
Sebelum hempasan angin mereda dan mengaburkan pandangan, Sari menarik Mika ke dalam gerbang dimensi. Kembali pulang ke kesatrian.
Lubang dimensi terbuka tepat di pendopo tempat dimana semula mereka pergi. Doni dan yang lainnya telah menunggu dengan cemas. Ekspresi lega tampak diwajah Doni, Eric dan Saka.
"Kalian baik-baik saja?" Doni yang khawatir tak sabar menyapa istrinya.
"Ya, kita baik-baik saja. Iya kan Mika?"
Mika mengangguk, seraya menerima uluran air mineral dari Eric. "Kita bersenang senang disana, uncle. Jangan khawatir?" Jawab Mika dengan kerlingan mata pada Sari.
Doni dan Eric hanya bisa saling berpandangan. "Have fun, huh?" Doni memastikan sekali lagi. Ia memeriksa setiap bagian tubuh Sari yang terlihat.
"I'm ok, beb!" Sari menghela nafas, suaminya terlalu berlebihan.
"Mika … ehm, ini." Eric mengulurkan handuk hangat kecil untuknya. Mika bingung tapi tetap menerimanya.
"Ehm, itu …," Eric menunjuk dengan sedikit ragu dan gugup.
Ia meraih handuk yang ada ditangan Mika dan membantunya membersihkan noda kehitaman bekas darah iblis.
"Ah, iya terimakasih." Mika pun merona diperlakukan lembut oleh Eric.
Sari tersenyum senang melihatnya, "Aku istirahat dulu. Kau juga sebaiknya begitu Mika."
Sari menatap Eric, menepuk bahunya lalu berkata, "En Eric? Vergezel dit mooie meisje alstublieft voor mij!"
(Dan Eric? Tolong temani gadis cantik ini untukku!)
Eric tersipu, Sari memergoki nya merona. Begitupun dengan Mika yang terlihat salah tingkah.
"Saka! We need to talk tonight!" Sari berteriak seraya berjalan meninggalkan pendopo bersama Doni.
(Saka! kita perlu bicara malam ini!)
"Hhm, baru kali ini CEO diteriakin orang. Harga diri saya jatuh kalau begini!" Sungutnya lirih. Mika hanya tersenyum masam mendengarnya.
"Dimana Kania?" Mika duduk di seberang Saka yang kembali asik membaca laporan perusahaan dari asisten pribadinya. Niatnya menyambut Sari seketika berubah setelah Sari ataupun Mika tak peduli dengan kehadirannya.
"Dikebun belakang, daritadi asik bener bereksperimen sama tanaman." Sahutnya tanpa melihat ke arah Mika.
"Kamu nggak istirahat? Ehm, ganti baju dulu misalnya?" Eric menatap Mikaila dengan heran, gadis cantik di depannya ini seperti tidak memiliki rasa lelah.
"Hhm, sebentar lagi." Mika tertarik dengan tajuk berita di koran pagi tadi, ia tak memperdulikan Eric yang memperhatikan dirinya.
Eric memang sedikit terganggu dengan penampilan Mika, bukan karena banyaknya cipratan darah iblis yang mengenai beberapa bagian tubuh dan wajah Mika tapi karena penampilan Mika membuat dirinya gerah.
Tubuh indah Mika tampak semakin menggoda dengan balutan pakaian bak superhero itu. Eric takut jika dirinya tak bisa menahan diri. Mika begitu mempesona dirinya, meski Eric sendiri belum berani terus terang untuk mendekati Mika.
"Apa ini nggak aneh?" Mika menyodorkan koran pagi pada Eric.
"Apanya?" Eric tak mengerti maksud Mika.
"Berita penyerangan desa baru disiarkan pagi tadi, tapi kenapa beritanya udah ada di koran kemarin? Salah cetak tanggal?"
Mika terdiam, bisa jadi asumsi Eric benar. Tapi entah kenapa Mika merasa ada yang ganjil. "Mas Saka tahu dimana tempatnya koran ini diproduksi kan?"
Saka mengalihkan pandangannya, ia meraih koran yang ada ditangan Eric, membacanya sepintas lalu berkata, "Ooh ini, pimrednya salah satu kenalanku. Kamu mau kenalan sama dia? Atau ketemu dia?"
"Buatkan janji untukku besok siang!"
Mika mengulas senyum tipis, memiliki teman orang kaya dan terkenal adalah poin plus yang menggiurkan.
...****************...
Malam semakin dingin dan gelap. Awan hitam tampak memenuhi langit dengan cuaca yang tak bersahabat. Gerimis terjadi sejak siang. Desa terpencil di lereng gunung itu tampak sunyi bagaikan kota mati.
Tak ada lampu yang menyala dan kegiatan apa pun disana. Dua orang lelaki berjalan dengan angkuhnya memasuki desa.
"Keluarlah kalian!" Perintah Karyo dengan suara serak parau yang aneh.
Tak lama kemudian, kelebatan bayangan muncul dari berbagai penjuru. Sekelompok pasukan iblis yang bersembunyi dibalik pohon, rumah, semak liar, bahkan dalam bayangan yang jatuh di tanah. Asap tipis kehitaman muncul membentuk sosok iblis.
Iblis bertanduk dengan wajah seram menyeringai. Tubuh kekar dengan otot berwarna kehitaman, disertai baju zirah yang menutupi bagian dada dan bahu. Mata api mereka menyala dengan terang hingga desa yang semula gelap kini bagai dihiasi ratusan lampu kecil.
Karyo dan Mbah Wito meraung, seketika mereka berubah menjadi sosok iblis sebenarnya. Tubuh tinggi menjulang dengan ekor bertanduk diujungnya. Dua buah tanduk panjang menghiasi kepala mereka yang tak tertutup sehelai rambutpun. Moncong dengan gigi tajam dilengkapi taring besar mengerikan. Sepasang sayap hitam menghiasi punggung yang berkulit legam.
"Kita akan memulai perburuan!" Seru Karyo dengan suara lantang.
Teriakannya, diikuti sorak pasukan iblis dibawah komando Karyo. Angin tiba-tiba saja bertiup kencang. Karyo mendongak ke atas. Kibasan sayap lebar kemerahan terlihat di atas sana. Airlangga datang menyapa.
Airlangga dalam wujud iblisnya berdiri diatas rumah salah satu warga desa yang telah dimangsa. Sayapnya merentang lebar bak api yang menari dalam gelap, ia menatap satu persatu pasukan iblisnya.
"Sebarkan teror mengerikan untuk umat manusia! Biarkan ketakutan melanda dan menghancurkan kepercayaan mereka!" Titah Airlangga bagai sang penguasa jagat raya.
Pasukan iblis yang terbagi dalam beberapa kelompok itu langsung bergerak dan merapatkan barisan. Mereka pergi ke desa lain, menyebarkan teror kematian bagi umat manusia.
"Ini adalah undangan untukmu Sari, datang dan carilah aku!" Airlangga bergumam dan tertawa keras, dan pergi menghilang dalam gelapnya awan hitam.
Karyo menunduk hormat pada Airlangga yang pergi begitu saja. Ia menoleh pada Mbah Wito yang penampilannya tak kalah mengerikan dari Karyo.
"Aku akan menyerang kota, dan kau lakukan tugasmu!"
Mbah Wito mendengus kasar, ia benci diperintah Karyo tapi tingkatan iblis yang bersemayam dalam tubuh Karyo lebih tinggi darinya. Mau tidak mau Mbah Wito harus tunduk padanya.
Berbeda dengan manusia biasa, kelima dukun hitam yang tersisa dirasuki panglima iblis. Jiwa mereka yang hitam bersatu dengan jiwa iblis. Mereka tidak akan mati dengan mudah, tapi juga tidak abadi.
Jika sampai mereka mati, maka jiwa manusianya akan ikut pergi ke neraka bersama para iblis. Mereka akan menjadi budak kaum iblis sampai akhir zaman tiba.
Karyo segera menyusul pasukannya menebar teror kematian dari desa ke desa. Jerit teriakan meremangkan bulu roma, malam itu terdengar bersahutan berpindah dari satu desa ke desa lain. Keberadaan ras manusia mulai terancam.
Sementara Mbah Wito terbang dengan sayap hitamnya menuju ke tempat mereka semula, gunung Arjuno. Menunggu datangnya sekutu Sari yang siap bertarung hingga titik akhir.