
Sari menghela nafas berat, ia membuka matanya, menatap makhluk mengerikan itu sejenak lalu pergi berlalu dengan tenang.
Anggap saja kamu sedang beruntung hari ini! Aku capek dan sedang malas bermain dengan makhluk sepertimu!
Lelembut wanita dengan leher hampir saja terputus itu keheranan melihat Sari. Ia memutar tubuhnya hingga 180 derajat membiarkan bunyi gemeretak tulang yang patah terdengar jelas ditelinga Sari.
Suara tulang yang beradu itu terasa geli di telinga Sari tangannya mengepal di sisi tubuh menahan rasa kesal yang hampir saja terlepas dari dirinya.
Sari terus berjalan ke arah mobil dan mengambil ponselnya. Ia mengindahkan rasa tidak nyaman yang menyapanya, Sari tahu makhluk itu pasti akan datang lagi menyapanya.
Benar saja ketika ia berbalik, wanita dengan wajah mengerikan itu ada dibelakang Sari. Sari berdecak kesal melihatnya.
Nekat bener ni demit satu! Dia nggak tahu berhadapan ma siapa kali ya?!
Sari kembali melewatinya dan berjalan dengan tenang seperti tidak melihat kehadiran makhluk itu. Bau busuk dan anyir yang mengganggu hidungnya juga Sari tahan sekuat tenaga.
Ia berpura-pura membuka ponselnya dan membalas beberapa chat penting. Sari benar-benar mengabaikan lelembut yang akhirnya pergi itu.
"Akhirnya … sori, saya lagi nggak mood ngadepin kamu!" gumam Sari dengan senyum yang melengkung.
Memasuki lobby hotel keributan terjadi, beberapa karyawan hotel tampak bingung dan panik. Mereka menemukan wanita muda yang tergeletak di lorong hotel. Sari berhenti saat tandu yang membawa wanita muda itu keluar menuju ambulance.
"Dia sudah mati, akhir-akhir ini aku sering nemuin lelembut yang mengambil hawa kehidupan manusia. Ini sedikit aneh, atau mungkin cuma perasaan aku aja?!"
Sari sedikit penasaran dengan lelembut wanita yang sempat menyapanya tadi. Ia mencegat salah satu karyawan hotel yang bernama Leo dari tag name yang dipakainya.
"Mas, boleh nanya sebentar aja? Siapa cewek yang pingsan tadi?" Sari berpura-pura.
"Pingsan? Mati mba!" jawabnya dengan panik, wajahnya jelas menyiratkan ketakutan dan Sari langsung bisa menebaknya.
"Eeh, mati? Masnya kok takut banget gitu, apa sebelumnya pernah terjadi disini?"
Leo celingukan melihat situasi sebelum menjawab, ia kemudian berbisik. "Iya mbak, ini korban ke delapan! Anna Van de Groot kembali meminta korban!"
"I-iya mba, hantu Anna Van de Groot kembali beraksi! Tadinya kami pikir dia sudah pergi dengan sesaji yang sering kamu berikan tapi … aaah, saya takut mbak! Udahlah saya mau resign aja lama-lama kerja disini bikin saya tekanan batin!"
Leo bergegas hendak pergi tapi Sari berhasil menarik tangannya.
"Tunggu, kamu bilang sesaji? Dimana itu diletakkan? Apa ada kamar khusus disini?"
Leo kembali kebingungan dan gemetar, ia ragu untuk memberitahukan pada Sari. Tapi kemudian selarik kalimat meluncur dari mulutnya.
"Kamar 232 dan 231, kamar itu terhubung. Anna Van de Groot ada disana!"
Leo setengah berlari keluar dari lobby hotel. Ia tampak tergesa-gesa menyalakan motor nya dan pergi dengan segera. Sari hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Cck, karyawan hotel yang aneh!"
Sari menuju lift, ia ingin segera tidur. Tubuhnya lelah sekali seharian berada di dalam ruangan penuh tekanan dalam turnamen itu membuat moodnya buruk.
Sari menekan tombol lantai 3 tempat kamarnya berada. Pintu lift tidak juga mau menutup, Sari mulai merasakan hawa yang menyesakkan dada. Sekali lagi ia menekan tombol, pintu lift akhirnya tertutup.
Tiba-tiba saja suhu menjadi lebih dingin, bulu kuduk Sari meremang. Bau anyir dan busuk menggelitik hidungnya. Energi negatif kembali menyapanya.
"S***t … dia lagi, dia lagi!"
Sari diam tak bergeming dari posisinya. Lelembut wanita itu tepat berada di belakang Sari. Dia meniupkan nafasnya ke tengkuk Sari, menggerakkan sedikit anak rambut Sari yang menjuntai.
Sari geram, tapi dia masih mencoba bersabar. Tangan Anna Van de Groot menyentuh bahunya. Ia sedikit menekan kuat bahu Sari.
"Haaaiish cari masalah nih si Anna!" batinnya kesal.
Kulit tangan yang pucat dan sedikit membiru dengan kulit mengelupas menampakkan daging di jemarinya yang sebagian busuk dan mengeluarkan ulat. Sari jijik saat melirik ke tangan itu.
Duh, pake ada ulat segala! Cukup deh kalo begini, lo jual gue beli!