
Hanya butuh waktu sepersekian detik Sari kembali ke Pakualaman. Dimana kediaman Alaric dan Candika saling berhadapan. Bimasena memberikan kode pada yang lain untuk berhenti beberapa meter dari rumah Candika.
"Sebaiknya kita mengamati dari sini saja Sar! Ini jarak teraman,"
Bimasena menurunkan Sari perlahan di salah satu atap bangunan berlantai dua tak jauh dari Hargo Baratan.
"Aku rasa juga begitu. Terlalu dekat bisa berbahaya,"
Berdiri di ketinggian, menatap tajam dan memperhatikan dengan mata tak biasa miliknya ke Hargo Baratan. Rumah yang diselimuti kabut tipis kehitaman. Aura negatif pekat dirasakan Sari membuat kulitnya terasa sedikit nyeri.
"Mahesa, apa ada info kamu dapatkan?" tanya Sari pada Mahesa yang seperti mencium sesuatu di udara.
"Hawa kematian," jawab Mahesa lirih.
"Maksudnya?"
"Para pemuda itu menggunakan sihir hitam yang sangat dilarang selama ribuan tahun. Mereka membuat kesalahan dengan menggunakan kekuatan iblis," Mahesa menerangkan.
"Kandra?" Sari kembali bertanya pada salah satu penjaganya.
"Kamu ingat portal dimensi yang terbuka beberapa waktu lalu? Aku yakin itu ulah mereka, energinya sama dan aku yakin tak lama lagi mereka akan jauh datang lagi dengan kekuatan besar!" jawab Kandra memejamkan mata,
Sari kembali menatap rumah keluarga Candika. "Bodohnya yang melakukan perjanjian itu! Dia sama saja menyerahkan keluarganya pada kematian, iblis tidak akan pernah menepati janjinya!"
Dari tempat Sari berdiri tampak beberapa murid Hargo Baratan masih terjaga dan berada di pendopo kesatrian miliknya. Sari menajamkan matanya untuk melihat lebih jauh. Satu orang yang ia kenali adalah Binatara dan beberapa lainnya sedang berbicara dengan serius.
"Lebih baik kita tidak ikut campur masalah ini Sar, ini adalah bagian takdir dari kesatria baru." Bimasena mengingatkan.
"Aku tahu, mereka bukan bagian dari Airlangga. Makhluk satu itu belum juga terpancing keluar dari persembunyiannya,"
"Mungkin belum, tapi aku yakin dia juga ikut melakukan perjanjian itu hanya saja dia menunggu waktu yang tepat!" sahut Bimasena.
Sari bisa melihat kekuatan jahat yang menyusup di tubuh para pemuda pilihan Hargo Baratan. Mereka masuk dan bersemayam di tubuh para kesatria muda itu lewat tujuh lubang dikepalanya, mengerikan.
"Lihat cara mereka menguasai para pemuda itu, licik sekali! Bahkan para pemuda itu tidak sadar mereka akan mati segera setelah para iblis ditubuh itu kalah!"
Sari ngeri membayangkan apa yang terjadi pada mereka tapi takdir telah mereka pilih dengan kewarasan yang mungkin hanya berkisar satu ons saja dari otak mereka.
Sari beralih ke rumah keluarga Alaric, kubah berbentuk Piramida itu telah menjaga kediamannya. Kubah yang dibentuk dengan energi lanjaran.
"Kita harus mengunjungi seseorang kan?"
Sari segera menaiki Bimasena, dan melesat bersama yang lain mengunjungi Giandra. Pemilik empat penjaga yang serupa dengan milik Sari.
Para penjaga Sari dan Giandra memiliki kemiripan yaitu sama sama memiliki empat penjaga berbentuk maung, yang membedakan hanya warna saja. Milik Gia berbentuk seperti harimau loreng pada umumnya dengan satu maung putih sebagai pemimpin sementara Sari semuanya berwarna putih.
...----------------...
Sari berhasil masuk ke dalam kubah pelindung setelah sebelumnya meminta izin pada pemiliknya, Alaric. Ada yang harus Sari sampaikan pada gadis kecil berusia 11 tahun itu dan Al telah menyetujuinya.
Giandra baru saja merapikan selimutnya, mematikan lampu kamar dan bersiap tidur saat ia mendengar lagi suara geraman dan dengkuran binatang. Jantungnya seketika berdebar lebih kencang.
"Siapa disana!" tanyanya dengan takut-takut.
Ia merapatkan dirinya dan memegang kuat selimut bersiap menariknya ke atas untuk menutupi wajahnya.
"Jangan ganggu Gia! Gia mau tidur, kalo bandel nanti Gia panggilin mas Pandji!" serunya memberikan peringatan.
Kali ini suara geraman macan terdengar keras dan mengancam di telinganya membuat Gia gemetar dalam gelap. Tangannya meraba-raba sesuatu untuk dilemparkan ke arah suara geraman tadi.
Lampu kamar tiba-tiba saja menyala dan Sari telah berdiri disana. Gia hampir saja berteriak dan hendak melempar bantalnya pada Sari ketika Sari dengan segera menurunkan cadar dan membuka tudung kepalanya.
"Hai Gia sayang?" sapa Sari dengan senyum ramah.
Gia yang masih ketakutan menatap Sari dengan bingung. Dia masih terlihat takut dan mendekatkan dirinya pada headboard ranjang.
"Siapa kamu?!" tanya Gia dengan takut-takut.
Sari berjalan mendekati Gia dan tersenyum, sementara Gia semakin mundur menjauhi Sari.
"Kamu bisa panggil saya Aunty Sari, saya teman ayah juga ibunda Gia,"
Gia masih belum menjawab, ia takjub melihat kecantikan Sari dan juga kemunculan tiba-tibanya.
"Aunty tahu darimana nama saya Gia?"
"Kan tadi aunty udah bilang kalo aunty teman ayah dan ibunda Gia," ujar Sari lembut mencoba menyentuh tangan Gia yang masih takut didekati.
"Ibunda melarang Gia bicara dengan orang asing seperti Aunty!" katanya bersembunyi di balik selimut.
Sari tertawa, Selia mengajari putrinya dengan baik. Sari akhirnya memanggil keempat penjaga nya. Gia terkejut karena para penjaga Sari mirip dengan yang ia miliki.
"You have the guardians too?" (kamu punya penjaga juga?)
"Yes, I'm! Do you want to touch one of them?" tanya Sari lembut.
(tentu saja, apa kamu mau menyentuh salah satu dari mereka?)
Gia perlahan keluar dari selimutnya dan menuruni ranjang. Awalnya ia ragu dan menatap Sari tapi Sari mengangguk dan tersenyum pada Gia. Ia memberi kode pada Bimasena untuk mendekati Gia.
"Ini pemimpin mereka namanya Bimasena,"
Gia tampak sedikit takut, tangannya menggantung ragu hendak menyentuh Bimasena atau tidak.
"Sentuhlah Gia, dia baik sama kok … sama seperti …,"
"Alpha?" tanya Gia menatap takjub pada Bimasena.
Sari tertawa kecil, "Ya, dia sama seperti Alpha."
Tinggi Bimasena bahkan hampir sama dengannya. Gia menatap manik mata maung bodas andalan Sari, ia melihat dirinya dan keempat maung penjaganya.
"Waaaa … amazing!" Gia berteriak kegirangan.
"Aunty tahu kalau Gia juga punya penjaga?" tanya Gia dengan mengerjap tak percaya.
Sari mengangguk, "Tentu saja, mereka ini adalah keluarga begitu juga dengan penjagamu Gia,"
Gia mendekati Bimasena dan mengusap bulu lehernya, membuat Bimasena kegelian.
"Bulunya lembut sekali Aunty sama seperti milikku. Boleh aku menungganginya?" tanya Gia dengan mata berbinar.
"Tentu, Gia mau jalan-jalan sama kami?" Sari bertanya untuk memastikan kembali.
Dengan semangat Gia mengangguk. Ia langsung menaiki punggung Bimasena tanpa malu-malu lagi. Sari senang melihat Gia tidak lagi takut dengannya.
"Ayo kawan kita ajak Gia jalan-jalan sebentar!"
"Dimensi lelembut atau padang rumput?" tanya Kandra saat Sari naik ke atasnya.
"Padang rumput, saya nggak mau kena tegur mas Al kalo bawa dia ke jagad lelembut," jawab Sari seraya memacu Kandra yang diikuti Bimasena dan yang lainnya.
Mereka melintasi dimensi, pergi ke Padang rumput tempat pertama Sari bertemu dengan keempat penjaganya. Tempat dimana para penjaga dari keturunan terpilih itu tinggal.
Ada yang harus aku berikan padamu Gia, sebagai salah satu pewaris keempat maung penjaga … maaf mas Al ini harus aku lakukan demi takdir yang akan Gia jalani sebentar lagi!
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...hai...selamat malam, selamat beristirahat teman2...
...maaf baru hadir menyapa, semoga bisa menghibur malam ini.......
...jaga kesehatan selalu yaa...cuaca sedang tidak mendukung, angka covid di ibukota jg naik.lagi...jadi keep healthy and save semuanya......
...cium sayang dari saya....😘...
...agak jauhan tapi yaaa...jgn deket2 takut nyetrum🤪😂...