Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Debut Berburu Mika



Malamnya Mika berkumpul di meja makan besar bersama yang lainnya. Kania duduk bersebelahan dengan Mika. Eric dan Saka duduk berhadapan dengan kedua gadis cantik.


"Apa rencanamu besok Mika?" Saka bertanya memecah keheningan.


"Ehm, besok? Entahlah, aunty mengajakku jalan-jalan malam nanti. Kalau untuk besok …,"


"No way?!" Kania memotong perkataan Mika. "Kakak, Je bent niet eerlijk tegen mij!" (Kau tidak adil padaku!)


 Kania memprotes tindakan Sari yang tidak mengajaknya. Sari melirik ya sebentar lalu dengan cueknya menyuapkan selat solo dalam mulutnya.


"Kau yakin ingin ikut kami jalan-jalan? Berpatroli malam, Weet je zeker dat je wilt komen?" (Kau yakin mau ikut!)


Kania langsung menyadarinya, ia pun meralat protesnya tadi. "Ah, itu? Aku lebih memilih tidur saja,"


Mika bingung, ia belum paham dengan apa yang dimaksud berpatroli? Pikirannya sedikit terganggu.


Apa keluarga ini memiliki kebiasaan aneh?


"Mika, don't do that! Its not weird!" (Jangan lakukan itu Mika! Ini tidak aneh!)


"Aunty membaca pikiranku? Seperti ayah Al?" Tanya tak percaya dan Sari hanya mengedikkan bahu.


Gosh! Kalian benar-benar orang tua yang …, Mika hendak mengumpat dalam hati.


"Jangan lanjutkan itu sayang! Ayah Al akan sangat marah jika ia tahu apa yang kau pikirkan!"


Mika terbelalak tak percaya. Ia kesal tapi sebagai tamu yang baik Mika menahan diri. Andai itu dirumah Pandji pasti Mika segera pergi undur diri.


Eric tersenyum melihat ekspresi masam Mika. Entah mengapa ia begitu terpesona pada gadis yang duduk di hadapannya itu. Mungkin karena sifatnya yang mirip dengan Sari, atau mungkin memang ada sesuatu dalam diri Mika yang menarik perhatiannya.


Usai makan malam, mereka duduk santai di rooftop menikmati cerahnya malam berbintang. Sari meletakkan cangkir kopi untuk Doni. Di tangannya masih ada secangkir coklat hangat.


Sari mendekati Mika yang sedang melamun menatap jauh ke depan.


"Kau merindukannya?" Sari bertanya dan mengulurkan cangkir medium berisi coklat panas pada Mika.


Mika tersenyum kecil, meniup perlahan kepulan asap tipis lalu meminumnya. "Merindukan siapa aunty?"


"Siapa lagi, pemuda tampan dengan wajah mengantuknya yang khas."


"Pandji? Aunty salah, dia hanya … adikku," mika menjawab dengan gamang, memang  ada sedikit rasa rindu di hatinya pada pemuda yang selama ini mati matian dia lindungi. 


Mika menyayanginya tapi ia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Wajah Pandji memang tidak bisa lepas dari pikirannya. Hanya saja terlalu banyak perbedaan diantara mereka. Tingkat kematangan dan kedewasaan keduanya jauh berbeda. 


Mika cukup sadar diri dengan posisinya, meski ia tidak menampik ada bagian dari dirinya yang menginginkan Pandji selalu ada untuknya. Sebagai kekasih misalnya, uups …,


Sari tersenyum dan kembali bicara. "Kau tahu Mika, aunty punya pepatah yang cocok buat kamu!"


Mika menoleh pada Sari dan mengerutkan keningnya, ia menunggu Sari kembali bicara.


 "Kamu mau tahu?" Kini Sari menatap lembut Mika, "Witing tresno jalaran Soko ngglibet!" 


Mika tergelak mendengarnya, "No! Mana ada pepatah gitu aunty!"


Sari memasang ekspresi seperti orang yang sedang berpikir keras. "Ehm, ada kok! Kamu contohnya!"


"Cinta akan muncul perlahan dari kedekatan yang terjalin diantara kalian, dan itu wajar sih! Aunty juga pernah muda, aunty pernah merasakan masa-masa seperti itu!"


Keduanya terdiam, menikmati hembusan angin malam yang semakin dingin. Cukup lama Mika terdiam, perkataan Sari membuat Mika kembali berfikir tentang rasa yang tumbuh subur dalam hatinya.


"Aunty, can I ask you something?" 


Sari menoleh dan mengangguk.


"Kenapa aunty masih terlihat sangat muda padahal umur aunty sudah mencapai kepala empat!"


Sari terkejut dengan pertanyaan tak terduga dari Mika. Ia menatap Mika dan itu membuat Mika salah tingkah. "Ehm sorry, kalo aunty keberatan, tidak perlu menjawabnya. Maaf!"


Sari terdiam sesaat, lalu menjawabnya datar. "Itu karena aunty … immortal!


Ada kepiluan yang tersirat dalam penekanan kata terakhir Sari. Mika terbelalak tak percaya, "Apa?!"


"Aku immortal Mika, itu sebabnya aku tidak berubah sama sekali. Aku dan Airlangga berasal dari jenis yang sama."


Mika terperangah tak percaya. Melihat gurat kesedihan di wajah Sari membuat Mika menyesal bertanya. "Aunty, maaf kalau pertanyaan ku tadi membuatmu sedih. Aku tidak bermaksud untuk …,"


"Sudahlah, lupakan! Aunty nggak sedih kok!" Sari tersenyum dan melirik jam di tangannya. "Bersiaplah, waktunya kita berburu!"


"Berburu? Sekarang? Tapi ini sudah larut malam aunty?!" Protes Mika. "Mana bisa kita melihat buruan dalam gelap, aunty nggak mungkin berburu rusa kan?!" Lanjutnya lagi sembari mengekori Sari masuk ke dalam rumah, meninggalkan yang lain.


"Siapa bilang kita mau berburu rusa?" Sari mengerling jenaka.


Jam menunjukkan pukul satu dini hari, waktu dimana para lelembut sedang tinggi-tingginya beraktivitas. Sari mengajak Mika menembus batas dimensi. Keduanya memakai jubah hitam dan bercadar. Dua belati milik Mika terselip di pinggangnya.


Mata Mika berkilat merah, seperti elang yang mengawasi target di malam hari. Ia melihat kelebatan bayangan tak jauh dari tempat mereka berdiri. 


"Jadi maksud aunty kita berburu ini?" 


"Yup, kita berburu lelembut nakal menggoda manusia!"


Kelebatan bayangan itu kini tampak semakin jelas. Ia berjalan, oh tidak lebih tepatnya melayang beberapa sentimeter dari tanah dan mengeluarkan suara seperti orang menangis tersedu sedu. Bungkusan kain putih yang bergerak cepat.


"Aunty, apa itu? Apa aku nggak salah lihat? Itu pocong!" Mika berbisik, ini pengalaman baru baginya. Jika bersama Pandji ia membasmi iblis, bersama Sari ia memburu lelembut nakal.


"Namanya Burong Tujoh, dia lelembut nakal pengganggu anak kecil!"


Mika terbelalak tak percaya, sosok yang diyakini sebagai pocong ternyata memiliki nama yang berbeda ditempat yang berbeda pula.


"Siap untuk debutmu Mika?" Sari bertanya, tapi belum juga Mika menjawab Sari sudah menariknya cepat menghadang Burong Tujoh.


Aunty, haruskah aku katakan padamu kalau aku takut!


...☘️☘️☘️☘️...


...siang semuanya...happy weekend yaa, Mika dan Sari menemani weekend teman2 kali ini, semoga terhibur yaa......


...baiklah otw tidur kalo gt, nice weekend semuanya😴😪...