Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Pertarungan Perdana



Airlangga berdiri dengan angkuh, rambut hitam panjangnya terurai. Taring kecil terlihat menghiasi senyumnya.


Sari mengatur nafas, hempasan energi Airlangga membuatnya terkejut dan sedikit pusing karena terjatuh cepat dari ketinggian dan memaksanya keluar dari ruang hampa. Manusia biasa tidak akan sanggup menghadapi perbedaan tekanan udara yang besar secara tiba-tiba. Goresan kecil menghiasi pipi mulus Sari karena terbentur puncak candi.


Sial, Doni tidak akan suka melihatnya!


Sari mengusap darah yang keluar dari lukanya. Ia berdecak sinis, sementara Airlangga puas karena berhasil mengejutkan Sari  dengan 'sapaan ramah' menurutnya.


"Lama tak berjumpa, Sari! Kau semakin cantik!" 


"Huh, benarkah? Artinya perawatan wajahku tidak sia-sia!" 


Airlangga tergelak mendengarnya, ia menatap Sari memperhatikan dari ujung kaki hingga rambut. "Kau tidak menua sama sekali? Apa itu menyenangkan?"


Pertanyaan sarkas yang menyakiti hati Sari, Airlangga berusaha memancing emosinya.


"Berkat kau, aku jadi awet muda. Menyenangkan? Hhhm, sedikit! Setidaknya aku masih bisa naik angkutan umum dengan ongkos pelajar!" 


Perkataan Sari kembali disambut tawa Airlangga, "Sekian lama aku tertidur, sifat humoris itu tidak berubah juga."


Suara riuh pertarungan pasukan iblis dan lelembut milik Sari mengalihkan pandangan Airlangga. 


"Lihatlah mereka, apa kau yakin bisa mengalahkan pasukan ku? Kau kalah jumlah!" Ejek Airlangga.


"Jumlah belum menjamin kemenangan salah satu pihak bukan?"


Airlangga menyeringai pada Sari, "Bagaimana jika kita hentikan pertarungan ini. Berdamai dengan keadaan, dan bergabunglah bersamaku!"


Airlangga berjalan mendekat, "Dua immortal menjadi satu, kita bisa membangun kerajaan besar bersama. Kau bisa menjadi penguasa timur dan aku barat"


Sari hanya melirik Airlangga yang berjalan memutarinya. Lelaki immortal tampan itu berhenti di tepat belakang Sari, lalu berbisik di telinga kirinya.


"Atau … kita bisa menjadi rekan yang saling menguntungkan, aku menjadi raja dan kau menjadi ratu!" Ujarnya dengan seringai licik.


"Aku akan menjamin, kau dan sekutumu akan keluar dari sini dengan selamat!" Sambungnya lagi, Airlangga mengambil sejumput rambut Sari dan menciumnya.


"Sepertinya kau cukup lama tertidur, apa kau lupa betapa bencinya dirimu padaku? Apa kau juga lupa Lingga tewas karena aku?!"


Ekspresi Airlangga berubah, ia melangkah mundur saat Sari berbalik. Sari menatapnya tajam, "Kenapa? Ingatanmu kembali? Kalau begitu kau juga pasti ingat jika dirimu telah mengambil Bagas dariku!"


Sari menerjang Airlangga, Sengkayana muncul begitu saja ditangan Sari. Ia memburu Airlangga yang terbang menghindar. Sayap kemerahan milik Airlangga mengembang bak api yang membelah gelapnya malam. 


Sari mengayunkan Sengkayana, melepaskan energinya dari jarak jauh. Meleset. Airlangga tertawa, ia terus menghindar meski Sari berkali kali menyerangnya.


Kenapa dia terus menghindar, apa ini jebakan?


Sari waspada, Airlangga berhenti di hadapannya. Matanya bersinar kemerahan, pedang iblis muncul di tangannya berselimut api.


"Apa sudah selesai main kejar-kejarannya?" ejek Sari pada iblis tampan berambut panjang.


Airlangga menggeram, ia menyerang Sari. Kedua pedang beradu menimbulkan hempasan energi kuat di udara. Cahaya merah menyala terang menghiasi langit. Adu kekuatan terjadi, Airlangga mendorong Sari kuat hingga mundur beberapa depa.


Sari kembali melancarkan serangannya diikuti dengan bola sihir keemasan dengan rune sihir menyerupai milik Mika. Airlangga menyiapkan perisai besar dengan pedang iblis miliknya.


Bola sihir Sari meleset dan jatuh ke arah pasukan iblis di bawah sana. Tubuh para prajurit iblis seketika lebur menjadi debu hitam. Airlangga tersenyum ganjil. Ia memutar tangannya, energi hitam terkumpul begitu kuat hanya dengan sebelah tangan. 


"Sekuat apa dirimu sekarang!" Airlangga melemparkan bola energi hitam ke arah Sari yang melesat cepat memburu Sari.


Sari berusaha menahannya dengan Sengkayana didepan dada, tapi bola energi itu terlalu kuat. Tangan Sari gemetar dan mulai terasa kebas menahan getaran, perlahan ia terdorong kebelakang lalu.


BLAAR!!


Ledakan besar terjadi di udara, Sari terpental jatuh ke tanah dengan keras. Tubuhnya bahkan terseret hingga menimbulkan jejak dalam di tanah.


"Sial," 


Sari berusaha berdiri dengan bantuan Sengkayan. Ia terengah-engah, menatap ke arah Airlangga yang tertawa melihatnya. Rasa asin yang beraroma besi terasa mengumpul dalam mulut, sari mengeluarkannya dari mulut dengan cepat lalu kembali menghampiri Airlangga. Ia tak ingin membuang waktu.


"Wah, rupanya kau cukup kuat juga sekarang! Aku banyak melewatkan banyak hal rupanya!"


"Jangan mengejekku!" 


Sari kembali menyerang Airlangga, kali ini sabetan Sengkayana tidak main-main. Sari memaksimalkan energinya dan satu sayatan melintang di dada berhasil dihadiahkan pada Airlangga yang meraung kesakitan.


Sari tersenyum puas, "Satu sama kan?"


Sengkayana membakar tubuh Airlangga, pedang pembunuh immortal itu berhasil melukainya. Airlangga kesal, dulu ia sangat menginginkan Sengkayana untuk dimiliki, ia bahkan menghasut Lingga dan Sari agar saling menyerang tapi takdir memilih Sari sebagai pemilik Sengkayana.


"Pedang itu harusnya jadi milikku! Kau merebut semuanya dariku!" Teriaknya kesal, luapan amarah membuat pedang iblis di tangannya semakin menyala kemerahan.


"Rebutlah jika kau bisa!" Sari kembali bersiap mengejar Airlangga.


Kedua pedang milik para immortal kembali beradu, bunga api yang tercipta bak kembang api yang menari di malam hari. Menghiasi langit gunung Arjuno.


"Mbak Sari, kami terdesak!" Bisikan pak Agus terdengar di telinganya.


Sari yang masih melayani serangan Airlangga berkelit dan menghindar cukup jauh dari Airlangga. Ia kembali melemparkan rune sihir dari atas, menghujani para pasukan iblis yang semakin lama semakin banyak keluar dari gerbang iblis.


"Ini tidak bisa dibiarkan, mereka bisa mati konyol!" ujar Sari khawatir.


Sari menatap ke arah para lelembut pengikutnya, mereka bertarung mati-matian bersama kesatria muda. Pasukan lelembut miliknya masih bisa menangani dengan baik, tapi tidak dengan pak Agus dan para kesatria muda lainnya.


Tawa Airlangga terdengar mengejeknya, "Bagaimana, apa kau menyerah!"


Sari menoleh, "Aku? Tidak akan pernah!"


Sari kembali menyerang Airlangga, matanya masih awas mengamati kekuatan pak Agus dan yang lainnya. Sari kembali mengkhawatirkan keadaan yang tak seimbang.


"Mereka kelelahan, aku harus menghentikannya!"


Sari menyerang Airlangga dengan bola-bola sihir. Serangan bertubi-tubi itu berhasil membuat Airlangga kewalahan.


"Kakek, aku butuh bantuanmu! Buka gerbang dimensi selamatkan para kesatria! Sekarang!" 


Sari meminta pertolongan pada kakek Wisesa. Sejurus kemudian dari arah barat, muncullah cahaya keemasan yang melingkar bagai pusaran. Semakin lama semakin membesar. 


"Cepat, suruh mereka masuk dan mundur!" Suara kakek Wisesa berbisik dalam pikirannya.


Sari berteriak, memerintahkan pak Agus dan para kesatria yang tersisa untuk masuk dalam gerbang dimensi.


"Mundur semua!"


"Mbak," suara pak Agus tampak ragu, ia menatap Sari dari kejauhan.


"Pergilah, aku akan melindungi kalian!"


Pak Agus segera melangkah memasuki gerbang dimensi, dan ketika kesatria terakhir masuk, gerbang itu menutup cepat, menghilang dan membawa pak Agus kembali ke kesatrian.


Sari menghantam tubuh Airlangga dengan kuat, hingga terpukul mundur. Bola sihir besar kemudian ia ciptakan. Bola kuning keemasan dengan rune sihir kuno milik para penjaga.


Selarik mantra diucapkan, menimbulkan angin berputar yang mengelilingi Sari. Airlangga melindungi matanya dari putaran angin kencang. Tiba-tiba saja, tubuhnya terhempas keras ke tanah. Ia terperangkap dalam rune sihir yang dibuat Sari.


Airlangga berusaha bergerak dan melepaskan diri dari kungkungan rune sihir yang menjadi kurungan baginya.


"Adios, kita bertemu lagi besok! Ada kereta malam yang harus aku kejar!" Ujar Sari menyeringai penuh kemenangan. Ia pun perlahan menghilang ditelan gelapnya malam 


Airlangga berteriak dalam kurungan rune sihir yang semakin menyempit. Ia meraung membuat seluruh binatang malam ketakutan. Raungan yang menembus batas dua dimensi.


"Kurang ajar! Kembali kau Sari!"


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...MET malam semuanya, Sari menyapa lagi🤗maaf up lambat ya teman2...demam dan flu berat melanda, memaksa othornya sembunyi di balik selimut sambil ngetik demi anu🙈😅...


...mohon maaf jika banyak typo dan kata yg kurang pas, ngetiknya sambil pegangan jidat yang mulai terasa panas membara😁🙈...


...MET istirahat, semangat sehat semuanya yaa...


...cium jauh dari balik masker 😌...


...Lia❤️...


...  ...


... ...