
Sore itu Sari dan Doni mendampingi Saka menghadiri acara penyambutan peserta turnamen yang sekaligus merayakan hari ulang tahun Pandji. Halaman depan rumah sudah dipenuhi tamu undangan untuk berpesta.
Anak-anak muda yang berbakat dari 32 kesatrian lama dan 3 kesatrian baru termasuk milik Saka, berkumpul dan membaur menjadi satu. Ada yang membicarakan turnamen besok ada juga yang membicarakan wanita dengan gairah muda mereka. Para kesatria muda yang penuh semangat.
Sari hanya tersenyum mendengar ocehan mereka tentang wanita.
"Ya … ya, nikmati saja masa ini guys. Lihat besok apa kalian masih mampu tersenyum dan tertawa seperti ini," ujarnya lirih.
Wajah cantik Sari cukup menarik perhatian beberapa peserta muda yang dengan nekatnya menggoda Sari membuat Doni sedikit cemburu.
"Beb, bisa nggak sih jangan menarik perhatian mereka?" keluh Doni kesal dan melirik tajam pada sekelompok pemuda yang jelas sedang membicarakan istri cantiknya itu.
"Hei, cantik itu anugerah sayang. Bukan salah saya kalo mereka suka, ini warisan mom sama dad!" jawab Sari setengah berbisik.
"Iya, aku juga tahu kalo itu! Risih liat mereka terus ngeliatin kamu, kek kucing garong yang liat ikan segar di depannya!" Doni kembali memberikan tatapan tajam pada mereka.
"Tuh liat, mereka ngeliatin kamu dari ujung kaki sampe ujung kepala! Bikin keki!" sungut Doni tak ada habisnya membuat Sari tertawa kecil.
"Ok, sini deh!"
Sari membingkai wajah suaminya dengan kedua tangannya lalu mencium lembut bibir suaminya tanpa peduli pandangan tamu undangan lain.
Membuat sekelompok pemuda yang sedang memperhatikannya melongo dan langsung bersiul menggoda Sari dan Doni. Perlakuan Sari yang tiba-tiba itu tentu saja membuat Doni bahagia, seolah mentasbihkan bahwa Sari adalah miliknya.
Sari mengedipkan sebelah mata pada sekelompok pemuda yang masih bersiul dan menggodanya seraya berkata,
"He's my husband, ok?!"
Perkataan Sari membuat para pemuda itu seketika terbelalak dan malu sendiri, Sari tertawa melihatnya.
"I am," Sari tertawa.
Tawa Sari terhenti ketika ia menatap seorang gadis cantik yang menjadi pusat perhatian juga dalam pesta. Gadis itu tampak mempesona dan sangat menonjol jika dibandingkan yang lain. Ia sedang berbicara dengan seorang pemuda tampan.
"Beb, ada yang aneh sama mereka," Sari memberikan isyarat pada Doni agar melihat ke arah depan persis di depan mereka.
"Hhm, pemuda itu punya aura gelap. Dia menggoda gadis cantik itu rupanya, tapi bukannya yang di sebelah pemuda itu harusnya pacarnya ya?" tanya Doni heran.
Doni menunjuk pada gadis yang juga cantik disebelah pemuda itu. Sari mengangguk samar, ia memperhatikan sosok gadis yang berdiri terpaku tanpa ekspresi itu.
Tatapan matanya kosong, seperti orang yang terkena hipnotis ehm ... bukan gendam mungkin, jahat bener itu anak laki-laki! nggak menghargai wanita sama sekali!
Sari meminum pelan jus jeruk yang ada di gelasnya. "Mereka sedang adu kekuatan, mana sihir pemuda itu sedang digunakan untuk menutup jalan jiwanya … eeh, tunggu dulu!"
Sari terkesiap menyadari hal itu, ia penasaran siapa gadis yang sedang beradu pandang dengan pemuda beraura gelap itu. Ia bisa melihatnya dengan jelas jika pemuda itu sedang berusaha mengalahkan si gadis.
Aneh, apa mereka saling menghipnotis? Atau saling serang?
Sari berjalan perlahan memutari meja untuk melihat lebih jelas gadis cantik yang memiliki kekuatan itu. Sari terkejut melihat kilatan merah yang tertangkap mata olehnya.
Dia … mata itu, apa dia yang dimaksud mas Al sebagai putri angkatnya? Mikaila?
Sari terus memperhatikan keduanya dari jarak jauh, ia tidak mau mendekat dan mencampuri urusan mereka berdua. Mengamati adalah tujuan Sari datang ke pesta itu.
Pemuda itu tampan tapi jiwa tergadaikan pada iblis, bodohnya dia! Hanya demi menguasai dunia memakai kekuatan iblis!
Ingatan Sari melayang pada Airlangga, kesedihan dan keabadian yang tidak sengaja ia dapatkan membuatnya harus hidup dalam dendam selama puluhan tahun. Iblis tampan bernama Airlangga itu dengan liciknya memanfaatkan dirinya demi keuntungannya sendiri.