Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Pertemuan Tak Terduga



Sari melintasi dimensi bersama Gia dan keempat penjaganya, dalam sekejap mereka tiba di padang rumput luas dengan langit senja yang menenangkan.


Sari turun dari punggung Kandra dan tersenyum menatap Gia yang tergelak bersama Bimasena. Ia bercengkrama dengan maung putih kesayangan Sari. 


Tawa Gia yang renyah meluluhkan hati Sari, terlintas keinginan untuk memiliki seorang putri seperti Gia.


"Kau membawanya kemari?" tanya seseorang dari belakang.


Sari tidak berbalik, ia mengenali suara itu. Siapa lagi kalau bukan Bayu.


"Hmm, dia harus berkenalan dengan para penjaga ku juga. Dia harus tahu dimana rumah para penjaganya," 


"Dia memang istimewa, pantas saja kakek tua itu memberinya khodam penjaga,"


"Kakek tua?" Sari menoleh ke arah Bayu. 


"Lanjaran ketujuh, dia dijuluki Raja Khodam dalam barisan Selikur Lanjaran," terang Bayu seraya duduk diatas batu besar.


"Kenapa aku nggak pernah ketemu dia? Apa dia keturunan trah Siliwangi juga?"


"Iya, masih berdarah Cirebon dan memang keturunan trah Siliwangi!" 


"Ooh, i see … kenapa Gia dan aku berbeda? Aku tiba-tiba saja kedatangan para penjaga itupun setelah dewasa," gerutu Sari


"Hei, kamu selalu menolak mereka kan? Masih ingat kesalnya Mang Aa ke kamu dulu?!" Bayu tertawa melihat ekspresi Sari yang iri dengan Gia.


"Ya … ya, kamu benar. Aku nggak pernah mau nerima dan itu butuh waktu cukup lama untuk aku memahaminya," kenang Sari sedih.


"Semuanya membutuhkan proses untuk menerima hal yang tidak dilogika Nok!" Suara berat tapi menyejukkan terdengar dari arah belakang.


Sari menoleh, seorang lelaki paruh baya dengan wajah yang masih menyisakan ketampanan masa mudanya. Rambutnya bahkan belum semua memutih. Kulitnya begitu halus dan bersih bercahaya. Sari terpesona melihatnya.


Aura kakek itu begitu menenangkan, terasa sangat nyaman untuk Sari. Kakek itu mendekati Sari dan menepuk lembut bahunya.


"Wilujeng sumping, Kaji Ahmad!" sapa Bayu seraya membungkuk hormat dan berdiri.


Lelaki paruh baya yang disapa Kaji Ahmad oleh Bayu itu tersenyum teduh.


Sari memperhatikan kakek tua yang kini ada disampingnya. Ikut tersenyum memperhatikan Gia. Tingkah polah Gia bahkan membuat Kaji Ahmad tertawa kecil begitu juga dengan Sari.


"Mohon maaf Kaji, saya lancang membawa Gia kesini. Saya pikir dia harus tahu dimana rumah para penjaganya," Sari mencoba membuka pembicaraan dengan Kaji Ahmad.


"Tidak ada yang menyalahkanmu Nok, sudah sewajarnya mengenalkan pada siapa dan dimana leluhurnya berada,"


"Peristiwa besar akan terjadi, dan anak itu akan berperan dalam keluarganya. Itu sebabnya saya mengajaknya kemari," ujar Sari lagi.


Sari menatap Gia dengan mata berkilatnya. Sebuah visi terlihat dimata tak biasanya. Gia dan keluarganya akan bertarung habis-habisan mendampingi si kesatria dalam ramalan.


Kaji Ahmad menghela nafas dan mengangguk pelan, ia memahami pemikiran Sari. Untuk sejenak Kaji Ahmad memejamkan mata.


"Perjalananmu juga tidak mudah Nok, kau harus mempercayai dirimu sendiri. Bahwa kekuatanmu melebihi apa pun yang kau takutkan,"


"Kaji, apa saya akan begini seumur hidup? Maksud saya ehm …,"


"Keabadianmu?" Sari mengangguk


"Tidak adakah jalan untuk kembali normal?"


"Tidak ada suatu penciptaan yang tidak memiliki maksud Nok. Keabadian hanya milik Tuhan dan semua akan kembali kepada-Nya,"


"Garis takdir telah disusun begitu indah oleh Sang Pencipta, semua berjalan sesuai arah dan tujuan,"


"Keabadianmu adalah jalan takdir yang memiliki maksud tertentu. Ikhlas dan percayalah pada Yang Kuasa maka kau akan menemukan jalanmu kembali,"


Sari memalingkan wajahnya, mendengar perkataan Kaji Ahmad membuatnya sedih. Perkataan yang penuh makna dengan cara yang sederhana. 


"Saya harus ikhlas menjalani? Hmm, sedikit sulit apalagi kalau ingat kejadian itu!"


Kaji Ahmad tersenyum, dan menepuk bahu Sari lembut. "Kau akan memahaminya seiring melunaknya hatimu. Berdamai dengan jiwamu Nok, dan jalani hidupmu dengan tenang tanpa dendam."


"Sepertinya akan sulit Kaji, saya masih belum bisa memaafkan!" Sari menghela nafas panjang merasakan kembali penderitaan selama tahun-tahun terakhir.


"Bersihkan hatimu Nok, lakukan apa yang kau perlu lakukan dan lupakan semuanya segera setelahnya,"