Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Cantik yang Mematikan



Belum juga sampai ke kota Solo, Sari sudah merasakan sesuatu yang ganjil terjadi. Kekuatan yang ditinggalkannya sebagai hadiah untuk Giandra mulai terkoneksi dengan dirinya.


Yah, Sari menghadiahkan Gia sedikit kekuatan miliknya. Kekuatan yang nantinya akan melindungi Gia. Sari dan Giandra terhubung dengan khodam penjaga masing-masing yang hanya dimiliki oleh orang-orang pilihan.


Gia, jadilah pelindung ibundamu! Aku harap kekuatan itu bisa digunakan dengan baik!


Setibanya di sebuah rumah besar di pinggiran kota Solo, Sari memilih untuk bermeditasi dalam kamar. Ia harus segera melintasi dimensi untuk menjaga Mikaila dan juga Srikandi kecilnya, Giandra.


"Beb, aku pergi dulu ya! Aku nggak mau diganggu dulu!" pesannya pada Doni sebelum ia masuk ke alam lain.


"Sesuatu terjadi?" tanya Doni yang ikut duduk bersila di sebelah Sari.


"Sepertinya begitu, kawanan iblis itu mulai menyerang keluarga mas Al. Peperangan ksatria baru segera dimulai. Aku harus menemui Bayu!" 


"Hati-hati, kembali dengan selamat! Ingat jangan mencampuri takdir mereka tugasmu hanya mengawasi dan menjaga Mikaila juga Giandra!" Doni berpesan pada Sari sesaat sebelum Sari masuk ke dimensi lain.


...----------------...


Sari kembali ke padang rumput luas tempat keempat penjaganya sedang memulihkan tenaga. Luka yang diderita Kandra rupanya juga sudah pulih, tak terlihat sedikitpun goresan di punggungnya.


Keempat penjaga Sari tengah berlatih dalam wujud manusia mereka. Kedatangan Sari membuat keempatnya menghentikan latihan.


"Waktunya tiba, serangan iblis secara terbuka sudah terjadi," ujar Sari.


"Apa kita akan membantu?" tanya Bimasena pada Sari.


"Jika dibutuhkan dalam kondisi mendesak!"


Sari kembali berkata, "Giandra harus belajar menjadi kesatria wanita yang kuat meski usianya masih belia. Aku justru mengkhawatirkan Mikaila," 


"Ada apa dengannya? Dia cukup tangguh apalagi dalam dirinya ada energi dari roh pusaka yang tidak bisa dianggap remeh." Bimasena menanggapi kekhawatiran Sari.


"Hhhm, entahlah. Aku mengkhawatirkan sifat keras kepalanya, kemampuannya memang tidak bisa dianggap remeh tapi … keinginannya untuk selalu melindungi Pandji agak membuatku khawatir."


Kegalauan Sari bukan tanpa alasan. Mika dan Pandji ibarat lem dan perangko yang kemana mana selalu melekat. Tanggung jawab yang diberikan pada Mikaila untuk menjaga Pandji terlalu dihayatinya.


"Keras kepala? Sepertinya aku juga melihat hal yang sama denganmu dulu!" Mahesa menyindir Sari terang terangan.


"Hei, kenapa jadi aku?" protes Sari.


"Bukan, saya lagi ngomongin Bayu! Tuh liat orangnya datang!" tunjuk Mahesa ke arah belakang Sari.


Bayu berjalan menghampiri mereka. Senyumnya mengembang ketika mendengar Mahesa yang tengah menyindir Sari.


"Kenapa kamu senyam senyum sendiri gitu! Ada yang lucu dari saya?" Sari curiga dengan Bayu.


"Nggak, lucu aja. Pengen ketawa ketika bayangan mengingkari pantulannya," jawabnya kalem.


"Energi yang kau hadiahkan pada Gia sepertinya akan berguna untuknya." Bayu duduk disebelah Sari.


"Hmm, dia memang akan memerlukannya sebagai calon ksatria wanita baru!"


"Bayu, apa kau tahu tentang buku Mati? Kabarnya buku itu menjadi incaran para iblis," tanya Sari.


Bayu terdiam sesaat, "Buku Mati, buku kuno yang memuat sihir maha dahsyat. Buku itu diciptakan Welas salah satu putri kembar Mpu Sapta." 


"Mpu Sapta? Apa dia juga kenal dengan kakek Wisesa?" Rasa penasaran Sari membuatnya tak sabar untuk bertanya.


Bayu mengangguk pelan, "Mereka bersahabat, rupanya kakek Wisesa sudah menemuimu? Baguslah, setidaknya dia akan membantu kita suatu hari nanti," 


"Ehm, aku memang butuh bantuan bukan hanya dari bangsa manusia tapi juga para lelembut."


"Kau benar, Airlangga menghimpun kekuatan besar dari bangsa manusia juga siluman. Dia benar-benar menaruh dendam padamu Sar, bersiaplah menghadapi mereka!" Bayu mengingatkan.


Sari terdiam, jalan menuju pertemuannya dengan Airlangga memang terjal. Waktu yang dihabiskan selama 15 tahun terakhir cukup membuatnya lelah dan putus asa. Tapi kini Sari menemukan kesempatan baru. 


Bulan Merah yang jatuh di hari kejayaan setan rupanya juga bertepatan dengan kembalinya Airlangga. Sari tidak ingin melewatkan kesempatan itu untuk segera menemukan Airlangga. Melanjutkan pertarungan abadi mereka yang belum terselesaikan.


"Ayo kita berkunjung ke Pakualaman!" ajak Sari pada yang lainnya.


Hanya perlu waktu sekejap saja, mereka sudah tiba di kediaman Alaric. Dari kejauhan Sari bisa melihat jelas kawanan iblis yang menyerang kediaman keluarga Alaric. Kabut hitam tipis menyelimuti salah satu rumah tetangga mereka.


"Itu basis pertahanannya?" tanya Sari setengah berbisik pada Bayu.


"Sepertinya begitu, lihat ada pemuda yang  membaca mantra sihir hitam disana!" Bayu menunjuk ke arah pemuda tampan yang usianya mungkin sebaya Pandji, putra Alaric.


"Hhhm, iblis yang muncul sama seperti yang bersemayam dalam tubuh Biantara. Berapa banyak mereka sebenarnya?!" tanya Sari dengan suara tertahan.


"Cukup untuk membasmi ras manusia dalam satu malam," jawab Bayu menatap tajam pria yang menyeringai pada wanita cantik dengan dua belati di depannya.


"Apa?! Ini gila, siapa yang memiliki ide memakai sihir hitam mengerikan seperti itu! Apa mereka nggak mikir kalo iblis itu penipu!" Sari seketika kesal apalagi jika mengingat Airlangga.


"Siapa yang tidak tergiur kekuasaan dan kekuatan untuk menguasai manusia lain?" sarkas Bayu pada Sari.


Sari hanya bisa terdiam, apa yang dikatakan Bayu memang benar. Menjadi seorang ksatria dengan kekuatan besar menjadi prestise tertinggi. Mereka yang memiliki kekuatan supranatural terkuat dan tertinggilah yang akan mendapatkan posisi terhormat.


Kelimanya terus memperhatikan pertarungan sengit yang terjadi antara Pandji, Mika, adik Pandji yang bernama Raksa dan kawanan iblis bermoncong yang selalu mengeluarkan lolongan mengerikan. 


Mika melawan kawanan iblis itu dengan gerakan lincah, bergerak kesana kemari, melompat dan menjegal lawannya bahkan tak segan menggorok leher makhluk mengerikan yang bersemayam dalam tubuh manusia. Sari mengulas senyum di bibirnya. Matanya lekat memperhatikan gadis cantik si pemilik energi roh Asih Jati.


Mika, kamu memang luar biasa! Cantik yang mematikan!