Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Kidung Pemanggil Roh



Sari kembali tenggelam di ruang kerjanya, membaca beberapa buku kuno yang berhubungan dengan kebangkitan iblis. 


Benang merah masih belum ditemukan Sari, petunjuk dan beberapa informasi penting yang didapatkan dari lelembut yang ia temui belum mengerucut pada satu tempat dimana Airlangga bersembunyi.


"Kepalaku pusing bener, segini banyak tulisan belum nemu juga titik temunya," gumam Sari sembari memijat kepalanya.


Mbak Asri masuk ke dalam membawakan Sari secangkir kopi sesuai keinginannya.


"Mbak, ini kopinya … low sugar kan? Sama ini roti ganjel rel nya juga udah mbak Asri beliin di pasar tadi," mbak Asri meletakkan cangkir kopi dan camilan itu di meja.


"Hhm, ya mbak makasih … mbak, bisa pijetin Sari bentaran nggak? Pegel nih!" pinta Sari yang langsung duduk di sofa empuk kesayangannya.


"Wes kene mbak, apa coba yang nggak bisa buat mbak Sari? Mau pijet mananya mbak?" tanya Mbak Asri yang dengan cekatan mulai memberikan pijatan lembut.


"Kaki sama bahu ni pegel bener!" 


Mbak Asri tersenyum melihat Sari merajuk, dimatanya Sari adalah majikan yang luar biasa baik. Disaat dirinya kesulitan mencari Sari datang bagaikan dewi penolong lewat tangan mbak Pur. Sari juga membiayai kedua anaknya sekolah serta membantunya saat kedua orangtuanya harus dirawat dirumah sakit.


Tidak ada yang mengira jika Sari adalah Dewi kematian bagi para lelembut. Rahasia yang dijaga oleh mbak Pur dan mbak Asri, dua orang kepercayaan Sari.


"Mbak, apa nggak capek tiap malam keluar pulang sampe pagi?"


"Ya capek," jawab Sari seraya membuka buku bacaan dan menikmati pijatan di kakinya.


"Mbak Sari tuh nyari apaan sih sebenarnya? Apa nggak habis-habis ya lelembutnya?" Mbak Asri bertanya dengan polosnya.


"Mbak, kalo lelembut di dunia habis lah kiamat kita mbak! Sampai akhir zaman juga lelembut, dari bangsa jin dan setan itu banyak nggak ada habisnya," sahut Sari geli.


"Weh, lha iya yo mbak lali aku! Eh iya mbak katanya kalo ada suara anak ayam malem-malem itu ada si mbak Kun datang ya? Bener nggak itu mbak?"


"Eeh, kata siapa itu?" Sari melihat sekilas ke wajah mbak Asri.


"Ya kata orang-orang mbak, itu tetangga sebelah kemarin ketakutan malam-malam denger suara anak ayam. Apalagi anaknya yang balita terus rewel lho mba?!"


Mbak Asri kemudian bercerita tentang hal yang ia dengar di warung tak jauh dari rumah Sari.


Beberapa hari belakangan ini satpam kompleks juga sedikit direpotkan dengan keresahan warga yang ketakutan dengan isu pocong dengan wajah menghitam seperti arang yang sering berkeliaran dimalam hari. Ditambah lagi kehadiran kuntilanak yang meresahkan.


"Eeh, bentar mba! Itu si pocong sama kuntilanak lagi reunian? Kenapa bisa muncul bareng di kompleks kita?" 


Sari berhenti membaca, ia kemudian memperhatikan cerita mba Asri. Meski sedikit tidak masuk akal bagi Sari karena kemunculan mereka yang bersamaan.


"Iya kayaknya lagi reunian mbak!" sahut mbak Asri menahan tawa.


"Mbak, bisa jadi itu ulah pencuri yang sedang mengintai rumah - rumah di kompleks ini lho. Mereka bikin kita ketakutan, jadi nggak berani keluar rumah. Biar melancarkan aksinya!" kata Sari mencoba menjelaskan secara logis.


"Tapi mbak, itu sampe si pak satpam ketakutan beneran lho mbak! Dia juga minta tolong sama pak RT buat bantuin jaga malam." Mbak Asri dengan mata sedikit mendelik saat bercerita.


Ia kembali melanjutkan perkataannya, "Semalem katanya bang Ipul juga kena tuh dikerjain si mbak Kun!"


"Bang Ipul siapa?" Sari mengerutkan keningnya.


"Itu mbak tukang nasi goreng keliling yang suka lewat depan rumah kalo malem!"


Mbak Asri lalu menceritakan kejadian yang menimpa bang Ipul dan petugas jaga ronda lainnya. Kebanyakan dari mereka diganggu setelah lewat tengah malam atau mendekati subuh. 


Jika bang Ipul digoda dengan cara memesan makanan dan menghilang, lain halnya dengan bapak-bapak petugas ronda dan satpam kompleks. Mereka justru sering diganggu pocong berwajah hitam yang dengan isengnya suka naik di atas tembok rumah kosong.


"Tuh mbak Sari, ngeri banget to!" Mbak Asri menyentuh tengkuknya yang merinding.


Sari meminum kopi nya yang mulai dingin lalu menjejalkan sepotong kecil kue ganjel rel yang manis dan beraroma rempah.


"Terus, saya harus gimana? Bukan urusan saya juga kali mbak!"


"Tapi kan mbak Sari bisa bantuin warga yang ketakutan," ujar mbak Asri tidak mengerti.


"Hhm, sepanjang mereka tidak mengusik saya dan masuk ke area sini yaa … saya nggak mau terlibat mbak. Nggak semua masalah lelembut saya tangani mbak Asri, yang penting dan memang mendesak aja," sahut Sari menjelaskan.


Pintu ruang kerja tiba-tiba saja terbuka dengan kasar, mbak Pur tergopoh-gopoh masuk ke dalam.


"Mbak … mbak Sari, itu tolongin si Amri!"


Sari yang bingung melihat mbak Pur berteriak hanya bisa menurut saat tangannya ditarik mbak Pur keluar ruangan.


"Eeh, kenapa sama mas Amri mbak?!" Sari sedikit kewalahan mengikuti langkah cepat mbak Pur.


"Udah nanti aja ceritanya, yang penting mbak Sari ikut saya dulu!" seru mbak Pur dengan nafas tersengal.


Sari menurut dan mengikuti langkah kaki mbak Pur hingga ke halaman depan. Hawa aneh menyapanya, Sari bisa merasakan keganjilan yang tak biasa.


Dihadapannya Amri, sopir merangkap tukang kebun Sari duduk belakangi dirinya. Sari heran dengan sikap Amri yang tak biasa.


"Mas Amri?" sapa Sari perlahan, ia berjalan mendekati Amri dan menepuk bahunya.


"Mas Amri kenapa duduk disini?" tanya Sari sekali lagi.


Amri menepis tangan Sari, tangannya bergerak ke sisi kiri seolah sedang merapikan rambut panjang dan memilihnya.


"Mas Amri …," Sari kembali menyapa


Amri tidak merespon ia malah melantunkan kidung yang tidak dimengerti Sari. Kidung itu terasa begitu menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya. Merasuki dan membawa ke alam lain. Kidung yang meremangkan bulu kuduk orang biasa.


Bulkukus menyan putih,


kembang pancar sari wangi


witmaning atena putih,


Kahamba kahambu


Pang jugjugeun   jirim kaula rasa.


…….


Lamat-lamat Sari mendengar dari kejauhan seseorang melantunkan mantra pemanggil roh. Mantra yang membuatnya gerah dan bersiap menyambut tamu tak diundang.