
Sari dan lelembut itu masih terhubung kuat. Emosi mereka menyatu, kedua mata mereka bersinar kemerahan. Doni masih memeluk erat tubuh Sari yang semakin terasa panas.
"Kendalikan dirimu Sar, keluar dari sana!" Doni kembali berbisik.
Sari masih tak bergeming, Doni terpaksa memakai kekuatannya untuk meredam emosi Sari. Menidurkan Sari adalah pilihan terbaik baginya. Doni bisa memasuki alam bawah sadar Sari jika istrinya itu tertidur.
"Bantu aku menenangkannya Bayu!" Doni terkoneksi dengan Bayu yang ikut merasakan kehadiran roh iblis dalam tubuh Sari.
Mantra khusus yang Doni pelajari dari Bayu dirapalkan cepat untuk menguasai Sari. Mantra khusus yang hanya diajarkan pada para penjaga immortal seperti Sari. Perlahan tapi pasti suhu tubuh Sari turun. Matanya kembali normal dan tubuhnya terkulai lemas.
Untuk beberapa saat Sari pingsan, Doni bekerja cukup keras menutup kembali celah agar roh iblis itu kembali ke tempat semula. Menguncinya dengan mantra dan menguatkan segelnya. Emosi yang berlebihan bisa kembali mengaktifkan roh iblis dalam tubuhnya.
"Mas Doni, apa mbak Sari nggak apa-apa?"
"Iya pak, sebentar lagi dia pulih dan bangun kok,"
Benar saja tak perlu waktu lama setelah Doni selesai mengusap wajah Sari lembut, ia pun tersadar. Wajah khawatir Doni yang pertama ia lihat saat membuka mata.
"Udah enakan?" Doni lega Sari membalas tatapannya dengan cinta.
"Iya," Doni membantu Sari untuk duduk.
"Jangan libatkan emosimu terlalu dalam saat memasuki memori seseorang. Dia akan bangkit jika terpantik emosi."
Sari mengangguk, ia kemudian menoleh ke arah lelembut yang masih melayang di dekat pak Agus.
"Aku sudah tahu semuanya, keadilan untukmu harus ditegakkan. Aku akan membantumu, tunjukkan dimana tubuhmu mereka sembunyikan!"
Lelembut itu seolah mengerti perkataan Sari, ia menatap ke dalam kubah. Ia hendak membenturkan kepalanya ketika Sari mencegahnya kembali melakukan hal konyol.
"Tunggu!"
"Kalian mundurlah!" Sari memerintahkan Doni dan Pak Agus untuk mundur ke jarak aman. Sengkayana muncul di tangan kanan Sari, ia mendekati kubah mencari dan merasakan energi kubah dengan tangan kirinya.
"Dapat!"
Sari mundur beberapa langkah, energi Sengkayana meluap bersiap menghancurkan pagar gaib. Ia mengayunkan Sengkayana dengan cepat ke lapisan luar kubah dan membuat membuat celah kecil.
Pagar gaib itu tidak merespon hanya memendarkan cahaya keemasan yang menyilang, Sari menyeringai. Energi gaib Sengkayana terkumpul di tangan kirinya, kemudian ia melemparkan bola energi ke dalam celah kecil.
Tak lama retakan-retakan kecil terbentuk dari celah menjalar hampir ke seluruh sisi. Pagar gaib itu pun hancur seketika. Menggetarkan tanah seperti Lindu kecil.
Lelembut kepala Shinta melesat masuk menerobos sisa pagar gaib tanpa menunggu aba-aba Sari. Ia seolah tak sabar ingin bersatu dengan tubuhnya. Sari mengikuti lelembut itu, membiarkannya menunjukkan letak tubuhnya disembunyikan.
Sebuah rumah kosong di tepian hutan, tampak tak terawat dengan rumput ilalang yang menghiasi disana sini. Atapnya bahkan sudah hilang sebagian, lelembut itu berputar menunggu kedatangan Sari.
"Mereka menyembunyikan tubuhmu disini?" Sari bertanya saat mendekat.
Ia tidak menjawab, tapi dari arah putarannya Sari memahami maksudnya. Pak Agus dan Doni menyusul mereka.
"Disini letak tubuhnya?"
"Aku yakin begitu,"
Sari menatap salah satu sudut ruangan dalam gelap malam. Mata tak biasanya mampu melihat dalam gelap dengan baik. Ada gundukan tanah yang hampir saja rata dengan beberapa rumput liar disana. Kepala Shinta terus berputar diatasnya.
Sari menunjuk ke arah dimana kepala milik Shinta berputar. Mereka mendekat, Sari kembali memeriksa sekitar. Aman.
Ada selubung gaib tipis yang sengaja dipasang untuk menjaga tubuh Shinta. Sari hanya perlu menggoreskan Sengkayana mengelilingi tanah yang dimaksud. Cahaya tipis keluar dari goresan Sengkayana membuka tabir yang menyelimuti tubuh asli Shinta.
Tanah itu perlahan membelah, mengeluarkan seberkas cahaya yang menyinari kepala milik Shinta. Cahaya itu semakin terang seiring dengan munculnya siluet tubuh wanita secara utuh dari dalam cahaya.
Sari tersenyum lega, kini Shinta tidak lagi menyeramkan. Ia kembali ke wujud asli manusia yang cantik jelita. Tidak terlihat sedikitpun luka ditubuhnya.
"Terimakasih mbak Sari," Shinta tersenyum, dan menoleh ke arah pak Agus.
"Terimakasih juga pak Agus, sudah menjaga bapak dan ibu,"
Air Mata pak Agus merembes tak tertahan menahan haru. Gadis tak berdosa di depannya ini harus mengalami fitnah dan siksaan keji hanya karena sepele, cinta.
"Istirahatlah dengan tenang sekarang, aku akan mengurus sisanya!" Pak Agus mengusap pipinya dan kembali berkata,
"Lupakan dendammu Shinta, sudah cukup kau tersiksa. Serahkan pada kami!"
"Ta-tapi …," Shinta ragu untuk melakukannya, ia sangat ingin membalas dendam pada orang-orang yang telah merenggut paksa nyawanya.
"Pak Agus benar Shinta, balas dendam tidak akan menyelesaikan masalahmu. Kau akan berubah menjadi roh jahat selamanya, apa kau mau?" Sari sependapat dengan pak Agus.
"Aku akan pastikan mereka menerima hukumannya!"
Shinta menurut, ia pun menghilang bersamaan dengan suara lembutnya.
"Aku serahkan semua pada kalian,"
"Jadi, kita ngapain sekarang?" Doni bertanya pada istri cantiknya yang masih menatap jauh ke arah Shinta menghilang.
"Pagar gaib telah runtuh, dukun itu pasti sangat marah padaku! Jadi …,"
"Kita kunjungi dia sekarang?" sambung Doni cepat.
Sari pun terkekeh, suaminya itu benar-benar memahaminya. "Shall we do that?" ( Apa kita harus melakukannya?)
"Ya, kalau kamu mau beb lagipula ini masih terlalu sore. Sayang kalo harus pulang sekarang?"
"Mas Doni, ini sudah jam dua pagi hampir jam tiga malah kok bilang nya sore?" Pak Agus pura-pura tak mengerti dengan perkataan Doni.
"Pak Agus, kami pantang pulang sebelum ayam berkokok!" jawab Doni dengan lirikan mata nakal ke arah istrinya.
"Hhhm, sak karepmu wes mas Nek ngono! Aku tak muleh wae, meh lapor pak Rt! Shinta ditemukan!"
Pak Agus keki melihat tingkah pasangan di depannya. Tanpa menunggu jawaban pak Agus melenggang meninggalkan Sari dan Doni.
Ia berencana meminta bantuan beberapa warga yang peduli pada keluarga pak Hisyam untuk membantunya menggali kuburan Shinta. Menyempurnakan kematiannya dan menguburnya dengan layak.
Sementara Sari dan Doni berencana mengunjungi sang dukun yang melindungi ketiga pemuda tak bermoral yang telah menghabisi Shinta dengan keji.