
Sari dan tim pak Agus kembali ke kesatrian. Doni dan beberapa petinggi kesatrian bertindak cepat mengobati luka-luka para kesatria muda. Suasana kesatrian riuh saat para kesatria muda itu tiba.
Sebagian sibuk memberikan pertolongan pertama, dari terluka ringan ataupun luka cukup parah. Sementara sebagian lagi sibuk menceritakan pengalaman mereka bertarung dengan pasukan iblis. Jumlah kesatria muda yang gugur cukup banyak, tapi tak sedikitpun menyurutkan semangat juang mereka. Terlihat dari cara mereka menyampaikan pada rekan-rekannya.
Para ksatria muda nan tampan itu berbagi pengalaman di sela pengobatan pada luka lukanya, sementara yang lainnya mendengarkan dengan seksama. Saka pun sibuk dengan memberikan instruksi pada anak buahnya untuk segera menangani tim pak Agus.
Sari muncul di pendopo kesatrian, masih dengan Sengkayana yang belum menghilang di tangannya. Membuatnya begitu dramatis dengan pedang berpijar kemerahan.
"Sar!" Doni berteriak memanggil Sari dari kejauhan.
Sari berbalik, Doni menghampirinya setengah berlari.
"Bad news or good news?" Tanya Doni dengan nafas tersengal membuat Sari mengernyit.
"Er gebeurt iets?" (Sesuatu terjadi?)
"Ja!" (Ya!) Doni menarik nafas sejenak lalu kembali berkata.
"Pertemuan kalian berdua dengan Steven berdampak panjang. Pertarungan meluas dan pasukan iblis lain tiba di batas kota setelah mereka menimbulkan kekacauan dimana mana!"
"Sudah kuduga, lalu?"
Doni melirik ke arah para kesatria muda dan juga pak Agus yang sedang mendapat kan perawatan di tangan dan bahunya.
"Kita bicara di tempat lain, Mika menunggu di ruang kerja." Ajak Doni kemudian, ia mencari sosok Saka dan memanggilnya dengan melambaikan tangan.
Sari mengikuti Doni menuju ruang kerja dimana Doni sudah mengatur strategi untuk menghadapi pasukan iblis. Tampak disana Mika seperti memperhatikan peta yang dibuat Doni sepeninggal Sari semalam.
"Aunty!" Wajah Mika lega melihat Sari datang dengan selamat.
"Merindukanku Mika?" Canda Sari sembari melepas sarung tangan miliknya.
Mika terkekeh, ia bersyukur Sari masih memiliki rasa humor disaat genting seperti ini. Setidaknya mengendurkan syaraf otak yang tegang setelah melihat kejadian mengerikan di beberapa tempat.
"Baiklah, ada berita apa?" Sari berdiri berseberangan dengan Mika, menatap peta di depannya dengan serius.
Beberapa bendera tampak disusun Doni, Sari mencoba memahaminya.
"Kamu liat daerah yang aku tandai dengan bendera merah? Ini adalah daerah lawan. Lalu bendera putih, daerah yang belum tersentuh dan kuning adalah daerah yang masih dalam bahaya. Kita, ada disini!" Doni menunjukkan posisi kesatrian berada.
"Kuning?" tanya Sari diikuti anggukan Doni.
"Mereka masuk melalui timur kota, dan pasukan iblis yang menyerbu jumlahnya melebihi yang kita bayangkan!"
Doni kemudian menjelaskan titik-titik yang dilalui lawan serta dampaknya bagi umat manusia. Hampir sebagian besar daerah yang didatangi pasukan iblis musnah. Pembunuhan massal umat manusia terjadi dengan cepat hanya dalam semalam saja.
Sari dibuat geram dengan penjelasan Doni. "Kurang ajar, iblis sialan! Airlangga benar-benar membuatku marah!"
"Ini bahkan lebih mengerikan dari pertarungan di Jombang. Kekuatan iblis yang digunakan Airlangga jauh melebihi batas!" Doni berusaha memprediksi.
Sari menatap Doni, "Kita membutuhkan banyak bantuan! Airlangga tidak main-main kali ini, apalagi pasukan elit miliknya juga belum diturunkan!"
"Pasukan elit? Cool!" Sarkas Mika.
"Iblis juga nggak mau kalah Mika, mereka punya barisan khusus untuk melindungi Airlangga." Sahut Sari dengan melipat kedua tangan di depan dada.
"Aku yakin mereka akan diterjunkan saat pertarungan selanjutnya. Dua dukun hitam yang tersisa menjadi panglima kelas rendahan, kita bisa mengalahkannya dengan mudah. Tapi pasukan elit Airlangga tidak akan mudah dikalahkan mengingat mereka juga memiliki kemampuan setara Airlangga."
"Mereka immortal juga?" Tanya Mika khawatir.
Sari menggelengkan kepalanya, "Nggak, hanya ada tiga immortal, aku, Airlangga dan ...,"
"Dan yang satu, Lingga. Ehm, dia sudah mati kan?" tukas Mika cepat.
"Ya, dia tewas lima belas tahun lalu." Jawab Sari datar lalu menghela nafas pendek mengenang kematian Lingga, "Kematian yang indah. Itu kata-kata terakhirnya, sebelum tubuhnya menghilang,"
Ia juga harus bersiap mengalami hal yang serupa dengan Lingga. Tak ada cara lain untuk mengakhiri kutukan selain dengan kematian. Benarkah itu?
Sepertinya Sari melupakan sesuatu. Sari lupa dengan keberadaan mustika penyihir yang kini entah dimiliki siapa dan ada dimana. Mustika yang dapat membawanya berlari dari satu takdir ke takdir yang lain.
Fokus Sari terpecah antara Airlangga dan pasukan iblis yang menyerang ras manusia dengan cepat dan sadis, hingga ia melupakan hal penting itu. Mungkin nanti saat Sari dalam keadaan terdesak ia akan menyadarinya.
"Aunty bertemu dengannya semalam?" Mika menanyakan tentang Airlangga.
"Hhhmm," Sari menjawab singkat matanya menatap lekat pada wilayah-wilayah yang ditandai Doni.
"Bagaimana dia?"
Sari menoleh ke arah Mika, lalu tersenyum kecut. "Well, selain keangkuhan, rambut panjang, dan wajah jeleknya aku pikir nggak ada yang berubah,"
"Maksudku kekuatannya aunty! Dan sejak kapan iblis itu tampan!" Protes Mika keras membuat Sari tertawa.
"Hei, beberapa dari iblis dan lelaki dari bangsa lelembut itu sangat tampan Mika! Bayu misalnya dan juga … para penjaga?"
Wajah Mika terasa panas mendengar kata tampan yang diucapkan Sari, pikirannya tertuju pada Bimasena, penjaga Sari lainnya dan juga Erick. Lelaki yang dalam waktu singkat mencuri perhatiannya.
Sari kembali tergelak, ia membaca pikiran Mika. "Ya, ya mereka memang tampan!" Kerlingnya menggoda Mika yang kini terlihat salah tingkah.
"Aunty, itu sangat tidak sopan! Membaca pikiran orang?" Gerutunya pada Sari yang tergelak.
"Kekuatan Airlangga berbeda dengan sebelumnya. Tidur selama sekian lama sepertinya ia gunakan untuk memulihkan energi dan juga menguatkan kemampuan sihirnya. Dia terluka cukup dalam saat kami terakhir bertemu." Sari menjawab kemudian.
Saka menyalakan televisi besar di ruangan kerja, salah satu channel menayangkan kekacauan yang terjadi di daerah Karang Anyar. Ratusan pasukan iblis terlihat mengepung dan sesekali memangsa manusia bernasib sial yang tak bisa menyelamatkan diri.
Sebuah drone melayang, memperlihatkan situasi kota dari ketinggian. Jerit ketakutan terdengar jelas, masyarakat berlari kesana kemari menyelamatkan diri. Kota sangat kacau, kendaraan saling bertabrakan, asap hitam mengepul dari kebakaran yang terjadi di setiap sudut kota.
"Kurang ajar, mereka pikir kita menu makanan harian?!" Sari menahan amarah hingga terdengar gemeretak gigi yang beradu.
Tayangan pada drone tiba-tiba saja mengalami gangguan, ia bergerak kesana kemari tak tentu arah. Hingga akhirnya menunjukkan satu wajah mengerikan, Mbah Wito dalam bentuk iblis menyeringai.
"Serahkan wanita itu pada kami, dan kami akan mengampuni kalian!"
Sari mendelik tak percaya, sebuah peringatan dari iblis secara terang-terangan untuk umat manusia.
"Aku sangat muak melihatnya!" Sari setengah berteriak.
"Apa dia amnesia?! Aku bertemu dengannya semalam dan dia … lihatlah dia mengancam warga? Memintaku menyerah? Klootzak!" (Brengsek!)
Wajah Sari memerah, matanya berkilat kemerahan. Hampir saja ia menghantam televisi jika Mika tidak mengingatkannya.
"Aunty, tahan emosimu!" Mika menyentuh tangan Sari, sengatan energi menyakiti tangannya tapi Mika bisa menahannya.
Doni menatap layar datar dengan sangat serius. Ia memperhatikan sesuatu yang terlihat janggal pada tayangan.
"Apa kalian melihat apa yang aku lihat?" Tanya Doni seraya mendekati televisi.
"Apa, aku nggak melihat apa-apa selain wajah menyeramkan itu?!" Ujar Saka, ia memiringkan kepalanya berusaha mencerna pertanyaan Doni.
"Mereka punya kelemahan," Doni tampak masih serius menatap gambar pada layar datar.
Sari menunggu suaminya kembali berbicara, yang ia tahu pasukan iblis tingkat rendah bisa dihancurkan dengan rune sihir berbeda dengan para panglimanya yang harus dihadapi dengan sedikit tenaga.
"Aku sebenarnya tidak terlalu yakin, tapi lebih baik kita mencobanya!" Ujar Doni yang beralih menatap Sari.
Sari memicingkan matanya, meminta penjelasan lebih pada Doni. Ditatap demikian Doni malah menggaruk kepalanya. "Garam sihir,"
"Apa? Garam … sihir? Darimana kita dapat, itu aneh!" Sari mengernyit bingung, ia sungguh tak berharap suaminya bercanda disaat genting seperti ini.
"Entahlah itu terbesit begitu saja. Anggap saja itu sebuah insting?" Doni balik bertanya.
"Insting? Dan uncle mau kita percaya insting uncle?" Mika bertanya memastikan kembali.
Doni mengangkat kedua tangannya bersamaan. Ia mengusulkan garam karena pada beberapa kondisi nyatanya garam yang diberi doa bisa membantu mengusir lelembut nakal penggoda. Asumsinya jika garam bisa digunakan untuk mengusir lelembut biasa maka garam mungkin bisa juga digunakan untuk mengusir iblis versi Airlangga.
"Aunty?" Mika beralih pada Sari yang terdiam.
"Hhm, tidak ada salahnya dicoba kan? Setidaknya para kesatria muda kita bisa lebih percaya diri jika ada benda yang membuat mereka sedikit lebih unggul."
"Mas Saka, bisa carikan garam untukku?"
Tanpa banyak bicara, Saka bergegas meminta pada para asistennya untuk menyiapkan permintaan Sari.
"Beb, apa berita baiknya? Dari Tadi kita membahas berita buruk terus?"
"Ah itu, ehm berita baiknya adalah kota masih bisa kita amankan meski anak buah Steven membuat kekacauan di beberapa tempat."
"Itu berita baiknya? Nggak ada yang lain?"
"Ada aunty!" Sahut Mika cepat, ia menatap Doni dan Sari bergantian. "Ayah Al dan mas Pandji akan segera bergabung disini,"
"Oya? Ehm, ini bukan karena Pandji merindukanmu kan?" Seloroh Doni yang membuat wajah Mika memerah.
"Uncle! Tentu saja tidak, aku yang memintanya untuk datang kemari! Ehm, sedikit memaksa tepatnya. Kita butuh tambahan tenaga bukan?"
Sari dan Doni kompak mengangguk, membenarkan tindakan Mika.
"Sepertinya kontrak dengan Mika akan segera berakhir beib."
"Hhm, bagaimana jika kita mengajukan perpanjangan sewa?" Sari menimpali kekonyolan Doni.
"Boleh juga, lalu bagaimana dengan Erick? Apa kita akan melakukan barter lagi pada mas Al? Sebagai besan mungkin?" Doni meledek Mika yang semakin menekuk wajahnya.
"Uncle, nggak lucu!"
"Siapa bilang aku …,"
BLAAR!
BUUM!
Tiba-tiba saja goncangan dahsyat terjadi. Bunyi ledakan keras sekali diikuti dengan dentuman kecil berulang kali membuat kediaman Saka mengalami kerusakan kecil.
"Kubah pelindung rusak, Airlangga datang!" Mata Sari berkilat kemerahan, ia bisa merasakan energinya ada disekitar.
Sari, Mika, dan Doni keluar ruangan. Awan gelap menggantung di langit, menutupi pagi yang semula cerah.
"Mbak Sari!" Saka menghampiri Sari, ia menatap lekat awan aneh di langit kota Solo.
"Dia datang, sebaiknya mas Saka, Kania, dan juga Erick berlindung!" Sahut Sari tanpa berkedip menatap ke langit yang semakin menghitam.
Aku tidak akan menghindar lagi, Airlangga! Mati kita bertarung hingga salah satu dari kita mati!