
"Perjanjian?"
Sari masih menunggu Anna menjawab. Sosok lelembut itu berdiri dengan tubuh jangkungnya, ia mendekati tirai jendela dan menatapnya keluar.
"Dia aku ijinkan mendirikan hotel ini, membiarkannya menjalankan usahanya tapi dengan syarat. Tumbal manusia!"
Anna Van de Groot melirik tajam ke arah Sari. Tatapannya mulai berubah mengancam, Sari mulai waspada.
"Apa hakmu meminta tumbal manusia? Kamu bukan pribumi asli dan biasanya makhluk seperti kamu juga tidak memberikan keuntungan apa pun! Kau tidak istimewa!"
Perkataan Sari membuat Anna marah, ia seketika menyerang Sari. Anna berhasil meraih leher Sari, mencekiknya dan mendorong Sari ke belakang hingga membentur dinding di belakangnya.
"Hou je mond, je weet niet wie ik ben!" (Tutup mulutmu, kau tidak tahu siapa aku!)
Sari memegang tangan Anna erat, meski menahan sakit karena cekikan kuat dan tekanan kuku tajam Anna, Sari masih bisa sedikit tertawa mengejek.
"En je weet niet eens met wie je te maken hebt!" (Dan kau juga tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa!)
Mata Sari berkilat kebiruan, energi kujang mengaliri kedua tangannya yang seketika mengejutkan Anna. Ia menjerit dan melepaskan cekikannya, kedua tangannya mengeluarkan asap.
"Kau tahu Anna, para Lelembut menyebutku Dewi kematian! Mereka segan bertemu dan bahkan takut, tapi kamu justru dengan sengaja memancingku!"
Sari berdiri dengan tegak, ia perlahan berjalan mendekati Anna yang berjalan mundur menghindarinya.
"Ik wil gewoon je ziel!" ( Aku hanya ingin jiwamu!)
Anna berteriak seketika penampilannya berubah mengerikan lengkap dengan leher yang nyaris putus. Sari berdecak kesal.
"Jiwaku? Milikku sangat mahal harganya Anna! Ik ben een onsterfelijke ziel!"
(Aku adalah jiwa yang abadi!)
Sari menyerang Anna yang kembali kabur ke dimensi lelembut. Dimensi gelap yang menciutkan nyali siapa pun. Dimensi yang hanya bisa dimasuki oleh para ahli spiritual ataupun orang-orang pilihan.
"Jangan lari Anna! Aku hanya ingin sedikit membuat perhitungan denganmu!"
Anna menghilang dari pandangan Sari, lalu muncul tiba-tiba dibelakang Sari bersiap mencekik tapi Sari terlebih dulu menarik salah satu tangan Anna dan membantingnya ke depan.
Sari tidak membiarkan Anna berdiri, dengan sigap ia menjepit tubuh Anna dengan kedua kakinya.
"Beritahu aku satu alasan membiarkan kamu hidup!"
Sari mengancam dengan mengarahkan ujung kujangnya ke kepala Anna.
"Aku tidak peduli dengan itu! Orang itu mengatakan kau akan datang menemuiku, wanita dengan jiwa abadi!"
"Apa maksudmu?"
Anna tertawa lebar menunjukkan barisan gigi hitamnya yang mengerikan.
"Seseorang menunggumu, dia akan bangkit sebentar lagi dari tidurnya! Aku hanya kurir untuk menyampaikan pesan!"
Sari menekan kujangnya ke leher Anna hingga mengeluarkan sedikit asap yang membakar daging busuk Anna.
"Kurir? Tadi kamu bilang perjanjian dan sekarang kurir? Anna kau sungguh tidak memberiku pilihan lain!"
Mata Sari kembali berkilat kebiruan, ia bersiap mengangkat kujangnya untuk membunuh Anna segera.
"Perjanjian ku dengan pemilik hotel ini sudah berakhir, bunuh aku sekarang aku lelah dan ingin pulang!"
"Dengan senang hati Anna!"
Sari menusukkan kujangnya tepat di dahi Anna membuat suara retakan tulang dan dalam sekejap energi kujang membakar lelembut Noni Belanda itu menjadi abu.
"Bedankt, ik ben nu vrij!
(Terimakasih, aku bebas sekarang!)
Suara Anna tampak begitu lembut di telinga Sari, seketika ia teringat pada kalimat Lingga di saat terakhir hidupnya.
Kematian yang indah …,
Sari masih tak bergeming di posisinya, ada rasa sesak dalam dadanya mengingat hal itu. Lingga begitu lelah menghadapi kehidupan abadinya, dan Anna lelah dengan dirinya sebagai lelembut.
Lelah menghadapi kehidupan …,
Tanpa terasa air matanya meleleh, belasan tahun hidup dalam dendam dan keabadian sungguh menyiksanya. Meskipun Doni selalu ada disisinya tapi Doni hanya manusia biasa yang akan pergi meninggalkan Sari suatu hari nanti.
Sari menunduk dalam dan mengepalkan kedua tangannya ia bergetar menahan kepiluan. Keabadian dan dendam membuat hidupnya tidak pernah tenang.
"Aaaargh …!!"
Teriakan Sari memecah keheningan alam lelembut, menciptakan kengerian bagi para penghuni jagad lelembut.
...----------------...
Dengan langkah gontai Sari keluar dari kamar itu. Doni sudah menunggunya bersama keempat penjaga.
"Don't ask!" katanya memberi kode pada mereka untuk diam.
Sari menatap kamar di depannya, itu kamar yang digunakan pemilik hotel untuk melakukan ritual. Sari hendak membuka pintu saat suara teriakan beberapa orang yang berlari ke arah Sari menghentikannya.
"Berhenti! Jangan mendekat!"
Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahunan dan memakai kacamata berhenti tepat di depan Sari dengan nafas tersengal.
"Jangan buka pintunya!"
"Mas siapa? Karyawan hotel?"
"Saya … anak pemilik hotel ini! Saya dapat laporan dari anak buah saya kalau ada yang berhasil masuk ke kamar 232,"
Ia menarik nafas sejenak lalu kembali berkata, "Belum ada yang bisa memasuki kamar itu selama berpuluh tahun lamanya!"
Sari menatap heran pada pria yang bernama Andika itu. "Belum ada yang pernah masuk?"
"Iya mbak, terakhir kamar itu dimasuki oleh salah satu tukang bangunan untuk memasang listrik. Itupun dulu sekali waktu hotel ini mau berdiri!"
"Lalu?"
"Orangnya mati mbak, terjun dari jendela! Ada saksi yang bilang Noni Belanda yang dorong dia dari jendela!"
"Setelah itu tiap ada orang yang masuk kamar kalo nggak gila ya mati mbak!"
"Trus kamar yang ini buat apa?" yanya Sari penasaran.
"Ini kamar ritual persembahan, dibuat sama kakek buyut saya biar si noni Belanda juga penunggu lainnya nggak ganggu dan juga ehm, nganu mbak …,"
"Buat ritual penglaris, pesugihan, biar cepat kaya, cepat sukses gitu?" cerca Sari kasar.
"Eehm, iya mbak … tapi itu kakek saya, kalo saya sekarang ya percaya nggak percaya mbak. Apa mbak bisa bantu?"
"Bantu apa?"
"Bersihkan tempat ini mbak, saya mau tempat ini bersih semua nggak ada lagi sesaji sesajian yang bikin pusing! Saya mau kembali mbak, udah cukup kematian yang ditimbulkan dari perjanjian terkutuk itu!" pinta Andika bersungguh-sungguh.
Sari melirik Doni meminta izin pada suaminya. Doni mengangguk dan memberi isyarat untuk segera masuk ke kamar itu.
"Baiklah kalau mas memang berniat dengan sungguh-sungguh untuk kembali. Saya akan bantu! Saya suka model anak muda kayak mas gini, tobat sebelum ajal menjemput!"
"Iya mbak, tolong saya ya!"
Andika membuka kamar ritual itu. Aroma dupa dan kembang menyeruak keluar ketika pintu terbuka lebar. Kamar yang gelap karena seluruh tirai ditutup. Sari masuk ke dalam ruangan mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar yang sengaja dikosongkan.
Hanya ada meja yang tertutup kain hitam dengan sesaji komplit dan prapen kecil dari tanah liat. Asap masih mengepul tipis diatas prapen, artinya baru ada ritual kecil didalam kamar. Dua buah bantal duduk juga diletakkan di sana.
Sari menangkap sosok yang tergeletak tak jauh dari meja kecil.
Orang itu … hawa kehidupannya hilang, jangan-jangan …,
"Astaghfirullah, bapak!!"
Suara Andika seketika membuat Sari terkejut. Andika masuk dan segera memeluk tubuh kaku pria yang dipanggilnya bapak itu. Andika menangis, meratapi kepergian pria itu dengan penuh penyesalan.
Apa aku bilang, perjanjian dengan iblis tidak akan pernah menguntungkan manusia!