
"Pemuda itu sepertinya bukan orang biasa," kata Doni yang segera menyusul Sari memperhatikan dua anak manusia berbeda jenis yang sedang unjuk kekuatan terselubung.
"Iya, yang satu mencoba membaca dan masuk ke dalam jiwanya sedangkan yang satunya itu menghalangi dengan mana sihirnya yang kuat. Cukup seimbang!" sahut Sari tidak melepaskan pandangannya.
"Dia yang bernama Mikaila?" tanya Doni dibarengi anggukan Sari.
"Terus gimana sekarang?"
"Aku harus pastikan dulu siapa dan apa benar dia bisa membaca jiwa manusia. Untuk sementara ini cukup tahu saja kalo dia orang yang kita cari," ujar Sari.
Mika dan pemuda yang bernama Biantara itu akhirnya mengakhiri adu kekuatan mereka setelah tidak ada yang mau saling mengalah. Sari bisa menangkap kegelisahan dari wajah gadis yang baru saja melewatinya.
Sari mengikuti kemana Mika pergi, rupanya ia mencari pemuda tampan lain yang juga sedang bersama seorang wanita cantik lainnya.
"Waah, anak jaman sekarang harus gitu ya kalo ada pesta? Selalu ada wanita untuk jadi pasangannya?" Sari menggelengkan kepalanya ketika menyadari hampir semuanya memiliki pasangan.
"Jaman sudah berubah beb, emang jaman kita?"
"Eeh dulu di Belanda juga gitu kalo ada acara prom night, emang kamu nggak?" Sari memiringkan kepalanya dan menyelidik pada Doni.
"Oooh ya di Belanda, lain di Demak beb!" Doni nyengir kebingungan membuat Sari tertawa geli.
"Kalo itu Mika berarti pemuda itu …,"
"Yup, pasti Pandji!" sahut Sari dengan yakin.
Sari dan Doni kembali memperhatikan Interaksi Mika dan juga Pandji dari kejauhan. Sesaat kemudian Sari menangkap bayangan gelap yang keluar dari tubuh Biantara itu.
Sari menajamkan mata tak biasanya, ia bisa melihat sosok iblis yang keluar dari tubuh Biantara. Tangannya mengepal, darahnya mendidih seketika mengingat kekejaman iblis bernama Airlangga.
Doni yang menyadari energi Sari meningkat seketika langsung berusaha menetralkannya dengan menyentuh bahu Sari.
"Jangan gegabah, kita hanya mengamati disini! Kalau benar itu adalah bagian dari pasukan iblis Airlangga, dia bisa kabur lagi seperti dulu," bisik Doni dengan penekanan.
Doni memposisikan dirinya ke depan tubuh Sari berusaha menghalangi pandangan Sari agar tidak terpancing emosi. Sari masih tidak bergeming, matanya yang berkilat kebiruan memantau gerakan iblis yang berpindah pindah dengan cepat itu.
"Beb, doe dat niet hier!" (Beb, jangan lakukan itu disini!)
Sari tidak mengindahkan bisikan Doni, energinya terus meningkat membuat Doni khawatir akhirnya Doni memberikan sedikit kejutan energi miliknya pada Sari dengan menekan bahu Sari dan itu berhasil.
"Sorry, ik ben de controle kwijt," (Maaf, aku lepas kendali)
"Jangan kacaukan pestanya Pandji, mas Al dan mbak Selia juga pasti nggak mau itu terjadi."
"Tanganku gatal pengen hajar iblis nggak sopan itu beb!" gerutu Sari.
"Aku tahu, tapi tidak sekarang! Ingat bulan darah terjadi sebentar lagi, bisa jadi Airlangga keluar dari persembunyiannya! Bersabarlah sedikit, kita juga belum tahu apa iblis itu benar komplotan Airlangga atau justru musuh baru!"
Ucapan Doni ada benarnya, Sari belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Iblis yang bersemayam didalam tubuh Biantara adalah jenis yang berbeda dengan Airlangga.
Sari dan Doni dikejutkan dengan keributan yang tiba-tiba terjadi di depannya. Mika pingsan dan Pandji berteriak memanggil pemuda lain yang disebut sebagai Raksa. Suasana jadi sedikit tegang karena Al dan Selia dengan tergesa segera membawa Mika ke kamarnya.
"Ada apa itu, kenapa Mika pingsan?" Doni penasaran tapi ia menahan diri untuk membantu Al.
"Itu ulah pemuda tadi, dia mungkin mengirimkan mantra sihir untuk mempengaruhi pikiran Mika tapi entah mantra apa yang dipakai," jawab Sari.
Belum juga selesai kehebohan yang menimpa Mika insiden kecil sudah kembali terjadi. Pandji sedang berhadapan dengan Biantara. Sebuah gelas kaca pecah berkeping-keping dihadapan Pandji.
Pemuda dalam ramalan itu melindungi dirinya dengan sihir yang ia pelajari. Pecahan gelas itu bahkan tidak menggores wajah tampannya sedikitpun.
Sari dan Doni hanya saling berpandangan, dua kesatria muda itu saling berhadapan dan bersiap adu kekuatan.
Kegelapan menguasai Biantara, ia sengaja mengeluarkan energi jahatnya untuk menekan mental para kesatria lain yang tampak gentar melihat Biantara. Termasuk para kesatria muda asuhan Saka.
"Mbak Sari, kenapa hawa nya sedikit berubah disini? Saya merasa nggak nyaman apalagi melihat anak sombong itu!" Saka berbisik pada Sari.
"Tenang mas Saka, jangan terpancing. Tenangkan saja anak didik mas Saka, bilang sama mereka semua akan baik-baik saja," sahut Sari pelan.
"Apa sebaiknya kami pulang saja, saya nggak suka sama hawa seperti ini mbak! Ini terlalu berbahaya untuk murid-murid saya!" Bisik Saka lagi
Sari hanya tersenyum miring, Saka memang belum berpengalaman menghadapi pertarungan itu sebabnya mentalnya langsung terpengaruh dengan sedikit tekanan.
"Kalo menurut mas Saka itu yang terbaik, silahkan mas bawa pulang tim kita dan tenangkan mereka,"
Sari terus melihat perubahan pada Bian. Iblis jahat menguasainya, iblis dengan mata yang hanya berupa rongga hitam dan mulut menganga itu tampak mengejek ke arah Pandji.
Sari terhenyak melihatnya, ia segera menyadari itu bukan bagian dari pasukan iblis milik Airlangga. Itu adalah musuh baru yang hanya akan bisa dihadapi kesatria muda bergelar Satrio Pamungkas.
Aku semakin penasaran dengan apa yang terjadi, jika itu bukan Airlangga lalu siapa?!