera ditenangkan sebelum amarah membangkitkan roh iblis yang terkunci dalam dirinya. Roh yang ditanamkan Airlangga dengan sengaja untuk menyiksa Sari.


"Calm down beb, calm down …," bisiknya berulang di telinga sang istri.