
Kepala Sari terasa pusing hingga tak mampu lagi menopang tubuhnya, bumi terasa berputar, rasa tidak nyaman bahkan sampai menyakiti indra penciumannya. Seketika tubuhnya lemas, ambruk seolah tak bertulang.
Doni dengan sigap menopang tubuh Sari dan membawanya ke atas ranjang. Menarik selimut yang menutupi ranjang untuk menghindari pecahan kaca yang juga berserakan di atasnya
Tiga orang karyawan hotel dengan tergopoh-gopoh datang menghampiri Doni. Ekspresi bingung dan juga takut tampak jelas terlihat dari cara mereka saling berpandangan.
Kaca besar yang menghiasi kamar hotel pecah tak tersisa, hanya meninggalkan rangkanya saja. Padahal kaca besar dan tebal itu dibuat secara khusus agar tidak mudah pecah dalam kondisi ekstrim sekalipun.
"A-ada apa ini pak?" tanya salah satu karyawan dengan gugup.
"Ya liat aja sendiri, tu kaca pecah kan?" jawab Doni cuek.
Ia mengatur posisi kepala Sari agar nyaman, dan mengalirkan energi penyembuh padanya. Sari masih belum siuman.
"Apa ada yang terluka pak?"
"Hhm, istri saya mas! Shock mungkin!" Doni menjawab tanpa memperhatikan ketiga karyawan itu.
"Eh Pak, kaki bapak juga terluka!" jerit karyawan hotel dengan badan kurus.
"Met, kamu kebawah cepetan minta mbak Wiwin telponin ambulance!" Perintah salah satu karyawan lain, dengan nada gugup melihat darah di kaki Doni.
Karyawan yang dipanggil Slamet itu bergegas keluar sesuai instruksi rekannya. Ia berlari menyusuri lorong tapi kemudian berhenti saat berbelok. Slamet celingukan memantau situasi, setelah dipastikan aman ia mengeluarkan ponselnya.
Menghubungi sebuah nomor dan menunggu sejenak.
"Lapor Mbah, perempuan itu kembali lolos!"
"Goblok!! Kok iso lho! Kapan to Kowe ki bener le tumandhang Met! Marai emosi wae!"
"Ampun Mbah, lha saya juga sudah ngelakuin apa yang Mbah suruh kok! Pancen si mbak'e wae sing sekti Mbah! Angel dipateni!"
"Halah alesan!! Yo wis awasi terus!"
Slamet hanya mengangguk dan menutup teleponnya. Dengan wajah bingung ia kembali menuruni anak tangga menuju ruang receptionis, meminta pada wanita bernama mbak Wiwin untuk memanggilkan bantuan medis.
Sementara itu, Doni masih berusaha menyadarkan Sari. Rupanya dimensi cermin terlalu banyak menguras energi Sari. Dimensi cermin menyerap hampir separuh energi Sari, jika saja Doni tidak menariknya dengan segera Sari mungkin akan terjebak selamanya dalam dimensi cermin.
Dimensi cermin adalah dimensi yang menjebak jiwa dan memanipulasi pikiran seseorang. Bayangan yang dipantulkan dari ribuan cermin disana adalah refleksi dari pribadi dan keinginan jiwa itu sendiri.
Setiap pantulan membisikkan impian dan harapan semu bahkan cenderung hiperbola, membuat siapapun yang terjebak di dalamnya enggan keluar. Hanya manusia dengan jiwa murni yang mampu keluar dari dimensi cermin.
"Sar, bangun!" Doni menepuk pelan pipi istri tercintanya.
Perlahan Sari membuka mata, untuk sesaat ia tidak bisa melihat Doni dengan jelas. Yang ia lihat hanya siluet kehitaman.
"Pelan-pelan saja, jangan maksa buat ngeliat!" bisik Doni lembut.
"Hai beb, kamu kok jadi item semua?" tanya Sari dengan suara parau dan serak.
Senyumnya tertarik dari bibir merah jambunya yang tipis. Doni terkekeh melihat tingkah sang istri yang masih sempat bercanda.
"Lah baru nyadar kamu kalo suami kamu yang ganteng itu item?" balas Doni gemas sambil mencubit pipinya.
Sari tertawa kecil dan terbatuk, energinya belum pulih benar. Dadanya terasa sesak saat harus berbicara. Sari membutuhkan meditasi untuk memulihkan kembali energinya.
Doni mengaduh kesakitan saat Sari bergerak untuk duduk. Telapak kakinya terluka terkena pecahan kaca yang berserakan di lantai. Ia hanya terfokus pada penyelamatan Sari tanpa mengindahkan keadaan dirinya.
"Kaki kamu!" Sari terkejut.
Darah membasahi sprei yang menutupi ranjang. Beberapa pecahan kaca tampak cukup dalam menggores.
"Udah nanti juga sembuh kok!"
Doni kembali meringis kesakitan saat Sari memeriksa lukanya, "Kita ke dokter sekarang!"
"Mbak, jangan turun dulu! Bahaya kalo nggak pake alas kaki!"
Sari mengurungkan niatnya, ia melihat sekeliling kamar. Ia masih bingung dengan yang terjadi, kamar hotel yang ditempatinya bersama Doni berantakan.
Tirai jendela sobek di beberapa bagian akibat dahsyatnya ledakan kaca. Furniture pelengkap kamar juga mengalami kerusakan. Begitu juga dengan wajah Doni dan Sari pun tak luput dari goresan luka.
"Don, apa yang terjadi?"
Doni menatapnya sejenak, lalu melirik ke arah dua karyawan hotel yang masih membersihkan kamar mereka.
"Ceritanya panjang," jawabnya singkat.
Sari diam dan mengerti, ini sesuatu yang diluar nalar. Doni tidak ingin menjadi bahan gunjingan, karena ia yakin seisi hotel pasti sudah tahu dan menimbulkan kehebohan.
Benar saja tak butuh waktu lama sejumlah pihak berdatangan mulai dari kepolisian, pihak management hotel, dan juga para pencari berita. Doni mendapat penanganan medis dan harus mendapat beberapa jahitan, begitu juga dengan Sari.
Setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan Sari dan Doni bisa kembali beristirahat di hotel yang sama dengan kamar berbeda. Seperti biasa Saka turun tangan membantu menyelesaikan masalah kerugian material yang terjadi.
Melalui asistennya, Saka mengirimkan bantuan untuk kedua guru istimewa kesatrian yang dipimpinnya. Ia tidak mau rugi jika sampai kedua orang penting itu harus tertahan lama di Yogyakarta.
...----------------...
"Kemarin apa yang sebenarnya terjadi?" Sari menatap Doni meminta penjelasan.
Doni tidak menjawab dengan segera, ia membuang pandangan ke depan menatap keindahan kota Jogja di malam hari dari kaca hotel.
"Kemarin, nggak lama setelah kamu terlelap aku dengar suara aneh dalam kamar. Seperti sebuah bisikan,"
Sari masih mendengarkan dan memperhatikan Doni. "Dia nyuruh aku bangun dan berjaga,"
"Siapa, apa kamu kenal suara itu?" tanya Sari penasaran.
Doni menggelengkan kepalanya, "Aku cuma menebak saja, mungkin leluhurku atau seseorang yang peduli dengan keselamatan kamu dan juga aku!"
Doni menatap Sari sejenak, lalu menarik senyum di bibirnya.
"Terus?" tanya Sari lagi.
"Aku bangun dan lihat kamu lagi berdiri di depan jendela kaca, mata kamu berubah putih seperti ada selaput yg nutupin,"
"Kayak lagi trance?"
Doni mengangguk, "Bimasena dan yang lainnya coba nyadarin kamu tapi hasilnya nihil!"
"Akhirnya aku coba masuk ke dalam pikiranmu dan aku baru tahu kamu dibawa ke dimensi cermin. Kaget, soalnya baru kali ini aku tau ada dimensi seribu kaca begitu!" terang Doni lagi.
"Jadi suara yang aku dengar itu …,"
Doni mengangguk, meraih tangan Sari dan mencium lembut punggung tangannya.
"Eh jadi kamu lihat …,"
"Hhm, Bagas?"
Sari tidak menjawab, ada rasa bersalah dalam hatinya karena membiarkan lelembut penggoda itu menyerupai Bagas. Sari bahkan hampir terlena untuk memeluk Bagas.
"Maaf, aku nggak tahu kalau …,"
"Nggak apa-apa kok, Bagas bagian dari masa lalu kamu wajar kalau kamu masih menyimpan kenangan tentang dia. Apalagi kalian hampir menikah,"
"Yang penting realitanya sekarang kamu sama aku sekarang dan selamanya. Iya kan?" tanya Doni dengan bijak.
Sari mengangguk dan tersenyum, mensyukuri memiliki Doni yang selalu mencintainya dengan tulus, menjadikan dirinya ratu yang memenuhi pikiran Doni setiap saat setiap waktu.