Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Percobaan



Sari dan Mika saling membelakangi dengan pusaka masing-masing. Puluhan manusia yang telah dikuasai pasukan iblis mengepung keduanya. 


"Dengar Mika, mereka sudah bukan manusia lagi! Jadi habisi tanpa ragu!"


"Hhm,aku tahu aunty."


"Jangan lemah meski yang dihadapanmu adalah anak-anak ataupun nenek tua seperti yang disana!" Sari menunjuk ke arah kiri Mika.


"Aunty, please aku tahu! Aku bisa melihatnya dengan mataku mana iblis mana manusia!" Mika sedikit kesal karena Sari mendiktenya.


"Well, aku hanya mengingatkan!" Sari mengerlingkan matanya sebelah.


Makhluk kegelapan itu mulai mendekat, Sari bisa melihat jelas tangan mereka yang membelah dan menari nari seperti liukan ular. Suara lolongan aneh penanda untuk menyerang digaungkan salah satu dari mereka yang ada di bagian tengah.


"Baiklah, ayo kita bersenang senang!" 


Sari menerjang manusia terdekat dengannya yang sudah meraung dan melilitkan sulur kehitaman pada pergelangan tangannya.


Sengkayana berhasil memotong sebagian tangan dan membakarnya sempurna. Ia meraung dan melompat hendak menggigit Sari sebelum akhirnya Sengkayana mendarat di dada dan membelahnya keatas. Tubuhnya terbakar.


Mika bermain dengan salah satu makhluk berwujud anak kecil yang begitu lincah. Anak itu melompat, menghindar dengan bantuan sulur tangan yang terus berayun dari batang pohon satu ke batang pohon lain.


"Mau sampai kapan kau bertingkah layaknya seekor monyet kecil, hah!" Mika geram.


Ia berhenti mengejar iblis yang ada di dalam tubuh anak kecil, tersenyum sinis padanya lalu berbalik menyerang yang lain. Iblis kecil itu kesal karena Mika berhenti mengejarnya. Ia menyeringai dengan geraman yang keluar dari mulut lebar bertaring.


Dengan bertumpu pada sebatang pohon, iblis kecil itu pun melompat ke arah Mika bersiap menerkamnya. Mika tersenyum mengejek, iblis kecil itu masuk dalam perangkap. Mika melentingkan tubuhnya lalu membabat kedua belati secara menyilang ke tubuh iblis kecil.


Matanya melotot menerima serangan Mika, si iblis kecil jatuh terguling ke tanah dengan luka menganga. Darah hitam kental merembes dari lukanya. Dia belum menyerah. Iblis itu menatap nyalang Mika setelah melihat luka di dadanya, ia marah dan menggeram lalu kembali menyerang.


Mika telah bersiap menyambutnya, satu tendangan berhasil didaratkan ke perut iblis kecil itu, diikuti dengan sabetan belati yang melukai lehernya. Iblis dalam tubuh anak kecil itu pun berhenti bergerak, menoleh ke arah Mika sejenak sebelum tubuhnya hancur menjadi debu. 


Mika segera berbalik dan kembali menyabetkan belati pada iblis lain yang hampir saja menggapai tubuhnya. Tanpa ampun Mika terus menghabisi satu demi satu boneka manusia tanpa jiwa.


"Aunty! Kenapa jumlah mereka tidak berkurang juga?! Apa aku salah hitung?!" Seru Mika lantang sesaat setelah menusukkan belati tepat di jantung lawan.


Sari yang masih sibuk dengan tiga lawan di depannya pun menjawab, "Berapa nilai aljabar mu?"


"Apa itu penting sekarang aunty?"


"Ya, karena nilai aljabar tinggi tidak akan bisa menjawab berapa jumlah mereka!"


"Apa?!" Ekspresi Mika rumit, ia menyeka cipratan darah iblis yang mengenai pipi halusnya. "Maksud aunty, mereka terus muncul? Dari mana?"


Sari belum bisa menjawab pertanyaan Mika, ia cukup sibuk melawan tiga iblis sekaligus. Hingga akhirnya Sengkayana berhasil membakar habis tubuh ketiganya, menyisakan debu penuh udara yang cukup mengganggu pandangan.


"Aku tidak tahu Mika, mereka terus bermunculan! Apa kau punya ide?!" Tanya Sari disela ia mengambil nafas.


"Aunty, merunduk!" Mika berteriak keras, ia melemparkan salah satu belatinya pada iblis yang ada dibelakang Sari. Belati itu tepat menancap di kening salah satu pasukan iblis.


"Wow, lemparan bagus Mika and thanks!" ujar Sari yang kembali sibuk meladeni serangan makhluk lain.


"Rune sihir aunty! Kita belum mencobanya bukan?!" Bisiknya saat tubuh keduanya saling membelakangi.


"Kau tahu cara membuatnya?"


"Ya tentu saja! Lindungi aku!" 


Sari mengangguk, matanya berkilat merah dan sengkayana kembali memijar. Ia meletakkan Sengkayana di depan dada, merapalkan sebuah mantra dengan mata terpejam. Barrier pelindung terbentuk. Mika dengan segera menggoreskan belatinya ke tanah. Membuat rune sihir seperti yang dipelajarinya.


Para makhluk kegelapan yang memakai tubuh warga desa itu terus bergerak maju. Mereka terus bermunculan entah dari mana. Sari membuka matanya, sabetan energi panas Sengkayana berhasil menghalau sebagian makhluk yang terdekat.


Beberapa kali Sari juga harus memenggal kepala pasukan iblis yang mendekat, membakarnya seperti dedaunan kering. Raungan dan geraman silih berganti saling bersahutan. Sari terus melawan berjaga sampai akhirnya Mika berteriak.


"I'm done aunty, pancing mereka masuk! Aku ingin tahu seberapa efektif nya rune sihir ini!" 


Mendengar teriakan Mika, Sari membuka barrier pelindung. Dengan cepat ia mundur dan masuk dalam lingkaran sihir bersama Mika.


"Menurutmu berapa peluangnya?" Bisik Sari dengan nafas tersengal.


"Jika mereka memiliki kekuatan sama dengan iblis versi Nergal, ini akan cukup membuat iblis itu keluar dari inangnya!"


"Tapi energi kehidupan mereka hilang Mika, mereka hanya tubuh tanpa jiwa yang digerakkan iblis!"


"Aku tahu. Maka dari itu kita lihat seberapa kuat iblis itu mengatasi rune sihir buatanku! Malang untuk para manusia itu, setidaknya kita bisa menguburkannya dengan layak!"


Sari menatap Mika dengan ekspresi tak karuan. Ia memiringkan kepalanya dan menaikkan alis sebelah.


"Maksudku, tidak membakar, memenggal, bahkan membelahnya jadi dua aunty!" Mika melanjutkan.


"Aaah, yah kau benar!"


Para makhluk itu mulai mendekat dan memasuki rune sihir buatan Mika yang mulai bersinar, dan benar saja seperti halnya para iblis versi Nergal. Iblis dengan tingkatan rendah langsung bereaksi. Mereka tersiksa dan akhirnya mati meninggalkan tubuh inangnya yang tergeletak tak bernyawa.


"Sar, ini sudah lebih dari lima belas menit! Bantuan dari kota mulai mendekat, sebaiknya kalian berhenti bersenang-senang dan tinggalkan tempat ini segera!" Suara Bimasena terdengar mengingatkan.


"Hhm, baiklah." Sari menoleh pada Mika. "Waktu kita habis, kita selesaikan sekarang!"


Sari melangkah keluar rune sihir, sesekali Sengkayana menghabisi iblis yang nekat mendekatinya. Sari berjalan dengan tenang, memancing sisa makhluk yang ada agar mendekatinya.


Setelah mengatur jarak aman dengan Mika, Sari menarik nafas dalam-dalam memusatkan energinya pada Sengkayana. Hembusan angin perlahan berputar menyelimuti Sari dengan Sengkayana yang memijar. 


Mata Sari berkilat kemerahan, ia menarik kedua tangan didepan dada. Dengan sekali hempasan energi Sengkayana yang berwarna kuning kemerahan menghancurkan hampir seluruh pasukan iblis. 


Energi Sengkayana begitu besar dan menekan udara sekeliling hingga Mika pun harus berlutut untuk mengurangi tekanan pada tubuhnya. Rune sihir milik Mika seketika hilang tersapu energi dahsyat Sengkayana.


Beberapa detik berikutnya yang terlihat hanya beberapa tubuh manusia yang tergeletak tak bernyawa. Sebagian lainnya hilang tak berbekas. Begitupun dengan Sari dan Mika.


Dua orang yang berdiri tak jauh dari lokasi pertarungan hanya diam menatap dengan mata hitam sempurna tanpa ekspresi. Keduanya tak mengeluarkan sepatah kata pun, lalu berbalik pergi menghilang entah kemana.