
Mbah Tejo terjengkang dari duduknya, hempasan energi Sengkayana yang menghancurkan kubah gaib miliknya menyapa. Energi dahsyat milik Sari itu bahkan melukai organ dalam. Ia terbatuk dan muntah darah.
"Kurang asem! Beraninya menghancurkan pagar gaibku!" tutuknya disela batuk darah.
"Ada apa Mbah?!" Didi dan Joko kompak bertanya.
Dua hari lalu Mbah Tejo memanggil mereka untuk segera datang, ada hal darurat yang berhubungan dengan kematian Shinta.
Begitu bunyi pesan singkat yang Mbah Tejo kirimkan pada keduanya. Mereka bergegas datang karena takut perbuatan kejinya terungkap.
Mbah Tejo adalah Paman dari Didi, keponakan yang dijadikan penerus ilmu warisan leluhur keluarga mereka. Awalnya Didi hanya ingin memberi pelajaran pada Shinta dengan mengirimkan teluh karena Shinta menolak cintanya. Tapi hasutan Ali dan Joko membuat Didi memutuskan ikut melenyapkan Shinta.
Didi dibuat ketakutan saat ia mengetahui pak Agus berniat membantu pak Hisyam. Ia dan kedua rekannya sepakat meminta bantuan Mbah Tejo untuk membuat pelindung gaib guna menyembunyikan tubuh Shinta.
Sialnya, sumpah Shinta yang terucap sesaat sebelum dirinya terpenggal membuat ketiganya hidup dalam perasaan was-was. Munculnya hantu tanpa tubuh yang menakuti warga desa semakin membuat ketiganya tak tenang.
Ali dan Joko pun memberikan sejumlah mahar pada Mbah Tejo untuk melindungi nyawa mereka. Meski awalnya mbah Tejo enggan terlibat tapi melihat keponakan tersayangnya tersiksa ia akhirnya bersedia membantu. Aset keluarga harus diamankan.
"Beraninya kalian berlindung dibawah dukun itu!" Sebuah suara dalam gelap terdengar menggertak.
"Si-siapa? Shin-Shinta?" Didi tergagap mendengar suara wanita dalam gelap, tubuhnya menggigil seketika.
"Takut? Dimana pria kejam yang tega memukuli seorang gadis hingga tak berdaya!"
"A-ampun … ma-maafkan aku Shinta!" Didi memohon ke arah suara dalam gelap yang terus menekan mentalnya.
"Bodoh! Jangan dengarkan dia! Hei bocah ingusan, keluar kau dari sana!" Mbah Tejo geram dan tak terima Didi bersimpuh memohon ampun pada sosok yang hanya terdengar suaranya saja.
"Huh, bocah ingusan katamu? Membuat pagar gaib saja tidak becus masih menghinaku sebagai bocah?!"
Sari perjalan perlahan keluar dari gelap dengan mata bersinar kemerahan. Keempat penjaga menyatu dalam tubuhnya. Menguarkan energi dahsyat yang menciutkan nyali.
"K-kau!" Mbah Tejo terkesiap, ia tak pernah bertemu dengan orang yang memiliki tenaga begitu besar. Ia menahan tubuhnya agar tidak bergetar karena takut. Dari energi yang dikeluarkan Sari, Mbah Tejo sudah bisa membaca kalau dirinya bukan tandingan Sari.
Tapi hinaan sudah terlanjur keluar dari mulutnya, pantang menariknya kembali. Dengan angkuh dia berdiri menantang Sari.
"Kau mengantar nyawa kemari! Kau tak tahu berhadapan dengan siapa bocah tengik!"
Sari tertawa kecil, geli dirinya dipanggil bocah tengik di usia yang hampir empat puluhan tahun.
"Aku bukan bocah, pak tua! Dan kau memilih lawan yang salah!" Sari mengacungkan mata pedang Sengkayana ke arah Mbah Tejo.
Mbah Tejo nekat melawan Sari meski ia tahu kemampuannya jauh tidak sebanding. Melawannya dengan hal gaib jelas bukan pilihan tepat juga. Kepalang tanggung baginya untuk mundur.
Sengkayana yang ada ditangan Sari bukan pusaka sembarangan. Pagar gaibnya dengan mudah dihancurkan, tidak sembarang orang bisa melakukannya.
Mbah Tejo menyerang Sari dengan kerisnya. Satu dua kali tusukan ia arahkan pada Sari tapi apa yang ia lakukan tak lebih dari perlawanan sia-sia. Sari menangkis dan menjatuhkan keris Mbah Tejo dengan mudah. Ia memukul Mbah Tejo hanya dengan satu kali serangan saja.
Energi Sengkayana menghempaskan tubuh tua Mbah Tejo keras ke dinding. Sari tersenyum mengejek padanya.
"Bocah tengik ini bisa membunuhmu pak tua!"
Didi dan Joko gemetar ketakutan, mereka sama sekali tidak berani melawan. Dengan segera mereka bersimpuh di kaki Sari memohon ampun.
"Tolong ampuni kami mbak!"
"Kami tobat, jangan bunuh kami!"
Mereka sesekali melirik ke arah Mbah Tejo yang tak bergerak.
"Sar, serahkan saja mereka pada hukum yang berlaku," Bimasena mengingatkan Sari agar tidak gegabah membunuh manusia.
"Huh, tentu saja aku juga malas kalau harus mengotori tanganku dengan darah mereka. Tapi, mereka tidak akan aku lepaskan dengan mudah!" Sari tersenyum penuh arti.
Keesokan paginya, satu desa geger. Di balai desa Didi, Joko dan Mbah Tejo terikat di tiang dengan sebuah tulisan yang menggantung di leher masing-masing. Mereka ditemukan salah satu warga yang hendak pergi ke sawah dalam keadaan lemas.
Warga yang penasaran dengan berita menghebohkan beramai-ramai mendatangi balai desa. Bagaimana tidak disetiap leher mereka tertulis apa yang mereka lakukan terhadap Shinta. Dijelaskan juga disana mengapa dan dimana mereka menyembunyikan tubuh Shinta.
Ketiganya masih dalam kondisi tak sadarkan diri saat Kepala desa dan perangkatnya datang. Tak ada satupun warga yang berani mendekat, karena dibawah tulisan pengakuan ketiganya terdapat tulisan yang dibuat dengan darah mereka sendiri yang berbunyi.
'Mendekat, berarti mati!'
Tentu saja peringatan itu membuat warga desa ketakutan. Kepala desa mendekat dan berjongkok membaca tulisan yang tergantung. Ia berdecak dan menggelengkan kepala.
"Siapa yang melihat mereka pertama?!"
"Bawakan air untuk mereka!" Kepala desa kembali berteriak memerintahkan asistennya membawakan air minum.
"Ma-maaf pak sebaiknya jangan," suara lirih salah satu warga berbisik pada sang asisten dengan gelas di tangan.
"Kalian gimana sih, kasian mereka bisa dehidrasi! Lagian kalo nggak dikasih minum pak kades bisa ngamuk nanti!"
"Eeh,jangan mas! Beneran ojo di kei ngombe! orak percoyo ki Mase!" Warga yang lainnya menimpali.
Asisten kepala desa tak bergeming dan menepis anjuran warga lain. Ia meninggalkan kerumunan warga dan dengan setengah berlari mendekati ketiganya.
Pak Kades langsung menyambar gelas berisi cairan bening yang berkilau saat tertimpa cahaya pagi. Dengan sabar ia membantu Didi membuka mulut untuk diberinya minum.
"Aduuh pak Kades dikhandani ngeyel!" bisik warga yang khawatir melihat tindakan kadesnya yang nekat mendekat.
Usaha pak kades memberi Didi minum belum membuahkan hasil. Ia nyaris putus asa, tapi kemudian ada sesuatu yang aneh menyapanya. Tangan kanan Pak kades tiba-tiba saja kaku, gelas yang dipegang pak kades melayang lalu jatuh menghempas tanah dengan keras dan hancur berkeping-keping.
Pak kades terkejut bukan kepalang, ketika lehernya terasa dicekik sesuatu yang tak kasat mata. Tubuh gempal pak kades bahkan terangkat dan dihempaskan keras membentur kursi kayu yang digunakan untuk menjamu para tamu.
Warga desa yang berkerumun kembali heboh. Beberapa langsung menghampiri pak kades dan membantunya berdiri.
"Kan, pak kades sih nggak mau lihat peringatannya!"
Pak kades mengusap kepalanya yang pusing akibat benturan.
"Apa daritadi mereka begini?" tanyanya masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Nggih pak,makanya kami nggak berani menolong!"
"Sepertinya arwah Shinta nggak terima kalo kita tolongin mereka!"
Warga desa sepakat dan mengiyakan pendapat salah satu warga itu.
"Biar tahu rasa mereka! Udah biarin aja mati disitu!"
"Iya, betul! Biarin dah mati jahat bener mereka!"
Bisikan-bisikan warga terasa menyakiti hati pak kades. Ia miris menyaksikan Joko yang terhitung masih keponakannya itu tersiksa. Pak kades masih menyangsikan kebenaran tulisan yang menggantung di leher mereka.
Sebenarnya tulisan itu sengaja dibuat Sari agar tidak ada warga yang mendekat. Sari ingin kedua pemuda minus Ali yang masih bersembunyi entah dimana untuk mendapatkan ganjaran dengan sanksi sosial dari warga desa.
Sari menempatkan Bimasena dan yang lainnya berjaga, untuk memberi efek seram mereka ditugaskan menjahili setiap warga yang mendekati dan ingin melepaskan ketiganya.
Wajah ketiga orang itu pucat, bibirnya kering mengelupas, beberapa luka juga nampak di wajah ketiganya. Suara lirih terdengar dari Mbah Tejo.
"A-air …,"
Warga mendadak diam seribu bahasa, mereka mendengarkan suara rintihan dari Mbah Tejo. "A-air ..,"
"Duh, gimana itu kasian si Mbah Tejo haus?"
"Lha gimana saya takut, liat sendiri kan tadi pak kades aja langsung diterbangin kayak kapas!"
"Iya, sih tapi kok Yo mesakne liat tersiksa begitu,"
Suara bergumam dan berbisik kembali terdengar. Mereka bingung tidak tahu harus berbuat apa lagi.
"Kalian kasihan sama mereka? Tapi kalian justru membiarkan gadis tak bersalah disiksa tempo hari!" teriak suara berat di belakang kerumunan.
Para warga sontak terdiam. Mereka kompak melihat ke belakang. Pak Agus berdiri menatap tajam kearah mereka berkerumun.
"Kenapa diam! Kalian menghakimi Shinta, tanpa bukti dan mengasihani pemuda tak bermoral yang keji itu?!" Pak Agus kembali bertanya pada warga desa yang kini menunduk malu.
"Hukuman apa pun didunia ini bahkan tidak layak untuk membalas perbuatan keji mereka pada Shinta,"
"Apa buktinya kalau mereka melakukan hal keji? Kita semua tahu Shinta telah melakukan perbuatan tak seno oh dan mencoreng nama desa ini!" Pak Kades berdiri dan menantang Pak Agus untuk membuktikan tuduhannya.
"Bukti? Kalian mau bukti? Buktinya ada jelas di depan mata kalian!"
Pak Agus mendekati ketiganya, ia berbisik pada Mbah Tejo yang sontak membuatnya ketakutan. Pak Agus tersenyum sinis, ia balas menatap pak kades.
Nafas Mbah Tejo berat dan naik turun dengan cepat, matanya melirik ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu, bibirnya bergetar lalu yang terjadi kemudian selarik kalimat meluncur bebas dari mulutnya.
"Aampuuuun … saya mengaku salah, ampuni saya! Saya hanya membantu bocah-bocah tengik ini, jangan ambil kekuatan saya … jangan sakiti saya, saya masih ingin hidup ndoro ayuuu!"