
Sari masih berdiri didepan mobil ketika ia melihat aura gelap yang berasal dari seberang rumah Al. Hawa kegelapan yang mirip dengan milik Airlangga. Ia menatap intens rumah itu, rumah milik keluarga Candika pemilik kesatrian Hargo Baratan.
"Ada apa beb, apa kamu merasakan sesuatu?" tanya Doni curiga dengan perubahan sikap Sari.
Sari tidak menjawab dan berjalan mendekati pintu gerbang, berusaha melihat dengan jelas kabut kegelapan yang menyelimuti rumah itu.
Apa yang ada disana? Apa ada manusia yang bekerjasama dengan iblis? Airlangga?
Setelah dirasa cukup Sari akhirnya memutar langkahnya menuju mobil.
"Mas, siapa pemilik rumah itu? Apa dia juga ikut dalam turnamen? Ada nama kesatrian di depan rumahnya?" tanya Sari setelah mengikis jarak dengan Al.
"Iya,mereka ikut besok. Mereka pemenang tahun lalu, kesatria muda mereka benar-benar berbakat. Hanya saja …,"
"Mereka pemilik sihir hitam? Bukan begitu mas?" Sari memutus perkataan Al.
"Hhm, begitulah … sangat disayangkan sebenarnya tapi itu keputusan mereka,"
Sari kembali menatap rumah itu, ia ngeri membayangkan manusia yang melakukan kesepakatan dengan iblis. Ia pernah mengenal orang yang melakukannya dan menjadi saksi hidup iblis yang mencurangi manusia.
*****
Sari menatap view kota Yogyakarta yang begitu indah dari kamar hotelnya. Saka memanjakan Sari dan Doni dengan memberikan kamar hotel VVIP yang viewnya langsung menghipnotis Sari.
"Mikirin apa sih?" bisik Doni ditelinga Sari.
Tangannya melingkari pinggang ramping Sari dan mendaratkan kecupan di leher putih istrinya.
"Rumah itu, aku bisa ngerasain energi gelap mirip punya Airlangga,"
"Ohya, terus?" Doni mendengarkan tapi dirinya tetap melancarkan cumbuannya pada Sari menggodanya di setiap inci tubuh Sari.
"Sepertinya keluarga mas Al akan menghadapi bahaya besar, aku bisa melihatnya tadi. Rumah itu dikuasai pemilik kegelapan," jawab Sari yang mulai terasa gerah dengan sentuhan Doni.
"Beb, berhenti dulu kenapa sih!" protes Sari keras.
"Sssst … nanggung ini, mumpung liburan kita disini," Doni kembali memberikan kecupan basah dan sedikit gigitan di telinga Sari membuat istrinya itu tak kuasa menolak.
"Tapi kan kita kesini mau …,"
Doni yang sudah tidak tahan membalik tubuh Sari dan menyambar benda kenyal tipis yang menggodanya sedari tadi.
Hembusan nafas Doni yang hangat menyapa Sari membuat hormon feromonnya naik dan melingkarkan kedua tangannya dileher Doni.
"Kamu tahu kan resikonya kalau kita punya anak?"
Netra keduanya beradu menyelaraskan kabut gairah keduanya yang mulai terbakar,
"I don't care. I just want a baby from you,"
Sari tahu kewajibannya sebagai seorang istri adalah memenuhi keinginan suaminya. Meski ia sedikit ketakutan dengan keabadian yang menjadi kutukannya.
"Kamu … benar-benar ingin memiliki anak?" tanya Sari lagi dengan suara tertahan karena Doni terus bergerilya ke arah sensitif tubuhnya.
"Yes, I did!" jawab Doni dengan suara serak menahan hasrat yang memuncak.
Sari pasrah dengan keinginan Doni, akhirnya ia menyerah dan menuruti keinginan suaminya itu. Lima belas tahun adalah waktu yang cukup bagi Doni untuk bersabar.
Dalam balutan malam dan temaramnya lampu kota, mereka memadu kasih berselimut hasrat membara. Saling menyentuh dan merasakan satu sama lain.
Memagut, dan mengecup nakal dengan belaian kasih sayang sepenuhnya. Hingga keduanya mendapatkan pelepasan bersama dalam kedalaman basah yang tak pernah bosan dinikmati keduanya.
*****
Saka dan beberapa kesatria muda sudah berkumpul di lounge hotel menikmati kopi dan kudapan yang disediakan. Sari dan Doni berada di meja yang sama dengan Saka untuk membahas kemungkinan para ksatrianya berhasil menembus final.
"Kira-kira gimana mbak anak-anak dari kesatrian saya? Ada peluang?"
Sari tersenyum tipis, "Mas Saka ini kan kali pertama turun tanding sebaiknya jangan melihat kalah atau menang dulu. Tapi bangun mental mereka aja dulu, biar nggak ngeper saat hadapi lawan,"
"Dua kesatrian besar saling berhadapan Putra Ganendra dan Hargo Baratan, sepertinya bakal menarik ini," ujar Doni membaca berita dari iPad miliknya.
"Ada info apa?" tanya Sari sedikit mengintip ke iPad Doni.
"Nggak terlalu penting juga sih cuma aku ngerasa ini bakal jadi duel menarik, apalagi salah satunya memiliki kemampuan mengendalikan sihir hitam," jawab Doni mencoba menerawang.
"Tunggu sihir hitam? Itu kan dilarang?!" Saka terkejut bukan kepalang.
"Tenang mas, semoga semua berjalan baik dan nggak perlu berhadapan sama mereka," ujar Sari.
Aku penasaran sama Hargo Baratan sepertinya nanti malam aku bakal berkunjung kesana, untuk memastikan energi Airlangga atau bukan.