Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Mika Sang Penjaga



Aliansi putih dibawah pimpinan ayah Pandji bergerak menyerang menyambut gelombang pertama pasukan Nergal. Sementara para kesatria muda dibawah pimpinan Aswanta bertarung didalam heksagram. Peringatan untuk tidak bertarung di luar heksagram berkali-kali terdengar dari bibir kesatria muda itu.


Petir merah Ganendra sukses membuat Nergal kehilangan hampir sebagian pasukannya yang melebur menjadi asap kehitaman di ruang hampa. Ia juga kehilangan dua orang panglimanya dalam satu serangan petir milik keturunan Abisatya itu.


"Apa yang iblis itu lakukan? Dia masih belum menyerang setelah separuh pasukannya hancur?" Doni mengernyit dan masih memperhatikan keadaan. Sari belum memberi kode untuk menyerang mereka.


"Hhh, dia menunggu Pandji kehabisan mana sihir. Strategi yang sia-sia!" sahut Sari tak berkedip menatap pertempuran di depannya.


"Meski aliansi putih kalah jumlah dan kekuatan tapi iblis jelek itu tidak memperhitungkan kekuatan Pandji yang sebenarnya dan … tentu saja kehadiran bantuan seperti kita!" 


"Bimasena, Mahesa, Kandra, Abiyaksa! Bantu mereka, kalau perlu kerahkan para pengikut kalian! Kita serang mereka dari luar heksagram!" Sari memberikan perintah pada para penjaganya.


"Dengan senang hati!" 


Bimasena dan keempat penjaga dalam sekejap sudah berada ditengah iblis yang menggunakan tubuh tak bernyawa sebagai inangnya. Tanpa ampun mereka membabat pasukan iblis, menghancurkan dan meleburkan mereka menjadi abu.


"Ingat tugas kalian hanya menghabisi pasukan mayat hidup, jangan melukai mereka yang masih bisa diselamatkan!" Sari berpesan pada keempat penjaganya.


"Pak Agus, apa salah satu dari dukun itu …," Sari belum selesai bertanya pak Agus sudah memotongnya.


"Nggak ada mbak Sari, tapi saya mengenali lelaki tua yang sedang bertarung dengan pria tampan disana!"


"Pria tampan?" Sari sedikit mengernyit, ia bisa menebak lelaki yang di maksud pak Agus adalah Alaric.


"Iya laki-laki ganteng yang memakai trisula naga. Energinya luar biasa!"


"Aah, mas Al maksudnya. Dia ayah dari pemuda yang sedang berhadapan dengan iblis jelek di sana!" Sari menunjuk ke arah Pandji.


"Pantas saja mbak, like son like his father!"


Sari hanya tersenyum pada pak Agus dan kembali memperhatikan pertarungan di depannya. Kekuatan para ksatria muda dalam heksagram semakin menurun. Begitu juga dengan aliansi putih yang dipimpin oleh Al. 


Sari masih memperhatikan keadaan, ia menunggu dan menunggu. Alaric berhasil mengatasi ketujuh dukun hitam yang dipimpin mas Gun, suami dari Andara. 


"Wow, dia pantas mendapat julukan kesatria yang hilang. Menghadapi ketujuh dukun sakti dengan mudah sendirian lagi!" Doni menggelengkan kepalanya salut dengan kemampuan pria flamboyan yang masih awet muda itu.


Sari hanya melihatnya sekilas, perhatiannya tertuju pada Mikaila yang mulai kehabisan mana sihir. Ia berhasil menyadarkan separuh dari penduduk yang kerasukan. Tapi ia juga kelelahan.


"Ayo, waktunya kita bergabung beb!" Sari menutup wajahnya dengan cadar, lalu berjalan mantap mendekati pasukan iblis.


"Pak Agus, bergabunglah bersama aliansi putih! Bantu para  kesatria muda dalam heksagram!" 


"Mbak Sari sendiri?" Pak Agus bertanya tanpa menoleh, ia sibuk memperhatikan kanan kiri berjaga dari serangan mendadak.


"Saya? Ada aset yang harus dijaga!" Mata Sari fokus menatap Mikaila yang sedang menyadarkan salah satu penduduk.


Doni segera menghunus keris pusaka dan trisula pemberian Bayu. Pak Agus juga bersiap dengan pusakanya sendiri sementara Sari tentu saja Sengkayana dan kujang Siliwangi andalannya.


Ketiganya langsung menyebar dan berbaur dengan kesatria lain, berjuang bersama mempertahankan ras manusia. Energi Sari langsung menyapa para kesatria muda. 


Sengkayana di tangan kanannya lebih banyak bekerja untuk menghancurkan iblis dalam mayat hidup. Sekali tebas tiga hingga lima mayat hidup hancur bersama iblis yang merasuk. Sari terus berjalan dan menghabisi makhluk jelek yang menghadang Sari segala penjuru.


Mikaila mulai terdesak, nafasnya tak beraturan. Hampir saja ia diterjang salah satu dari pasukan manusia Nergal saat mengeluarkan iblis dari tubuh penduduk yang kerasukan.


Sari melesat menangkap leher si penyerang dan membantingnya dengan mudah ke tanah, membuatnya pingsan seketika. Ia juga menghadang dua orang lainnya yang tanpa jeda kembali menyerang.


"Pulihkan dirimu sebentar, Mikaila! Aku akan menahan mereka beberapa saat!"


"Bagaimana kau tahu namaku?" Cecarnya lagi, Sari tersenyum dibalik cadarnya Mikaila terlihat sangat penasaran dengan dirinya. Ia lalu menjawab, "Kita bisa berkenalan nanti saat semua kekacauan telah selesai."


Sari mengangkat kujang Siliwangi miliknya mengisinya dengan energi besar lalu melepaskan pada sekumpulan penduduk yang kerasukan. Mereka pingsan seketika.


Sari melirik ke arah Mikaila yang masih penasaran dengannya, mata sakti Mikaila terasa menelanjangi dirinya.


Anak ini! Aku ada dipihakmu! 


"Sampai kapan kau berdiri disitu dan menatapku curiga Mikaila! Pergilah beristirahat!" Sari jengah dengan tatapan curiga yang ditujukan padanya.


Mikaila akhirnya mau menuruti kata-kata Sari, ia mundur selangkah dan memberikan satu perintah pada Sari.


"Jangan sakiti penduduk desa atau Pandji akan mengejar mu hingga ke neraka!"


Sari mendengus kesal, aset yang dilindungi ya memberikan perintah padanya? Wah menyebalkan sekali!


Tapi Sari tak peduli ia hanya menjawabnya dalam hati. I know it Mikaila!


Mika menyerahkan sepenuhnya pada Sari, ia bermeditasi dan mengatur nafasnya mengembalikan mana sihir yang berantakan. Sari kembali membuat pingsan beberapa penduduk dengan mudah. Mantra penidur iblis miliknya bekerja dengan baik.


Aku rasa ini cukup membantu sementara, selanjutnya biar Mika yang urus. 


Sari terus menghadang iblis yang bercokol dalam tubuh inang hidup sampai habis. Sesekali ia melirik ke arah Mika memastikan gadis cantik itu benar-benar beristirahat. 


Energi besar yang Sari kenali mirip dengan milik Airlangga menyapanya.


"I-ini … oh tidak!"


Mika melesat ke arah Pandji menghalangi mana sihir Nergal dengan menyilangkan kedua belatinya. Mika melindungi Pandji dengan menjadi tameng hidup.


"Gadis bodoh!" 


Sari membabatkan Sengkayana pada barisan mayat hidup yang menghalanginya. Meninggalkan penduduk desa yang kini hanya berjumlah beberapa saja. Ia harus memberikan pertolongan pada Mika. 


Mana sihir Nergal begitu besar tubuh Mika tidak akan sanggup menahannya. Sari yakin kini pembuluh darah di tubuh Mika sebagian besar pecah.


"Bodohnya dirimu Mika, kekuatan Nergal tidak sebanding dengan manusia biasa seperti mu!" gerutunya sambil terus membabat pasukan iblis, emosinya hampir saja meluap jika saja Doni tidak mengingatkannya.


"Kontrol emosimu beb!"


Doni segera merapat pada Sari dan kemudian saling memunggungi menghabisi maroz yang menghadang dari sisi depan dan belakang.


"Anak itu! Aku tak habis pikir dengannya!" ujar Sari kesal.


"Dia terlahir sebagai penjaga Pandji, wajar jika keinginannya melindungi Pandji begitu besar, apalagi dia juga menyukai Pandji!" Doni mengingatkan Sari akan perasaan Mika.


"Ccck, itu akan menjadi kelemahannya!" Sari kembali menggerutu.


Mika kini dalam pelukan Pandji, ia memuntahkan cukup banyak darah. Dugaan Sari benar, organ dalam Mika rusak. Sari mendengar Pandji berkata lirih pada wanita keras kepala yang selalu ingin melindunginya.


"Jangan pergi, Mika! Aku mohon!"


Sari tak tega melihatnya tapi ia tahu Mika akan menjadi pemantik bagi Pandji untuk menggunakan sihirnya lebih besar lagi. Seulas senyum tersungging di bibir Sari.


"Bagus mas Pandji, ini adalah momentum terbaik untukmu! Keluarkan seluruh kemampuanmu, bersiaplah menerima kekuatan kegelapan, melalui sihir pedang darah!"