Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Bangkitnya Kegelapan



Ketenangan Doni dan Sari diganggu dengan suara ketukan beruntun di pintu. Belum lagi suara getaran ponsel yang seolah bersahutan membangunkan mereka dari tidur. 


"Cck, siapa sih?! Ganggu bener!" Doni mengumpat dalam hati, ia baru saja memejamkan mata setelah memastikan Sari agar lelap dalam tidurnya.


Suara ketukan itu kembali terdengar, dengan sedikit terseok Doni membuka pintu kamar,


"Iya tunggu!"


"Hai mas, apa kabar?!" sapaan dari wajah seseorang yang tidak asing bagi Doni.


"Hai juga mas Saka, ngapain kesini?!" balas Doni masam.


"Saya nggak disuruh masuk nii?"


"Nggak, Sari masih tidur!"


"Tidur? Ini sudah lewat jam makan siang mas, mbak Sari masih tidur?"


"Biasa kan, begadang!" jawab Doni malas.


"Hmm, i see. Baiklah saya tunggu di lobby, ada yang mau saya bicarakan dengan kalian berdua!"


"Tentang?"


"Everything? Dan juga biaya tambahan kaca yang pecah?" Saka mengerling.


Doni menatap Saka tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Apa dia bilang tadi, biaya tambahan?"


...----------------...


Saka menunggu kedatangan Doni dan Sari di lobby bersama asisten pribadinya. Sudah hampir setengah jam ia menunggu dan kopi di cangkirnya pun sudah hampir habis. Sari dan Doni belum juga muncul.


"Susah kalo janjian sama pasangan super sibuk begini! Sibuk ngurusin lelembut!" gerutunya kesal. 


Jemarinya mengetuk pinggiran kursi menghilangkan gelisah. 


"Apa perlu kopinya ditambah pak?" tanya asisten pribadinya.


"Nggak, udah cukup!"


Tak lama pasangan yang dinantinya muncul dengan senyuman di bibir. Saka menyambutnya dengan masam.


"Maaf lama menunggu," sapa Sari 


"Saya pikir kalian tidur lagi!" sahut Saka kesal.


"Wah, sepertinya ada yang kesel nih!" ledek Doni.


"Kalian tahu biaya yang harus saya ganti untuk kekacauan itu?!" Saka melipat kedua tangannya didepan dada.


Sari tersenyum, ia tahu Saka kesal karena menunggu bukan karena jumlah uang yang dikeluarkan. Sari membaca pikirannya.


"Itu bukan kesalahan kami kan? Saya nggak ngapa-ngapain juga?!" sahut Sari enteng.


"Nggak ngapa-ngapain tapi mecahin kaca dan saya harus ganti hampir 100 juta? Itu biaya yang fantastis hanya untuk kaca kamar Mbak Sari!" 


"Hei, jangan pelit! Kekayaan yang diwariskan Lingga tidak akan habis hingga tujuh turunan kamu mas!" Sari kembali mengingatkan Saka.


"Lagian sedekah kan bagus mas, itung-itung kasih kerjaan sama tukang kaca. Bagi-bagi rejeki!" Doni menimpali.


"Sedekah sama orang nggak mampu mas, bukan hotel!" balas Saka sengit.


"Ya…ya baiklah, jadi mas Saka maunya gimana sekarang?" tanya Sari dengan terkekeh.


"Kalo mas Saka minta kita ganti uangnya oke nggak masalah kita transfer sekarang! Tapi kita batalkan perjanjian kita and mas Saka bisa hadapi Airlangga sendirian," ujar Doni dengan kerlingan.


"Eeh, Airlangga?" Saka memucat.


"Iya, Airlangga! Kembaran Lingga, keknya mo nagih warisan tuh ke mas Saka! Siap-siap aja dah didatengin!" Doni kembali menakut nakuti Saka.


Saka seketika celingukan dan meraba tengkuknya. "D-dia beneran bangun?"


Sari mengangguk dengan pasti begitu juga dengan Doni. Seketika Saka merapat duduk di sebelah Doni membuat Doni terkejut.


"Eeits ngapain nih, geser samaan dikit! Tadi marah-marah kenapa sekarang deketan gini!"


"Dingin sama takut beda tipis ya mas?!" Doni mengejek Saka yang mulai berkeringat dingin. Sari tertawa kecil melihat raut wajah Saka.


"Makanya bagi - bagi tuh warisan sama kaum duafa biar berkah, jadi semisal nih mas Saka died banyak yang ngedoain!" 


"Mas Doni kalo ngomong ni bikin kesel bener! Kalo saya mati yang bayar kalian siapa coba?" Saka menggerutu.


"Udah, berantem mulu! Mas Saka mau bicara apa sama kita!" Sari melerai keduanya.


"Kan saya jadi lupa ingatan gara-gara mas Doni niih!"


"Begini mas, mbak saya memutuskan untuk bergabung dengan kesatrian lain. Saya bawa anak-anak pilihan yang mau berjuang bersama Putra Ganendra!" Saka terlihat begitu bersemangat.


"Oh Ya, baguslah kalau begitu! Mas Saka bisa langsung ke Kesatrian mas Al biar bisa latihan sama-sama!" ujar Sari gembira 


"Berapa orang yang mas bawa?" tanya Doni serius.


"Ada sekitar 30 orang, mereka semua bergabung dengan sukarela tanpa paksaan!"


"Bagus, terus gimana sama janji mas Saka buat nyiapin bantuan lain?" Kali ini Sari bertanya dengan serius.


"Hhm, untuk menghadapi Airlangga?" Saka bertanya untuk memastikan.


Sari mengangguk pelan, Doni menatap Saka berharap ia akan memberikan jawaban bagus.


"Untuk menghadapi Airlangga saya sudah menyediakan pasukan khusus. Mereka dilatih oleh guru yang memiliki ilmu bela diri terbaik. Mereka tidak saya terjunkan disini, mereka hanya fokus untuk membantu kalian!" 


"Berapa banyak?" tanya Sari lagi.


"Seratus lebih, sebagian dari mereka bukan orang sembarangan. Jumlah itu akan semakin bertambah apalagi mereka juga diuntungkan kok," jawab Saka dengan senyum berarti.


"Maksudnya?"


"Mereka saya bayar, tiap bulan saya gaji mereka seperti pegawai!" terang Saka setengah berbisik.


"Apa?!" Sari dan Doni terkejut bukan kepalang.


"What the hell, mas Saka udah jelasin yang kita hadapi bukan orang tapi pasukan iblis? Pasukan yang hidup dengan darah?"


Saka mengangguk, "Mereka tahu kok, semua nya saya jelaskan detail tanpa ada yang saya tutupi!"


"Ehm, jadi penasaran seperti apa mereka?" Sari  merasa takjub tapi juga aneh dengan kenekatan sekelompok manusia yang mau bergabung dengannya.


"Darimana mas dapetin orang-orang itu?" Sari masih penasaran.


"Ada deh mbak, yang jelas mereka bekerja bukan cuma untuk mbak Sari tapi juga untuk melindungi saya." 


"Hhm, pantes aja dibayar rangkap kerjaan buat jadi bodyguard mas Saka rupanya!" Doni menyahut dengan sedikit menaikkan alis mata.


"Saya harus punya jaminan keselamatan juga kan?" ujar Saka dengan senyuman lebar 


"Ok, kita urus mereka besok, sekarang kita fokus dulu untuk masalah di Yogyakarta!" Doni berkata dengan serius.


"Ada kemungkinan mereka melancarkan serangan bukan di hari kelahiran Pandji," 


Sari mulai bercerita tentang visi yang dilihatnya. Kegelapan akan selalu mengingkari janji. Sari juga menjelaskan beberapa hal yang mungkin akan terjadi. 


Saka mendengarkan dengan seksama. Ada kengerian yang terlihat jelas di wajahnya. Tapi mundur bukan pilihan, Saka telah bertekad untuk ikut andil dalam pertarungan antara klan iblis dan manusia.


...----------------...


Di Sebuah ruangan dengan pencahayaan minim seorang laki-laki duduk di tepi ranjang dibalik kelambu. Rambutnya tampak dibiarkan tergerai panjang. Matanya terpejam, raganya diam membeku tapi jiwanya pergi melintasi dimensi.


"Tuan sudah bangun rupanya," seorang wanita muda terlihat masuk ke dalam ruangan dengan senyuman di bibirnya.


Ia melirik ke arah dua mayat lelaki yang terbujur kaku tak jauh dari ranjang. Wajah keduanya menunjukkan kengerian dan kesakitan yang tak terkira. Darah mereka habis tak bersisa.


"Singkirkan mayat-mayat ini segera!" titah wanita muda itu pada pengawal yang berdiri di depan kamar.


Dengan segera para pengawal membawa tubuh kedua lelaki malang itu keluar. Suara helaan nafas kasar dan berat terdengar dari lelaki di balik kelambu.


"Selamat datang kembali tuan!"